
“Tidak mungkin!” Nenek mencoba memberontak dari para pengawal pengacara Jo.
“Kau pasti tak mengira bahwa kami juga sudah bertindak jauh darimu. Kami sudah kumpulkan smeua bukti kejahatanmu dan anakmu. Atau aku sebut anak pungutmu juga. Bukankah Jung Hwan sebenarnya anak dari suamimu, bukan anak kandungmu.” Ucap Pengacara Jo.
“Dan surat ini...Lucu sekali, kau jadi gila gara-gara surat payah ini!” Ucap Kai kini merobek surat itu.
“Ayo bawa wanita ini ke dalam mobil lalu mengantarkannya ke kantor polisi. Kiat juga perlu memasukkannya ke dalam sel khusus bersama anaknya karena kejahatannya luar biasa.” Ucap Pengacara Jo.
“Bersiaplah untuk diadili dasar wanita jahat!” Ucap Kai.
Nenek pun diseret oleh mereka.
***
“Sudah beres.” Ucap dokter yang menangani Kai.
“Untung saja dia tidak kehabisan darah. Anda tidak boleh lagi kehilangan darah anda setelah ini ya.” Ucap sang dokter.
“Ya, dok. Tidak akan lagi. Karena setelah ini semuanya selesai. Semuanya beres. Hidup saja akan normal lagi.” Ucap Kai dengan begitu senang dan lega saat mengucapkan hal itu.
Setelah mendapatkan perawatan, Kai pun menghapiri Lily di ruangan Ibunya. Ibunya dirawat karena mengalami dehidrasi hebat. Kai dengan menenteng infusannya masuk ke ruangan itu. Tampak Lily yang tengah duduk di samping ibunya sambil memegangi lengan ibunya.
“Apa aku boleh masuk?” Tanya Kai dengan lebut.
“Tentu.” Jawab Lily.
“Apa dia akan segera sadar?” Kai kembali bertanya.
“Ibuku sudah sadar tadi. Saat ini ia sedang tidur. Lebih baik kita bicara di luar saja ya. agar tidak mengganggu ibuku.” Ucap Lily.
“Ya, ayo.” Mereka berdua pun keluar.
“Aku senang sekarang kau baik-baik saja Kai. Aku tak bisa bayangkan kemarin saat kau kritis namun masih harus melawan serangan dari banyak orang.” Ucap Lily.
__ADS_1
“Tak apa. itu semua sudah berlalu. Oh ya, jangan lupa, lusa adalah sidang nenek dan paman tiriku. Aku tak sabar ingin segera mendengar keputusan dari hakim. Tentu saja, mereka akan di hukum mati karena telah melakukan pembunuhan berancana pada lebih dari satu orang.” Ucap Kai.
“Ya, pasti. Lagi pula pamanmu sudah mengumpulkan banyak bukti. Oh, ngomong-ngomong kau sudah tahu bahwa pengacara Jo adalah pamanmu?” Tanya Lily.
“Ya, aku sudah tahu semenjak aku bekerja di perusahaan baruku. Tetapi aku snegaja tidak memberi tahumu, ini semua demi kelancaran rencana kita.” Jelas Kai.
“Ya, lalu Junho? Bukankah kalian tidak akaur sebelumnya? Bagaimana mungkin kau bisa bekerja sama dengannya untuk melawan nenek dan paman tirimu.” Lily masih bingung.
“Itu karena sebenarnya aku tidak bermusuhan dengannya.” Ucap Kai.
“Apa? tidak mungkin. Kalian bermusuhan sejak kecil Kai. Aku masih mengingatnya.” Lily tak percaya.
“Ya, aku memang bermusuhan waktu kecil, tapi saat sudah dewasa, aku berteman dengannya. Aku bisa mengetahui keberadaanmu karena dia. Aku tengah dalam pencarianmu saat itu, lalu aku menemukan Junho yang tengah dalam amsa-masa terpuruknya. Aku memberinya sebuah agensi kecil atas nama dia. Setelah itu dia banyak bercerita padaku dan menajdi teman baikku. Lewat dia juga aku berhasil melakukan perjodohan denganmu.” Jelas Kai.
“Tapi Junho adalah pacarku Kai. Bagiaman mungkin dia bisa menjodohkanku denganmu?” Tanya Lily.
“Junho mendekatimu sebenarnya karena aku yang menyuruhnya. Kau dulu kesepian di tengah masa-masa sulit traineemu. Aku tidak bisa bersamamu saat itu karena kondisku. Akhirnya akhu menyuruh Junho untuk menemanimu. Dan menjadi kaki tangan nenek, juga adalah bagian dari rencanaku.”
“Nenek mengira jika aku dan Junho bermusuhan padahal sebenarnya tidak. Dengan begitu akau bisa mendapatkan informasi terkait rencana nenek dari Junho.” Ucap Kai.
“Tidak juga.” Ucap Kai.
****
Hari persidangan itu pun tiba. Banyak saksi dan bukti yang dihadirkan. Nenek sudah benar-benar dipojokkan dan tidak bisa mengelak dari perbuatnya. Namun tetap saja, persidangan ebrjalan alot karena penacara yang nenek sewa juga buka main-main. tapi pengacara Jo jauh lebih lihai daripada pengacara sewaan nenek. Berkali-kali pengacara Jo berhasil membantah pernyataaan dari pengacara sewaan nenek.
Akhirnya sidah mencapai keputusn akhir, hakim pun menjatuhkan vonis kepada nenek dan Jung Hwan.
“Terdakwa divonis hukuman m4ti! Tok-tok!” Vonis pun dijatuhkan.
Kai, Lily, Pengacar Jo, Junho, Ibu dan orang-orang yang ada di ruangan persidangan begitu bahagia dan terharu saat vonis dijatuhkan. Akhirnya perjuangan mereka telah selesai. Kini, duri yang selama ini menusuk dalam keluarga mereka telah dikeluarkan.
Usai persidangan itu, Kai dan Lily memutuskan untuk pergi berlibur. Begitu pun dengan pengacara Jo dan isterinya. Hanya saja tempat mereka berbeda. Mereka ingin menenangkan pikiran mereka terlebih dahulu ke tempat yang tenang dan damai.
__ADS_1
“Lily! Kemarilah! Di situ ombaknya besar!” Ucap Kai yang khawatir melihat isterinya berada di dekat gulungan ombak yang besar.
Lily pun menuruti perkataan Kai. Ia langsung berlari menghampiri Kai.
“Apa kau mau ke sana juga? Seru tahu! aku bisa berlari bebas. Kakiku terasa rilex saat ombak mengenainya.” Ucap Lily dengan girang.
“Tidak. Aku tidak mau ke sana. Lebih baik kita duduk-duduk di sini sambil memandangi matahari terbenam. Indah sekali, lihatlah.” Ucap Kai.
“Ya, tapi dari sana juga bisa Kai. Dan kau juha bisa merlari bebas. Kau malah memilih hanya diam di sini. cobalah untuk menikmati lingkungan sekitarmu alih-alih hanya meratapinya saja.” Jelas Lily.
“Baiklah, kalau begitu aku akan mengejarmu! Bersiaplah!” Kai langsung bangkit.
“Oh tidak!” Dengan girang Lily langsung kabur menjauhi Kai dan berlari terbirit-birit.
“Kau tidak bisa menangkapku Kai!” Lily meledek.
“Lihat saja!” Kai menambah kecepatan Larinya. Ia pun mengejar Lily dengan semangat.
“Ah!” Kai menangkap Lily dengan begitu semangat. Saking semangatnya hingga membuat mereka berdua terjatuh. Kai terjatuh dia atas Lily.
“Aku berhasil menangkapmu!” Ucap Kai dengan jantung yang berdenyut lebih kencang dari biasanya.
“Benarkah?” Tanya Lily dengan muka yang merah merona.
“Ya, sekarang kau adalah tawananku. Aku akan mengurungmu bersamaku di kamar hotel itu. Kau milikku malam ini sepenuhnya.” Ucap Kai sambil membelai wajah Lily yang licin terkena air ombak.
“Ayo kita ke sangkarmu Tuan Puteri.” Kai memayang Lily dengan lebut menuju kamar hotel. Lily hanya diam tersenyum.
Sore itu, langit senja begitu indah. Mentari bersembunyi ke bawah cakrawala lebih cepat dari biasanya. Ia nampaknya malu melihat dua sejoli yang tengah memadu kasih di pantai itu. Udara hangat pantai tropis berhasil menyihir dua sejoli itu. Hingga mereka lupa waktu.
“Apa kau keberatan?” Tanya Kai yang masih canggung.
“Tidak.” Jawab Lily dengan malu-malu.
__ADS_1
Untunglah, tidak seperti malam pertama sebelumnya yang gagal kali ini mereka benar-benar berhasil. Tidak ada siapapun yang mengganggu atau mengusik mereka. Waktu dan tempat mereka saat itu serasa benar-benar milik mereka berdua.