Rahim Milik CEO Tampan

Rahim Milik CEO Tampan
Bab 20


__ADS_3

“Awas panas.” Ucap Kai seraya menaruh panci berisi iga yang baru diangkat dari kompor.


“Lily tolong ambilkan kimchi di dalam lemari es. Taruh dan sajikan di meja.” Ucap Ibu.


“Baik Bu.” Lily pun bergegas mengeluarkan Kimchi dan menyajikannya di meja makan.


Semua makanan pun sudah tersaji di meja makan. mereka pun duduk mengelilingi meja makan. Ibu mengambilkan nasi untuk masing masing diantara mereka.


“Ayo dimakan.” Ucap Ibu.


“Selamat makan.” Ucap Lily dan Kai secara bersamaan. Mereka bertiga pun makan dengan lahap.


Di tengah-tengah makan malam itu, Kai pun menjelaskan tentang bagaimana ia bisa mendapatkan kembali perusahaan milik kakeknya dan siapa sebenarnya sosok pengacara Jo itu.


“Kita benar-benar harus berterima kasih padanya. Berkat dia Kai bisa bangkit dan memulai lagi kariernya.” Ucap Ibu sembari menyendok sup tauge.


“Iya Bu. Kai juga sudah berterima kasih padanya. Rencananya Kai juga akan membagi sebagian saham dari perusahaan itu untuknya.” Jawab Kai.


“Ya, memang seharusnya begiu Kai.” Ucap Ibu.


Mereka pun kembali fokus dalam makan malamnya. Hingga tiba-tiba Lily bergumam.


“Kai, kau tidak akan pulang ke rumahmu kan malam ini? kau akan tinggal di sini dan tidur bersamaku kan?” Tiba-tiba Lily bertanya seperti itu. Membuat Ibu dan Kai kaget hingga tersedak.


“Uhuk, kau bicara apa Lily?” Ibu heran dengan perubahan dari sikap anaknya.


“Tidak, aku hanya bertanya saja bu. Kan kata Ibu Kai adalah suamiku. Jika dia adalah suamiku maka kita harus tinggal serumah dong. Bukankah itu yang dilakukan oleh suami istri.” Jawab Lily dengan lugu.


“Iya, tapi...”Ibu tak bisa meneruskan kalimatnya.


“Aku akan pulang ke rumahku malam ini Lily.” Jawab Kai singkat.


“Kalau begitu aku ikut. Aku istrimu, sudah seharusnya aku mengikutimu kemanapun kau pergi.” Ucap Lily bersikeras.


“Aku yakin jika Lily memperoleh ingatannya kembali dia tidak akan seperti ini.” Keluh Kai.


“Biarkan saja dia Kai. Toh ada benarnya juga ucapannya. Dia kan isterimu, dia akan mengikutimu kemana kau pergi. Mungkin dengan bersamamu perlahan-lahan ingatannya akan kembali.” Ucap Ibu.


“Apa ibu tidak sedang bercanda?” Kai tampak bingung.


“Tidak, Ibu serius. Pulanglah malam ini bersama isterimu. Kalian toh masih suami isteri.” Jawab Ibu.


“Tak kusangka Ibu akan mengatakan hal itu.” Kai menghembuskan napas dengan berat.


“Yes. Kau dengar itu Kai?” Ucap Lily.

__ADS_1


“Ya, Ya.” Jawab Kai enggan.


Usai makan malam, Kai pun memutuskan untuk segera pulang karena berita di tv mengabarkan malam ini akan turun hujan. Kai tidak ingin pulang dengan baju yang basah.


“menginap saja untuk malam ini, Ibu khawatir kalian akan kehujanan sebelum sampai rumah.” Ucap Ibu menyarankan.


“Tidak usah Bu. Lagian rumahku dekat dari sini.” Jawab Kai menolak saran dari Ibu.


“Baiklah, kalau begitu bawa payung ini. ibu hanya punya satu. Tapi ibu rasa ini muat untuk berdua. Jaga-jaga jika hujan di jalan.” Ibu menyodorkan sebuah payung berwarna kuning pada Kai.


“Baik Bu. Terima kasih. Ayo Lily, kita pulang sekarang.” Ucap Kai.


“Iya tapi tunggu dulu, jaket ini susah untuk di resleting.” Keluh Lily.


“Aish! Kau ini seperti anak kecil saja. Mana sini aku bantu.” Kai menghampiri Lily.


“Ini.” Lily menunjukkannya pada Kai.


“Kena!” Lily mengecup pipi Kai. Wajah Kai langsung merah padam. Ibu pura-pura tidak melihat kejadian itu.


“Lily, apa-apaan kau ini?” Tanya Kai kikuk.


“Apa?” Jawab Lily pura-pura polos.


“Bu, lebih baik aku tinggalkan saja Lily di sini. aku takut jika sudah sampai di rumah dia akan melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.” Gumama Kai denganw ajah ketakutan.


“Baik Bu, kalau begitu Kai pamit dulu ya Bu.” Kai bersalaman pada Ibu.


“Lily pamit ya bu.” Lily memeluk Ibunya.


“Iya, hati-hati di jalan.” Ucap Ibu.


Mereka pun pergi.


Sepanjang jalan menuju rumahnya Kai Lily tak henti-hentinya menatap wajah Kai. Kai lama-lama merasa risih.


“Kau bisa jatuh jika hanya melihat ke arahku.” Ucap Kai sambil terus berjalan.


“Tak apa, jika aku jatuh kau akan menolongku.” Jawab Lily dengan tersenyum ramah.


“Kau ini kenapa? kau bertindak seolah baru bertemu dengan orang sepertiku.” Ucap Kai dengan perasaan risih.


“Aku tidak apa-apa kok. Aku hanya tak percaya, bahwa laki-laki yang ada di sampingku saat ini adalah suamiku.” Jawab Lily dengan lugu.


“....”Mendengar hal itu Kai langsung tersipu malu.

__ADS_1


“Duar!” Suara petir bergemuruh sangat kencang. Begitu cepat dan keras hingga mengagetkan Lily dan Kai.


“Tidak!” Lily langsung memeluk Kai sambil memejamkan matanya.


“Kau masih sama, takut dengan petir dan akan berlari memelukku seperti saat kecil dulu.” Gumam Kai.


“Apa kau bilang?” Lily langsung melepaskan pelukannya.


“Hah? Tidak. Lupakanlah.” Ucap Kai dengan panik.


“Sudah, ayo lanjutkan jalannya, keburu hujan nanti.” Ucap Kai. Lily pun mengikuti Kai berjalan cepat.


Dan....


Hal yang mereka hindari pun terjadi, hujan turun saat mereka amsih setengah jalan menuju rumah. Kai langsung membuka payung yang diberikan oleh Ibu. Kai pun memayungi Lily.


“Tidak, jangan hanya aku, kau juga harus dipayung. Jika kau kehujanan aku juga kehujanan, jika aku dipayung maka kau juga harus dipayung.” Ucap Lily.


Mereka pun mengenakan payung itu berdua. Mereka terpaksa berjalan berhimpitan karena payungnya kecil. Bahkan sebagian jas Kai basah kehujanan. Belum hujan yang turun semakin deras.


“Lily, kita pegangi payungnya dengan erat ya, atau angin akan menerbangkannya.” Ucap Kai.


Tak sangka jika hujan akan sederas dan selebat ini. belum lagi disertai dengan angin kencang dan gemuruh. Dari tadi Lily terus mengerjapkan matanya karena takut akan gemuruh.


Angin semakin kencang, payung mereka sudah terhempas sana sini. hingga akhirnya payung itu terbalik dan terbawa angin.


“Yaaaah...” Ucap Kai. Payung itu terbang terbawa oleh angin.


“Lily, ayo berteduh di sana dulu.” Seru Kai sambil menunjuk ke sebuah halte di dekat mereka.


“Ya.” Mereka pun berteduh di halte itu.


“Bajumu masah.” Ucap Kai. Ia pun melepaskan matelnya dan mengenakan jaket yang masih kering miliknya ke badan Lily.


“Terima kasih.” Ucap Lily.


“Ya, sama-sama.” Jawab Kai kaku.


“Kai, kau tahu, jika di drama, pasangan yang berteduh karena hujan di halte pada malam hari akan melakukan adegan kiss. Aku lihat tampak sangat romantis, apalagi diantara guyuran hujan yang syahdu.” Ucap Lily.


“Kau ini benar-benar tidak lihat situasi. Ini bukan hujan yang syahdu, melainkan hujan badai disertai gemuruh kencang. Apa kau tak lihat?” Jelas Kai. Ucapannya disusul oleh suara gemuruh petir yang salihng sahut menyahut.


“Hehe, kau benar juga. Tapi, tunggu, lihatlah, itu apa?” Tunjuk Lily. Kai pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Lily.


“....”Ternyata Lily berbohong, saat Kai sedang melirik ke arah lain Lily bergegas mencium bibir Kai.

__ADS_1


Kai benar-benar kaget. Untuk pertama kalinya ia melakukan adegan kiss bersama seorang wanita.


__ADS_2