
“Apa kau membawanya?” Seseorang dengan pakaian serba hitam tengah berdiri dengan tegang di depan gerbang masuk.
“Bisa mati jika aku tidak membawanya.” Seseorang yang baru keluar dari mobil beserta temannya membukakan bagasi mobil.
“Pastikan dia tidak sadarkan diri hingga di depan Tuan dan Nyonya.” Pria itu mencoba mengeluarkan gundukan besar yang berada dalam bagasi itu.
“Ya, aku tahu. lagi pula dia mengalami luka yang hebat. Aku rasa dia tidak memiliki cukup tenaga bahkan hanya untuk sekedar membuka mata.” Pria lain menjawab.
“Bantu aku untuk mengangkatnya.” Pria itu mencoba menggotong gumpalan besar itu. Mereka bertiga memindahkan gumpalan besar itu ke dalam sebuah rumah besar namun tampak kumuh dari luar.
“Ya.”
Mereka memasuki ruangan besar yang berbalut karpet merah nan tebal. Terdapat meja di tengah ruang itu. Seorang pria tengah berdiri di dekat api unggun. Sementara seorang wanita tua tenah duduk di kursi sambil memotong buah apel.
“Ah, paket penting kita sudah sampai.” Ucap Pria yang tengah berdiri di api unggun. Sementara wanita tua itu hanya menoleh sedikit dengan senyuman sinisnya.
“Cepat bawa ke sini!” Ucap pria itu dengan nada yang menggelegar.
Tiga pria yang menggotong dumpalan besar itu menjadi ketakutan dan segera menaruh gumpalan besar itu di hadapan sang pria. Wanita tua itu kini meletakkan apel dan pisaunya kemudian beralih mendekati gumpalan itu.
“Kerja bagus. Sekarang keluarlah!” Wanita tua itu berbicara pada tiga pria itu.
“Bb—baik Nyonya.” Dengan gemetaran mereka bertiga pun meninggalkan ruangan itu.
“Jung Hwan, cepat buka!” Ucap Wanita tua itu dengan tak sabar.
“Baik Bu.” Jung Hwan segera menuruti perintah dari Ibunya.
Betapa terbelalaknya mereka berdua tatkala gumpalan besar itu dibuka. Ternyata di dalamnya terdapat tubuh manusia. Jika dilihat, masih hidup namun dengan kondisi luka parah sana-sini.
“Akhirnya, setelah menunggu lama, rencana kita hampir berhasil.” Ucap wanita tua itu dengan tawa melengking yang aneh.
“Aku siap melenyapkannya kapanpun ibu suruh.” Ucap Jung Hwan dengan ekspresi bengis.
“Tidak, jangan dibunuh. Kita butuh dia dalam kondisi hidup sekarang. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dan selesaikan dengannya. Kita tunggu dia hingga tersadar. Setelah itu, kau akan memutuskan terkait pelenyapannya.” Jelas wanita tua itu.
“baik Bu.”
Tubuh manusia itu seorang pria, kulitnya putih pucat tertimpa cahaya dari api unggun di ruangan itu. Kini tubuh itu terkulai lemas, tergeleta diantara dua manusia yang tampaknya memiliki niatan jahat padanya. Atau bisa dibilang mereka berdualah yang menyebabkan pria itu berakhir di sini sekarang.
Waktu berlalu, tubuh pria itu masih dibiarkan begitu saja di ruangan itu. Kali ini tubuhnya berubah kaku sedingin es. Dengan wajah yang begitu pucat namun embusan napas dari hidungnya yang menandakan bahwa pria itu masih bernyawa.
Di tengah keheningan itu, keajaiban terjadi. Jari jemari pria itu bergerak perlahan. Napasnya mulai kencang. Sepertinya ia akan tersadar sebentar lagi.
Kelopak matanya mulai mengernyit. Perlahan mulai terbuka. bola matanya mulai bergulir ke sana ke mari. Melihat kondisi sekeliling yang tampak asing baginya.
__ADS_1
“Argh!” Pria itu tak bisa berdiri. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Ia melihat tangannya yang penuh dengan luka. Ia meraba wajahnya yang terluka.
“Aku ...aku dimana?” Ia tampak panik dan bingung.
Ia mulai mengingat-ingat lagi kejadian sebelumnya yang terekam di otaknya. Kilatan cahaya lampu dari mobil yang ada di dekatnya, benturan hebat dan dentuman kencang. Ia ingat, ia sebelumnya mengalami kecelakaan. Tapi di mana ia sekarang? Tempat apa ini? semuanya tampak asing baginya. Ia teringat seseorang.
“Lily! Lily!” pria itu berteriak.
Tak lama setelah teriakan itu ia mendengar langkah kaki yang mendekat. Pria itu menjadi waspada, apa itu adalah bahaya, atau sebaliknya.
Pintu terbuka, lampu pun dinyalakan, baru ia bisa melihat dengan jelas kondisi sekeliling. Ia juga bisa melihat siapa orang yang muncul m\=dihadapannya.
“Kau sudah bangun?” Tanya seorang yang mendekatinya.
“Nenek?” Pria itu begitu terkejut.
“Kai...Kai...Tak sangka kita akan bertemu lagi. Lihatlah kondisimu sekarang, sungguh ironi.” Ucap Nenek dengan senyum liciknya.
“Kalian mau apakan aku hah? Lepaskan aku!” Kai mencoba memberontak.
“Buk!” Seorang pria lain yang datang bersama nenek memukulnya dengan keras.
“Diam kau!” ucap pria yang memukulnya.
“Cukup Jung Hwan.” Nenek menegurnya.
“Tunggu dulu. Dengarkan perintahku dan bersabarlah.” Nenek menasihati Jung Hwan.
“Cuh!” Jung Hwan memalingkan muka.
“Bawakan aku berkas-berkas itu.” Ucap Nenek kepada Jung Hwan.
“....”Jung Hwan pun menurutinya dengan muka yang sebal.
Tak lama Jung Hwan kembali membawa berkas itu.
“Kemari.” Nenek mengambil berkas itu.
“Dengar, kau harus menandatangani penerahan seluruh aset kekayaan keluarga Park. Cepat!” Ucap Nenek kepada Kai.
“Tidak!” Kai menolak dengan tegas.
“Oh, kau menolak? Baiklah. Mungkin kau butuh sedikit dorongan. Jung Hwan!” Nenek berteriak.
Dengan sigap Jung Hwan mengambil ebuah remote dan menyalakan proyektor yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Proyektor itu menyala. Menampilakn seorang wanita yang tengah berjalan sendirian di luar dengan diikuti oleh tiga pria yang mencurigakan.
“Tidak! Jangan kau apa-apakan Lily!” Kai berteriak.
“Kalau begitu cepat tanda tangani ini sekarang!” Desak Nenek.
“Aku...aku tidak bisa.” Kai masih membantah.
“Kau yakin? Jika aku menolaknya maka kau dan isteriu akan kulenyapkan dengan cepat!” Nenek semakin mengancam.
“Beri aku waktu...” Ucap Kai.
“Oh, kau mau mengulur waktu ya?” Nenek tampak tidak senang.
‘Tidak. Bukan begitu. Aku ingin mempertimbangkannya dahulu. Beri aku waktu satu hari maka aku akan menandatanganinya keesokan harinya.” Jelas Kai.
“Bagaimana jika kau melarikan diri? Apa jaminannya?” Tanya Nenek.
“Bagaimana mungkin aku bisa melarikan diri dari tempat ini dengan kondisiku yang seperti ini. kau lebih mengetahui keamanan di tempat ini. apa kau masih berpikir bahwa aku akan melarikan diri?” Ucap Kai.
“Jangan dengarkan dia nek, dia pasti ingin mengakalimu!” Ucap Jung Hwan menasehati.
“....”Nenek berfikir keras.
“Baiklah.” Ucap Nenek.
“Apa?” Jung Hwan tampak kecewa.
“Tapi dengan syarat...”Nenek meneruskan.
“Apa syaratnya?” Tanya Kai.
“Jika kau ketahuan kabur maka aku taka akan membiarkanmu dan istrimu hidup dengan tenang. Aku akan memburu semua keluargamu. Istrimu, ibu mertuamu, semua kenalanmu dan termasuk dirimu sendiri. Akan aku habisi kalian semua dengan tanganku sendiri.” Ucap Nenek dengan tatapan yang mengerikan.
“.....”Kai terbelalak. Tak sangka jika resikonya akan seperti ini.
“Bgaimana? Apa kau masih ingin mengulur waktu?” Tanya Nenek.
“Aku...aku akan tetap menunggunya hingga esok hari.” Jawab Kai.
“Baiklah. Itu keputusanmu. Tapi ingat. Ada harga yang harus dibayar atas waktu yang telah kau habiskan itu. Ingat itu!” Ucap Nenek.
“Jung Hwan!” Nenek berteriak.
“Bawa dia ke ruang bawah tanah. kurung dia dengan keamanan berlapis hingga esok hari. Pastikan ia tidak lolos atau kabur. Karena jika kabur maka aku tak akan segan untuk memberimu pelajaran.” Ucap Nenek.
__ADS_1
“Baik Bu.” Jung Hwan langsung menyeret Kai yang lemah itu.
“Ayo cepat!” Jung Hwan meneriaki Kai.