Rahim Milik CEO Tampan

Rahim Milik CEO Tampan
Bab 17


__ADS_3

Malam itu Kai berjalan pulang menuju rumahnya. Jalanan tampak gelap dan sepii di tengah malam seperti ini. jujur dalam hatinya ia begitu was-was. Ia takut terjadi sesuatu. Tapi ia terus memberanikan dirinya dan berjalan tanpa menengok ke belakang.


Semuanya tampak baik-baik saja hingga ia masuk ke sebuah gang yang sempit dan gelap. Jika malam masih awal mungkin jalanan depan itu tidak akan ditutup, karena ini sudah tengah malam dan menjelang dini hari jalan utama di tutup. Terpaksa Kai harus jalan lewat gang sempit.


Entah hanya sekedar perasaan Kai atau memang ada yang mengikutinya dari belakang. Kai mulai berjalan dengan penuh kewaspadaan. Kai terus berjalan dengan jantung yang berdegup kencang. Ia sudah merasa bhawa sosok yang mengikutinya dari belakang sudah sangat dekat. lalu dalam sepersekian detik....


“Buk!” Seseorang memukulnya dari belakang. Kai jatuh tersungkur.


“Siapa kau!” Ucap Kai. Ia mencoba kembali bangkit berdiri.


“Siapa aku? Apa kau tidak mengenali aku Tuan Park Alexius Kai.” Ucap sosok yang menyerang Kai. Ia kemudian melangkah maju mendekati Kai. Kini Kai pun bisa melihat dengan jelas siapa sosok yang sudah menyerangnya.


“Juhno!” Ucap Kai tak habis pikir.


“Ya, itu aku. Hahaha.” Ucap Junho kini kembali mengepalkan tangannya.


“Sudah kubilang jangan main-main denganku!” Grertak Kai kini mengambil posisi siap bertarung.


“Kau yang duluan mengusikku Tuan, atau harus ku panggil kau dengan sebutan aslimu? Bogeum?” Ucap Junho dengan sombong.


“Bagaimana kau bisa tahu panggilan masa kecilku?” Kai mencoba mengingat-ingat kembali orang-orang dari masa lalunya.


“Oh, sepertinya kau sudah lupa. Baiklah, akan kuingatkan kembali. Aku adalah Juju si anarki. Apa kau mengingatnya sekarang?” Tanya Junho dengan bengis.


“Juju.....”Kai mencoba mengingatnya lagi.


“Oh, jadi kau si Juju yang dulu selalu membully ku? Ternyata kau tak berubah sedikitpun.” Ucap Kai. Ternyata Kai dan Junho pernah satu kelas saat masih kecil.


“Nah, kau ingat juga sekarang. Dan asal kau tahu, hanya aku yang mengetahui dengan jelas siapa kau sebenarnya dan dari mana kau berasal. Media akan gempar jika mengetahui bahwa Tuan Park Alexius Kai pemilik saham terbesar Kasablanca Group adalah teman amsa kecilku yang dulu selalu aku bully. Aku bahkan masih menyimpan foto saat kepalamu berhasil aku masukkan ke closet. Apa kau ingin melihatnya lagi?” Ucap Junho dengan sombong.


“Beraninya kau muncul lagi di kehidupanku!” Kai kini kehabisan kesabaran. Ia mengepalkan tangannya dan mulai menunju Junho. Tapi Junho berhasil emnangkis serangan dari Kai.


“Apa kau liupa Bogeum, bahwa setiap kali bertarung dengan ku kau selalu kalah?” Junho kini memelintir tangan Kai.

__ADS_1


“Arrrggghh!” Kai mengerang kesakitan.


“Jangan pernah berharap bisa menang melawanku!” Kini Junho bersiap untuk memukul Kai.


“Aku tidak akan kalah oleh pria pecundang sepertimu!” Ucap Kai dengan kesal. Ia pun menyerang Junho tanpa ampun.


“Buk! Buk!” Kai memukul Junho bertubi-tubi. Padahal Junho belum sempat menyerang Kai.


Junho pun kalah dalam pertarungan itu. Ia kini terkapar di aspal yang dingin. Kai membiarkannya tergeletak dan tak menghabisisnya sampai akhir.


“Sudah kubilang untuk tidak mengusik hidupku. Mugkin, di masa lalu aku kalah darimu. Tapi sekarang, aku bukan lagi Bogeum yang dulu kau kenal. Aku adalah Park Alexius Kai. Kau tidak akan bisa mengalahkanku.” Ucap Kai sambil ngos-ngosan. Tenanganya sudah habis setelah melawan Junho bertubi-tubi. Kau pun bangkit dan hendak pergi dari tempat itu.


“Bogeum....” Ucap Junho pelan. Ia sudah kehabisan tenaga.


Mendengar seruan dari Junho Kai berhenti berjalan.


“Aku tahu mengapa kau kembali muncul. Kau pasti sedang mencari Geumi kan? Dan aku rasa kau sudah menemukannya. Bahkan kau tak membiarkanku untuk mendekati atau mengganggu Geumi mu itu.” Ucap Junho dengan ngos-ngosan.


“Apa maksudmu Geumi sudah pergi jauh?” Gumam Junho lirih. Tak ada yang mendengar atau menajwab perkataan dari Junho karena ia hanya seorang diri di situ.


***


Keesokan paginya, Kai pergi dengan buru-buru menuju stasiun. Ia sudah sangat telat. kereta cepat itu selalu tepat waktud an penuh dengan penumpang, tak mungkin ia bisa telat walau sedetik saja. Kai pun berlari menuju stasiun. Untunglah rumahnya tak jauh dari stasiun.


Ia pun berhasil sampai di stasiun dan naik kereta cepat. Ia tak kebagian tempat duduk. Kai mearasa kembali asing saat menaiki kereta cepat ini. terakhir kali ia naik kereta cepat adalah saat ia masih duduk di bangku SMA. Ia selalu diantar oleh supir pribadinya kemanapun ia pergi. Tapi sekarang keadaan telah berubah. Ia kembali menjadi warga biasa. Naik transportasi publik dan berdesak-desakan dengan penumpang lain yang berangkat kerja. Ia bahkan sekarang menenteng amplop lamaran kerja. Padahal ia tak pernah melamar kerja kemana pun sebelumnya.


Kai berhasil sampai di kantor tepat waktu. Ia duduk di ruang tunggu, menunggu panggilan untuk masuk ke ruang HRD. Entah mengapa Kai merasa deg-degan, padahal ia seharusnya percaya diri. Kai mulai bertanya-tanya dalam hatinya apakah ia akan diterima kerja atau tidak.


“Tuan Kai.” Ucap seorang wanita dengan pakaian rapi dan rambut diikat kuda.


“Ya, saya.” Kai berdiri.


“Tuan Na menyuruh anda untuk masuk ke ruangannya.” Ucap wanita itu.

__ADS_1


“Baik.” Kai merapihkan penampilannya terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan itu. Kai menarik napas panjang kemudian membuka pintu.


“Permisi.” Ucap Kai membuka pintu.


“Ya, silahkan masuk.” Ucap HRD yang bermarga Na itu.


“Pengacara Jo?” Kai kaget, karena HRD itu ternyata pengacara Jo.


“Ya, Tuan... Maksud saya Kai. Silahkan duduk.” Ucap Pengacara Jo.


“HRD Na Jowang. Tidak mungkin, pasti aku salah membaca.” Ucap Kai sembari membaca papan jabatan Pengacara Jo.


“Kau tidak salah membaca Tuan Kai. Selain pengacara aku juga seorang HRD dari perusahaan ini.” Ucap Pengacara Jo sambil terkekeh.


“Jadi kau menawarkan pekerjaan kepadaku agar aku bekerja di perusahaanmu?” Ucap Kai tak habis pikir.


“Emm, kedengarannya aneh. Tidak begitu juga sih. Ya, aku juga bekerja di perusahaan ini dan secara teknis bukan aku pemilik dari perusahaan ini. aku kan hanya seorang HRD.” Ucap Pengacara Jo dengan santai.


“Kau membuatku semakin bingung Pengacara Jo. Aku harus memanggilmu apa sekarang? Pak HRD atau Pengacara Jo.” Ucap Kai dengan putus asa.


“Wah, menarik juga ya. coba aku pikir-pikir, bagusan mana ya...” Ucap Pengacara Jo sambil menimbang-nimbang.


“Dari pada kau memikirkan panggilan mana yang lebih bagus lebih baik kau memikirkan soal lamaranku. Apa kau mau menerimaku atau tidak.” Ucap Kai dengan sebal.


“Wah, jika kau orang biasa dan tanpa pengalaman dengan nada bicaramu seperti itu kau mungkin tidak akan diterima. Kau bisa kusebut sebagai pelamar yang sombong.” Ledek mengacara Jo.


“Terserah Ku. Aku lebih baik keluar sekarang.” Ucap Kai. Dia sudah sangat putus asa.


“Tunggu Tuan...Maksud saya Kai. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan anda.” Ucap Pengacara Jo.


“Apa?” Tanya Kai.


“Jadi begini....” Pengacara Jo tampak sangat serius.

__ADS_1


__ADS_2