Rahim Milik CEO Tampan

Rahim Milik CEO Tampan
Bab 19


__ADS_3

Kai pulang dari kantor Pengacara Jo dengan hati yang penuh. Ia amat berbunga-bunga hari ini. bagaimana tidak, ternyata kakeknya masih mewariskan satu perusahaan untuknya, meski perusahaan itu tak sebesar Kasablanca group tapi ia yakin jika berusaha lebih keras ia pasti bisa membuat perusahaan itu menjadi besar.


Karena hatinya tengah gembira, Kai memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Ia memilih untuk pulang ke rumahnya Lily dan memberitahu pada Lily dan Ibunya soal kabar gembira ini. Kai pun bergegas pulang.


Di jalan Kai bahkan mampir dulu ke toko swalayan. Ia berbelanja beberapa bahan makanan untuk makan malam mereka bertiga. Kai membeli beberapa kotak daging beku lengkap dengan sayuran, mie dan jamur sebagai pelengkapnya dari sisa uang yang ada di dompetnya. Ia berniat ingin mengadakan pesta makan malam kecil-kecilan bersama Lily dan Ibunya. Mereka pasti suka, begitu pikir Kai.


“Tumben anda tidak membeli ramyeon lagi alih-alih malah mengambil beberapa kotak daging, apa anda habis menang lotre?” Tanya penjaga toko swalayan itu. Kai sudah akrab dengannya karena toko swalayan ini langganan Kai dalam membeli bahan makanan.


“Kau jangan berkata seperti itu. Kau terdengar seperti mencemooh. Bagaimana jika yang kau ledek adalah seorang CEO muda atau direktur perusahaan.” Jelas Kai.


“BHAHAHA! Mana mungkin ada CEO atau direktur besar dari sebuah perusahaan hobby memakan ramyeon tiap malam? ku rasa dia akan memilih wagyu daripada ramyeon.” Ledek penjaga toko itu.


“Ah, sudahlah. Jadi berapa semuanya?” Tanya Kai mengeluarkan dompetnya.


“650.000 won. Kau sanggup membayarnya kan?” Tanya penjaga swalayan terdengar mencibir.


“Ya akan kubayar dengan lunas, ini kau lihat kan. Aku juga punya uang. Bahkan suatu saat nanti aku bisa membeli toko swalayan ini.” Ucap Kai.


“Kau terlalu banyak membual anak muda. Apa kau baru saja mabuk?”


“Ah, kau ini. sudahlah. Aku pergi sekarang.” Kai membawa semua kantung belanjaannya dengan bergegas.


“Ya, pergilah, aku tak akan heran jika besok pagi kau datang untuk membeli Shin Ramyun. Aku akan menyediakan banyak untukmu. Haha.” Ledek Penjaga swalayan.


“Ah, orang itu snagat menyebalkan.” Guamam Kai sembari berjalan pergi menenteng belanjaanya.


Kai pun tiba di apartemen, ia baru ingat jika semalam Lily tak sadarkan diri. Apa pantas ia datang kembali dengan membawa barang belanjaan sebanyak ini. apa yang akan Lily katakan padanya? Apa Lily sudah mengingatnya? Apa Lily sudah tahu bahwa Kai adalah suaminya? Kai bertanya-tanya.


“Kai.” Ibu membuka pintu.


“Ibu.” Kai pun terbangun dari lamunannya.


“Aku bahkan belum mengetuk pintu.” Gumam Kai.


“Iya, kebetulan ibu mau buang sampah. Apa yang kau bawa? Banyak sekali kelihatannya.” Tanya Ibu dengan nada santai.


“Hanya beberapa makanan. Apa Lily sekarang baik-baik saja?” Tanya Kai penasaran.


“Ya, dia bahkan sudah menonton tv lagi. Hari ini dia banyak bertanya pada ibu, dan dia juga sudah ingat bahwa kau suaminya.” Jelas ibu.

__ADS_1


“Benarkah?” Kai terkejut.


“Ya, Ibu juga tak percaya. kau lihat saja ke dalam. Ibu harus membuang sampah dulu.” Ucap Ibu.


“Baik bu.” Kai pun bergegas masuk ke dalam.


Saat tiba di dalam Kai melihat Lily sedang asik menonton tv. Acara reality show, mungkin itu acara favoritnya. Kai pun perlahan-lahan mendekati Lily. Ia menaruh barang belanjaanya di atas meja makan.


“....”Kai langsung duduk di samping Lily tanpa menyapa.


“Kau.” Lily kaget dengan kehadiran Kai di sampingnya.


“Lily, maksudku Dreeyana...” Kai mengawali pembicaraanya.


“Tidak, panggil saja aku Lily. Aku sudah tahu jika itu nama idolku. Dan aku juga sudah tahu siapa kau sebenarnya.” Ucap Lily.


“Kau mengingatnya?” Kai tampak girang.


“Tidak, aku hanya tahu dari cerita ibu. Tapi aku mengingat sedikit potongan dari kejadian....” Lily tiba-tiba berhenti berbicara.


“Kejadian saat apa?” Tanya Kai penasaran.


“Yang benar saja, dari semua kejadian penting yang pernah kita lewati bersama, hanya itu yang kau ingat? Apa kau tak ingat saat aku melamarmu di konser musikmu?” Ucap Kai.


“Maaf tapi aku tidak mengingatnya.” Jawab Lily dengan pipi masih merah padam.


“Tak apa, setidaknya kau ingat bahwa aku suamimu. Walau kau hanya mengingat hal yang itu saja.” Jawab Kai menghela nafasnya dengan berat.


“Apa kau mau melakukannya lagi denganku? Mungkin aku akan mengingatnya lagi.” Ucap Lily dengan genit.


“Apa maksudmu ‘melakukan hal itu lagi’?” Kai tampak curiga.


“Kejadian di malam itu. Aku yakin betul aku masih ingat bahwa kau tak sempat menyentuhku kan?” Ucap Lily dengan malu-malu.


“Kau pasti sudah gila. Mengapa kejadian itu kau mampu mengingatnya dengan detail? Ah sudahlah. Aku tidak akan melakukannya sekarang Lily. Meski kita masih suami istri. Tapi tidak sekarang dan di sini.” Jawab Kai dengan bercucuran keringat dingin.


“Kau yakin? Bahkan jika aku memohon?” Goda Lily.


“Kau ini hilang ingatan atau bagaimana Lily? Mengapa sikapmu jadi seperti ini?” Tanya Kai heran.

__ADS_1


“Entahlah, aku juga bingung.” Gumam Lily dengan nada yang dibuat genit.


“Kai kau bawa banyak sekali makanan, untuk apa semua ini?” Tanya Ibu yang tiba-tiba masuk ke ruangan.


“Untunglah, Ibu.” Kai langsung berlari menghampiri Ibu.


“Ada apa Kai? Kau tampak ketakutan?” Tanya Ibu heran.


“Tidak, aku hanya, maksudku...Lily, lihatlah, sepertinya ada yang tidak beres dengannya.” Ucap Kai dengan gemetaran.


“Lily?” Ibu langsung menengok ke Lily.


“Hai Bu, ibu sudah kembali?”Ucap Lily seakan tidak ada yang terjadi sama sekali.


“Dia tidak apa-apa.” Ucap Ibu kepada Kai.


“Ah, sudahlah.” Kai pun menyerah.


“Ngomong-ngomong, ini, apa kita akan memasak semua ini?” Tanya Ibu sambil menyodorkan kantung-kantung belanjaan itu.


“Oh, aku sampai lupa. Ia bu, aku sengaja membeli semua itu karena aku ingin mengadakan jamuan makan kecil-kecilan malam ini. hanya kita bertiga saja, aku, ibu, dan Lily.” Jawab Kai.


“Jamuan makan? memangnya ada apa? apa kau menang lotre atau sesuatu yang menggembirakan?” Tanya Ibu.


“Sudah kuduga kalian semua akan mengira begitu. Ah, sudahlah, aku juga sudah dituduh menang lotre oleh penjaga swalayan yang ada di depan.” Ucap Kai dengan lesu.


“Aahaha, maafkan ibu. Baiklah, apa kau memperoleh kabar gembira?” Tanya Ibu.


“Iya Bu. Apa kalian percaya? ternyata Kakek masih meninggalkan satu perusahaan untukku. Ya, walau perusahaan itu bukan perusahaan besar tapi setidaknya aku masih memiliki sesuatu dari kakek.” Ucap Kai dengan wajah yang berseri-seri.


“Apa? benarkah? Oh, ibu sangat senang mendengarnya nak.” Ucap Ibu dengan berkaca-kaca.


“Iya Bu. Aku juga tak percaya pada awalnya. Ini semua berkat Pengacara Jo, Ibu ingat? Pengacara kita, yang menangani kasus Lily dan nenek.” Ucap Kai.


“Ya, tentu Ibu ingat. Apa pengacara Jo membantumu mengambil alih hak milik perusahaan itu?” Tanya Ibu.


“Bukan Bu, Pengacara Jo justru yang menjaga dan mengurus perusahaan itu selama aku tak ada. Kakek yang menuruhnya langsung. Pokoknya panjang ceritanya bu. Nanti akan kujelaskan saat makan malam.” Jawab Kai.


“Ya, baiklah. Kalau begitu ibu akan memasak semua ini. ibu harus memasaknya dengan enak. Ini benar-benar kabar yang amat membahagiakan bagi kita semua.” Ucap Ibu dengan terharu.

__ADS_1


__ADS_2