
“Kau harus memakannya Kai. Ini demi kesembuhanmu.” Ucap Lily sambil mengacungkan sendok berisi obat kepada Kai.
“Aku tidak mau! Pokoknya tidak mau!” Kai bersikeras.
“ckckck!” Pengacara Jo dan isterinya tertawa melihat tingkah mereka berdua.
“Kenapa anda menertawakanku?” Tanya Kai kepada Pengacar Jo.
“Tidak apa-apa. hanya saja, anda seperti anak kecil Tuan. Merengek tidak mau minum obat.” Ledek Pengacara Jo.
“Kalau begitu kau saja yang meminumnya. Kau pikir ini obat biasa hah? Obat ini berbeda dari yang lainnya. Obat ini begitu pahit.” Jelas Kai tak mau kalah.
“Sama saja Tuan. Semua obat memang pahit. Kan Tuan yang sakit, ya berarti Tuan yang harus meminumnya, bukan saya, wkwkwk.” Pengacara Jo semakin terkikik.
“Ayo Kai, hanya satu suapan maka selesai. Oke. Buka mulutmu...”Lily membujuk.
Dengan wajah yang penuh takut Kai mencoba membuka mulutnya.
“Lep!” Akhirnya obat itu berhasil masuk ke mulutnya.
“Telan, jangan dimuntahkan.” Ucap Lily sambil menutup mulut Kai dengan tangannya.
Obat itu pun benar-benar masuk ke tubuh Kai.
“Setelah ini kau pasti sembuh Kai.” Ucap Lily kemudian memasukkan obat itu ke dalam tempatnya.
“Pengacara Jo, sampai kapan aku harus bersembunyi seperti ini?” Tanya Kai yang kini tengah mengalihkan pikirannya dari rasa pahit setelah meminum obat tadi.
“Sampai kau sembuh dan kita berhasil melawan balik Nyonya Kim. Sebelum Nyonya Kim dan anaknya masuk penjara, maka kita tidak aman.” Jelas Pengacara Jo.
“Aku tidak bisa terus menerus diam di tempat tertutup seperti ini.” Kai mulai mengeluh.
“Sabar Tuan, mau bagaimana lagi. Jika tidak seperti ini maka justru nyawamu dan Nyawa Nona Lily dalam bahaya. Aku takut kejadian seperti kemarin terulang lagi.”
“Lalu apa rencanamu? Aku ingin segera menuntaskan semua ini. aku siap menyerang bahkan untuk saat ini juga.” Ucap Kai.
“Tidak Tuan, kondisi anda masih lemah. Anda harus pulih total terlebih dahulu baru bisa melancarkan serangan.” Pengacara Jo menasihati.
“Sial! Ini semua gara-gara mereka. Aku menjadi sepreti ini gara-gara mereka. Keluargaku hancur, sekarang hidupku tidak tenang. Arrrrggghh!” Kai meluapkan emosinya.
“Kai....sabarlah...”Lily langsung memeluk Kai.
“Aku tahu, ini pasti tidak mudah bagimu. Tapi aku mohon bersabarlah, kita pasti bisa keluar dari permasalahan ini.” Ucap Lily sambil menenangkan Kai.
“....”Kai pun mulai tenang sedikit demi sedikit.
***
Sore itu telpon Lily berdering.
“Siapa ya..”Lily langsung mengangkat telpon tersebut.
“Oh, ternyata Ibu.” Lily buru-buru mengangkat telpon itu.
“Hallo bu? Ada apa?” Ucap Lily dengan santai.
__ADS_1
“Hallo Lily...apa kau mengenaliku?” Tiba-tiba terdengar suara yang asing bagi Lily.
“Siapa kau? di mana ibuku?” seketika itu juga Lily langsung panik.
“Ibumu? Baiklah...kau dengar sendiri.”
“Emmm...emmmm...” Terendengar jeritan seorang wanita yang tersendat.
“Ibu! Ibu?” Lily makin panik.
“Kau sudah mendengarnya kan?” Suara asing itu kembali berbicara.
“Kau apakan ibuku hah? Di mana ia sekarang?” Lily berteriak saking paniknya. Kai yang meendengar Lily berteriak langsung menghampirinya.
“Ada apa Lily?” Tanya Kai dengan cemas.
“Ibu...ibuku...” Lily menangis.
“Oh, nampaknya ada Tuan Kai juga. Apa aku boleh menelpon dengannya juga.” Ucap Suara asing itu.
“Siapa kau hah? Berani-beraninya kau menyentuh keluargaku! Jangan macammacam denganku!” Ucap Kai dengan penuh emosi.
“aku tidak takut dengan gertakanmu Tuan Alexius Kai. Dengar baik-baik, jika kau ingin mertuamu selamat maka kau harus datang ke tempat yang aku suruh. Bawa juga isterimu. Tapi jangan bawa siapa-siapa lagi. Jika kau ketahuan membawa orang lain selain isterimu maka jangan harao ibumu akan kembali dalam tubuh yang utuh.” Ucap suara itu dengan kejam.
“Aku tahu kau akan menjebakku dengan atwaran seperti ini.” Ucap Kai.
“Baiklah, sampai jumpa di tempat yang telah dijanjikan.”
“Tuuut...” Telpon pun terputus.
“Bagaimana mungkin Ibu bisa tertangkap oleh mereka.” Ucap Kai.
“Aku juga bingung, bagaimana ini Kai. Ibu dalam bahaya.” Ucap Lily dengan cemas.
“Tenanglah. Kita pasti bisa menyelamatkan Ibumu.” Ucap Kai.
“Pengacara Jo!” Kai berteriak.
Tak lama kemudian pengacara Jo datang.
“Ya, Tuan. Ada apa?” Tanya Pengacara Jo.
“Ibu berhasil disandra oleh mereka.” Ucap Kai dengan marah.
“Apa? bagaimana mungkin? Aku sudah membuat pengamanan berlapis untuk Ibu.” Ucap pengacara Jo dengan tak habis pikir.
“Buktinya sekarang ibu tengah ditawan oleh mereka.” Kai menambahkan.
“Aku akan bertanya pada kepala keamanan yang ebrjaga di kediaman Ibu.” Ucap Pengacara Jo.
“....” Suasana menjadi tegang.
“Hallo! Ya, dasar bodoh! Bagaimana mungkin Ibu bisa tertangkap oleh mereka! Lalu apa gunanya aku membayar kalian mahal-mahal!” Pengacara Jo langsung marah-marah.
“Maaf Tuan. Ini kesalahan kami. Kami mengantar ibu untuk pergi keluar, katanya ada yang harus ia beli. Tapi saat sampai di toko dia izin untuk pergi ke toilet. Kami bahkan mengantarnya hingga ke depan pintu toilet. Lama sekali ibu tak keluar, saat pintu toilet kami dobrak tidak ada ibu di dalam. Padahal di dalam toilet itu tidak ada ventilasi sama sekali. Kami juga bingung bagaimana ibu bisa diculik.” Jelas kepala keamanan.
__ADS_1
“Mengapa kalian membiarkan ibu keluar hah? Sudah kubilang untuk hari ini dan seterusnya ibu tidak boleh keluar kecuali tanpa seizin dari Tuan Kai dan isterinya.” Pengacara Jo amsih marah.
“Kami dibujuk oleh ibu tuan. Dia terus menerus memaksa ingin keluar, katanya ia tak betah terus menerus dikurung.”
“Aarrgghh! Percuma saja aku mencerca kalian. Sudah, sekarang kumpul di titik yang aku berikan. Ada misi yang jauh lebih penting. Kita harus membebaskan ibu dari sandraan.” Ucap Pengacara Jo.
“Baik Tuan.”
“...”Telpon langsung dimatikan.
“Maaf Taun, ini murni keteledoran dari anak buahku. Sekali lagi aku minta maaf Tuan.” Pengacara Jo membungkuk di hadapan Kai dan Lily dengan begitu rendah.
“Sudahlah, ini sudah terjadi. Percuma aku menyalahkanmu juga. Semuanya tidak bisa diulang. Sekarang kita harus fokus dalam menyusun rencana penyelamatan Ibu. Tak ku sangka mereka ternyata telah bertindak begitu jauh.
“Apa mereka sudah memebri tahu lokasinya?” Tanya pengacara Jo.
“Ting..” Muncul notifikasi dari hanphone Lily.
“Ini dia.” Ucap Kai merebut hanphone dari tangan Lily.
“Baiklah, aku akan menyusun pengamanan di tempat itu.” Ucap Oengacara Jo.
“Tidak. Kau atau anak buahmu tidak bisa ke sana. Orang itu menyuruhku untuk datang hanya berdua dengan Lily. Tentu saja karena saat di sana mereka akan menghabisiku dnegan Lily.” Ucap Kai.
“Kalau begitu biar aku menyusun rencana supaya kalian berdua bisa ke sana dengan selamat dan bisa kembali dengan selamat juga.” Jelas pengacara Jo.
“Ya, cepat.” Jawab Kai dengan tak sabar.
“....” Mereka bertiga pun berembuk menyusun rencana.
***
“Semuanya sudah selesai. Lebih baik kita berangkat sekarang Kai. Atau mereka akan menyiksa ibu lebih lama.” Ucap Lily dengan khawatir.
“Ya, ayo kita berangkat sekarang.” Ucap Kai.
“aku sudah menyiapkan mobil yang akan kau kenakan.” Jelas Pengacara Jo.
“Bagus. Aku dan Lily akan berangkat sekarang kalau begitu.”
“Ya Tuan.”
Lily dan Kai pun naik mobil.
“Dengar, sesuai rencana, mobil ini akan berhenti jauh dari titik lokasi. Dan seperti biasa, kenakan ini.” Ucap Pengacara Jo.
“Pakaian dalam?” Kai terheran.
“Ya, gantilah pakaian dalam anda dan nyonya lily dengan ini. pakaian ini terdapat alat penyadap dan sulit untuk di deteksi.” Jelas pengacara Jo.
“Baiklah.” Mereka pun mengganti pakaian dalam mereka.
“kalau begitu kami bernagkat sekarang.” Ucap Kai.
“Ya, aku doakan rencana kita akan berhasil Tuan. Hati-hati.” Ucap Pengacara Jo.
__ADS_1
Mobil pun melesat.