Rahim Milik CEO Tampan

Rahim Milik CEO Tampan
Bab 24


__ADS_3

“Tidak...mungkin saja itu hanya kebetulan. Kesamaan nama, tanggal lahir dan nama ibu, mungkin itu hanya kebetulan yang nyaris bukan.” Gumam Kai dalam hatinya saat ia dalam perjalanan pulang ke rumahnya.


“Bruk!” Kai menabrak orang yang tengah berpapasan dengannya.


“Woy!” orang itu marah.


“Maafkan saya.” Ucap Kai merasa bersalah.


“Kalau jalan pakai mata!” Ucap orang itu dengan mata yang melotot.


“iya saya salah. Maafkan saya.” Ucap Kai.


Orang itu pun pergi.


“Aku terlalu banyak melamun akhir-akhir ini.” Gumam Kai pada dirinya sendiri. Ia melanjutkan jalannya.


Kai pun tiba di rumahnya agak telat, ini karena banyak tugas yang ia kerjakan di kantor sehingga menyita waktu pulangnya. Kai merasa tak enak, mungkin Lily sudah lama menunggunya. Apalagi dia sudah bilang bahwa akan masak untuknya. Kai benar-benar merasa bersalah.


“Aku pulang.” Ucap Kai.


“Kau sudah pulang?” Lily menghampiri Kai.


“Maaf karena aku pulang larut.” Ucap Kai dengan tampang bersalah.


“Ya, tak apa. aku tahu pasti kau sangat sibuk, apalagi ini hari pertamamu bekerja.” Ucap Lily sambil membawakan tas dan Jas Kai.


“Aku hanya tidak enak saja padamu, kau sudah masak untuk makan malam kita.” Ucap Kai.


“Masak? Apakah aku pernah berkata begitu?” Lily tampaknya tak ingat.


“Ah, syukurlah. Untuk hal ini aku benar-benar merasa lega.” Ucap Kai. Lily ternyata melupakan janjinya.


“Yah, pasti aku melupakan lagi sesuatu dalam otakku. Aku benar-benar tak becus. Untuk ingatan sederhana seperti itu saja aku mudah melupakannya.” Gumam Lily menyalahkan dirinya sendiri.


“Kau tidak boleh berkata seperti itu Lily. Begini saja....nah. ini adalah notes dan pulpen. Kau tulis saja apa-apa yang perlu kau ingat, dengan begitu jika kau lupa kau bisa mengingatnya kembali.” Ucap Kai sambil memberikan notes dan pulpennya pada Lily.


“Apa aku perlu melakukan hal ini?” Lily tampak tak yakin.


“Ya, aku rasa ini akan sangat membantu. Ambillah.” Ucap Kai.


“Baiklah,” Lily pun mengambilnya.

__ADS_1


“Karena kau tak masak, bagaimana kalau kita makan ramyoen dengan gimbab dan sosis saja? Aku yang akan memasakkannya untukmu. Kita akan memakannya sambil menonton drama di tv, pasti seru.” Ucap Kai.


“Wah, boleh tuh. Aku mau, tapi aku juga akan membantumu memasak. Jangan larang aku untuk kal ini.” Ucap Lily bersikeras.


“Ya, baiklah.” Jawab Kai.


Mereka pun beranjak. Kai membersihkan dirinya terlebih dahulu dan mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Setelah itu Kai kembali ke dapur dan menghampiri Lily.


“Aku rasa stok Ramyeon di rumah ini habis, begitu juga dengan rumput laut dan isian gimbab lainnya.” Ucap Lily sambil menunjukkan laci dan kulkas yang kosong.


“Oh, ya ampun. Aku baru ingat. Saat aku hendak belanja bulanan ke swalayan aku malah menghabiskan uangku untuk membeli beberapa kotak daging. Baiklah, aku akan membelinya lagi dengan kartu kreditku. Lihatlah, aku baru mendapatnya tadi pagi.” Kai menunjukkan kartu kredit miliknya yang ia peroleh dari perusahaan.


“Wah, keren sekali. Kalau begitu kita pergi berbelanja sama-sama ya. aku juga ingin membeli beberapa hal.” Ucap Lily.


“Tapi ini sudah larut,” Kai tampak ragu untuk mengajak Lily.


“Tak apa, aku kan bersamamu. Selama kau berada di sampingku maka semuanya aman terkendali.” Jelas Lily.


“Emm...baiklah.” setelah menimbang-nimbang, Kai pun menyetujui usulan dari Lily.


Mereka berdua mengambil jaket bepergian mereka, mengenakan sepatu lalu pergi ke luar berdua. Lily menggandeng lengan Kai. Mereka tampak serasi sebagai sepasang suami isteri.


“Kai, jangan bilang kau akan pergi ke swalayan itu. Tempat dimana aku dikerumuni oleh beberapa orang yang tak dikenal itu.” Lily tampak cemas.


“Kau benar. Harusnya aku tak takut karena kau ada di sampingku.” Ucap Lily sambil tersenyum ke arah Kai. Kai balas tersenyum padanya.


Mereka pun tiba di swalayan itu, tempat dimana Kai dan Lily sering berbelanja.


“Ya! kau lagi.” Ucap kasir swalayan itu.


“Aish! Dia lagi. Mana hari ini aku akan membeli ramyeon lagi.”Gumam Kai dengan wajah yang murung. Ia menyesal karena sudah datang ke tempat ini.


“Biar ku tebak, Shin Ramyeon kan? Dan bahan-bahan gimbab, sosis dan beberapa snack lainnya. Apa aku benar?” Ucap Kasir itu dengan tersenyum puas.


“Tidak, kau kurang tepat. Aku juga akan membeli beberapa sayuran dan telur. Juga beberapa keperluan isteriku.” Jawab Kai.


“Heol! Kau pasti bercanda. Mana mungkin pria kere sepertimu bisa mendapatkan seorang isteri.” Ucap Kasir itu dengan tatapan curiga.


“Terserah kau saja. Aku sudah lelah untuk berdebat denganmu.” Ucap Kai.


“Pasti dia hanya teman kencanmu, ya kan Nona cantik?” Ucap Kasir sambil tersenyum ke arah Lily.

__ADS_1


“Tidak, aku isterinya. Ini cincin nikah kita, tunjukkan itu padanya Kai.” Lily menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya dan di jari tengah Kai.


“Tak sangka Bung, pria sepertimu bisa menikahi seorang gadis. Apa kau dipaksa olehnya?” Ucap Kasir kepada Lily.


“Tidak, aku memang menyukainya.” Lily berkata itu dari hati yang paling dalam. Ia menatap wajah Kai dengan penuh kesungguhan.


“Tunggu, aku seperti pernah melihat wajahmu, tapi di mana ya?” Kasir itu mulai mengingat-ingat.


“Dia tidak mirip dengan siapapun. Berhentilah menanyai kami terus, kami harus berbelanja. Ayo Li..maksudku Dreeyana.” Kai langsung menarik Lily menjauh dari petugas kasir itu.


Kai dan Lily pun berkeliling untuk mengambil belanjaan mereka.


“Apa aku boleh membeli ini kai?” Tanya Lily dengan ragu.


“Tentu, ambillah. Kau tak urah ragu dengan harga, aku sekarang punya cukup uang.” Ucap Kai sambil memperlihatkan kartu kreditnya.


“Baiklah.” Lily pun mengambil barang itu.


Setelah selesai mengambil barang belanjaan dan memasukkannya ke keranjang belanjaan, mereka pun terpaksa harus kembali ke kasir untuk membayar. Kai tampak begitu malas untuk melakukan hal itu.


“Hah sudah kutebak, barang belanjaan yang sering kau beli, beberapa telur dan sayuran, dan beberapa kebutuhan isterimu. Tunggu, apa aku tidak salah lihat. Produk Scincare ini mahal, apa isterimu boleh mengambilnya?” Goda petugas kasir itu.


“Kau banyak bicara, cepat hitung total keseluruhan belanja kami lalu selesai. Aku sudah enggan melihat wajahmu lagi.” Ucap Kai dengan ketus.


‘Baiklah.” Petugas kasir mulai menghitung dengan cepat.


“Ini totalnya, lihatlah angka itu. Kau sanggup membaayarnya kan?” Ucap petugas kasir tampak meremehkan.


“Aish! Kau ini.” Kai kemudian mengeluarkan kartu kreditnya.


“Heol! Kau pasti bercanda. Apa ini asli? Apa kau benar-benar memilikinya?” Petugas kasir itu menerawang kartu kredit milik Kai.


“Cepat bayarkan.”Ucap Kai dengan tidak sabar.


“Baiklah, aku tidak akan kaget jika ternyata pembayaran ditolak.” Petugas kasir itu menggesekkan kartunya.


“silahkan masukkan paswordnya.” Ucap petugas kasir.


“Payment succesfully.” Terlihat tulisan itu di layar komputer kasir.


“Hoel!” Petugas kasir itu ternganga.

__ADS_1


“Besok-besok jangan meremehkan orang lain.” Ucap Kai mengambil kembali kartunya.


“Ayo kita pergi.” Kai dan Lily pun keluar dari swalayan.


__ADS_2