Rahim Milik CEO Tampan

Rahim Milik CEO Tampan
Bab 29


__ADS_3

“Lily apa kau melihat dasiku?” Tanya Kai yang sedang sibuk mengobrak-abrik lemarinya. Lily langsung menghampiri Kai.


“Aku mencucinya karena kotor sekali. Jangan diacak-acak seperti itu. Nanti aku harus melipatnya lagi. Lagi pula kau masih sakit, apa kau yakin kau akan pergi ke kantor hari ini?” Ucap Lily sambil merapikan kembali baju yang diobrak-abrik oleh Kai.


“Pantas aku cari tidak ada. Aku harus berangkat ke kantor hari ini karena ada rapat penting yang harus aku hadiri. Toh aku juga sudah sembuh. aku tak mau diperlakukan seperti orang sakit terus menerus. Ya sudah, aku akan pakai dasi lain. Tolong pilihkan yang cocok untukku ya.” Ucap Kai.


“Ya, baiklah. Oh ya, aku hampir lupa! Manager semalam menelponku lagi. Dia mengundnagku untung datang ke agensi. Dia bilang mungkin di sana aku akan mengingat sesuatu. Dan ibu juga menyarankannya. Dan kau juga tak usah khawatir soal keamanan karena manager sendiri yang akan menjemputku langsung ke sini.” Ucap Lily sambil menimang-nimang dasi yang sesuai untuk baju yang dikenakan Kai hari ini.


“Manager menyuruhmu ke agensi? Boleh-boleh saja sih, tapi, kau harus ingat, jangan berbicara dengan sembarangan orang ya. kau harus berada di dekat manager terus, jangan berkeliaran sendirian. Aku hanya khawatir padamu.” Jawab Kai.


“Nah, yang ini cocok. Warna biru polos.” Ucap Lily sambil mengenakan dasi itu ke kerah baju Kai.


“Ya, aku akan ingat pesan darimu. Kalau perlu akan aku catat agar tidak lupa.” Tambah Lily.


“Pintar.” Puji Kai sambil mengelus pipi Lily dengan lembut.


“Yasudah, aku berangkat sekarang ya.” Kai lalu mengenakan jas kantornya.


“Ya, hati-hati. Kau akan dijemput oleh mobil dari kantor?” Tanya Lily.


“Iya, kan kau tahu mobilku sudha raib ke jurang.” Jawab Kai.


“Semoga kita segera mendapatkan gantinya lagi.” Ucap Lily.


“Ya, semoga. Aku berangkat ya. sampai jumpa nanti malam.” Ucap Kai mencium sambil kening Lily.


“Sampai jumpa nanti malam.”


Mobil yang menjemput Kai akhirnya datang. Kai pun berangkat ke kantor.


Siangnya, Lily bersiap untuk pergi ke agensi. Ia dari tadi terus membolak-balikkan catatannya karena takut ada yang terlupa. Tak lupa ia juga menelpon ibunya terlebih dahulu.


“Ya Bu, aku tahu. aku berangkat sekarang ya soalnya mobil manager sudah datang. Bye.” Lily kemudian menutup telponnya.

__ADS_1


Terdengar suara mobil melesat memasuki pekarangan rumah, Lily langsung bersiap membukakan pintu. Ia melihat mobil itu parkir di depan rumahnya. Lily langsung melambaikan tangan ke mobil itu. Dari dalam mobil, keluar manager dengan berpakaian serba hitam. Manager itu kini tersenyum kepada Lily.


“Apa kau sudah siap Lily?” Tanya manager sambil menutup pintu mobilnya.


“Ya, aku sudah siap Pak.” Jawab Lily dengan antusias.


“Yasudah, ayo kita berangkat sekarang.” Ucap Manager.


“Ayo!” Jawab Lily.


Lily kemudian masuk ke mobil. Mereka pun berangkat menuju gedung agensi.


“Lily, gedung itu telah banyak mengalami perubahan semenjak kau pergi. Sudah banyak di bangun sana-sini. tapi, aku berharap gedung itu masih bisa menceritakan kenangan yang dulu pernah kau bentuk bersamanya.” Ucap Manager sambil menyetir mobil.


“Aku berharap bisa mengingat sesuatu di sana.” Gumam Lily sambil memandangi jalanan.


Mereka pun sampai di gedung agensi. Benar apa kata manager, gedung itu sekarang sudah berubah banyak. Gedung itu jauh lebih besar dan luas. Padahal hanya beberapa bulan Lily meninggalkan gedung itu.


Begitu sampai, perasaan Lily berubah menjadi haru. Gedung ini, terasa familiar baginya, tapi ia tak mampu mengingat kejadian yang pernah terjadi di gedung ini. lily berusaha mengingat, tapi tak muncul secercah bayanganpun tentang kenangan di gedung ini.


Mereka pun memasuki gedung itu. Lily pertama naik eskalator untuk lantai satunya. Eskalator itu besar dan panjang, tempat ini terlihat mewah dan canggih disaat yang bersamaan. Lily sampai takjub melihatnya.


“Kau lihat sendiri kan? Aku bahkan masih tak yakin kalau tempat ini adalah agensi kita.” Ucap manager.


Benar apa kata manager, ini terlalu mewah jika hanya disebut sebagai gedung agensi. Atau memang gedung agensi sebenarnya harus semewah ini?


“Sekarang kita mau ke mana pak manager?” Tanya Lily.


“Kita akan ke lantai tiga. Ke ruang trainee, dulu, disana kau sering berlatih. Berdansa dan bernyanyi dengan keras hingga kau lupa waktu.” Jawab managernya.


“Oh, baiklah.”


Mereka tiba di lantai dua lalu melanjutkan ke lantai tiga dengan lift. Manager sengajja memilih jalur yang berbeda agar Lily bisa merasakan setiap rute yang mereka tempuh.

__ADS_1


“Kau tahu, aku sering memergokimu ketiduran di lift. Bukan hanya aku, tapi orang lain juga. Kau sering berlatih hingga tenagamu terkuras habis. Orang-orang mengira kau pingsan, padahal sebenarnya kau tertidur.” Ucap manager dengan senyum kecilnya. Ia tampak bahagia saat menceritakan momen itu lagi kepada Lily.


“Aku tak percaya jika dulu aku begitu.” Gumam Lily sambil tersenyum.


Mereka pun tiba di lantai tiga. Hanya perlu berjalan lurus sedikit lalu mereka tiba di ruangan trainee. Ruangan itu seluas setengah lapangan sepak bola. Tidak ada apapun di situ kecuali kursi-kursi yang diletakan di pinggir ruangan, seperangkat komputer dan alat musik di sisi kanan dan kiri ruangan, lalu dinding yang dilapisi dengan kaca secara full.


Saat memasuki ruangan itu, Lily langsung merasa sakit kepala. Ia kembali mendapat potongan-potongan ingatan dari masa lalunya.


“Lebih cepat lagi!” Terdengar seseorang meneriakinya.


“Bukan begitu gerakannya, tapi seperti ini! tuk da-da-da-da tuk!” Suara itu makin kencang.


“Lebih kuat lagi, kau harus menari dengan penuh penekanan.” Suara itu makin menggelegar.


“Bruk!” Lily melihat dirinya di masa lalu terjatuh.


“Tidak!” Lily berteriak.


“Ada apa Lily?” Manager langsung menghapirinya.


“Aku...aku...” Lily kemudian tersadar. Ia baru saja mengingat dirinya di masa lalu.


“Aku melihat diriku terjatuh tak berdaya di lantai ini.” Jelas Lily.


“Sepertinya kau mengingatnya. Memang benar, kau pernah tak sadarkan diri saat latihan. Tapi itu akrena kau terlalu memaksakan dirimu, kau memacu dirimu untuk terus berlatih hingga titik darah penghabisan.” Jelas manager.


“Lalu aku mendengar ada orang yang meneriakiku untuk menari dengan lebih kuat dan kuat lagi. Suaranya membuat bulu kudukku merinding.” Llily menambahkan.


“Itu guru tarimu, Aehyung. Tuh, orangnya di sana.” Manager menunjuk seorang perempuan yang sedang melatih bebebarapa gadis.


“Astaga!” Lily tampak cemas dan ketakutan.


“Tak usah takut, dia baik. Dia bahkan memberikanmu bucket saat debut pertamamu. Kau murid kesayangannya.”Ucap manager.

__ADS_1


“Bernarkah?” Tanya Lily.


“Benar. Coba aku panggilkan, Aehyung!” Manager memanggil gadis itu. Lily jadi cemas, apakah orang itu memang baik? Atau justru sebaliknya.


__ADS_2