
Kini resleting itu terbuka sepenuhnya. Kai dapat melihat setiap lekukan dari tubuh Lily. Sebuah tubuh yang sempurna bak patung yang dipahat dengan halus. Kulitnya seputih pasir di pantai. Semuanya tampak sempruna dengan porsi yang pas. Kai mulai menikmati setiap lekukan itu dari mulai dagu hingga leher. Tak hanya putih, kulitnya juga sewangi bunga camomile.
Nampaknya tak adil bagi Lily jika hanya dirinya yang dilihat dengan jelas oleh Kai. Lily juga melepaskan kancing baju Kai satu persatu. Lily sudah mengira jika pria itu memiliki tubuh bak binaragawan. Tetapi kulit Kai tampak pucat sehingga tampak berkilau ditempa sinar lampu. Lily dapat merasakan detak jantung Kai yang semakin lama semakin kencang.
Di malam itu, rembulan bersinar terang. Angin musim panas berhembus dari celah jendela mengenai kulit kedua orang itu. Lily bersender pada sofa dekat jendela dengan Kai yang bertumpu padanya. Lily menatap dari dekat bola mata pria itu. Yang jika dilihat dari dekat berwarna cokelat terang. Lily mengalihkan perhatiannya ke tubuhnya sendiri. Kai kini hendak melepaskan satu-satunya kain yang menempel di tubuhnya.
Jika kain itu terlepas, maka Lily benar-benar menjadi milik Kai malam ini. Lily tak menghentikan Kai sedikitpun, karena ia juga sudah melepaskan semua kain yang melekat pada tubuh pria itu. Saat kain itu telepas, sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
“Aku bahkan belum menyentuhmu tetapi darah itu keluar lebih dulu.” Ucap Kai dengan muka agak sedikit kecewa.
“Apa?” Awalnya Lily tak paham dengan apa yang diucapkan Kai. Tapi kemudian ia sadar.
“Maaf, hari ini adalah awal periode menstruasiku.”Ucap Lily sedikit canggung.
“Tak apa. Kau bisa beristirahat dengant tenang malam ini. selamat malam.” Kai hendak menjauh dari Lily tetapi tiba-tiba Lily menahan dirinya.
“Tunggu. Setidaknya lama ini aku bisa tidur bersamamu.” Ucap Lily menarik Kai.
Pasangan itu pun tidur di lantai dekat jendela. Dan mereka tak kunjung memasangkan kembali kain-kain itu ke tubuh mereka. Mereka malah memiilih untuk menutupinya dengan selimut.
“Rembulannya tampak cantik. secantik wajahmu.” Tampaknya malam ini Kai hanya bisa mengagumi lekukan indah tubuh wanita itu.
“...”Lily tak menjawab, ia kemudian balas mendekati Kai dan menyenderkan kepalanya di bahu Kai. Kini Lily tertidur dengan kepala yang persender di bahu Kai.
“Selamat malam.” Gumam Lily sambil mengelus wajah Kai.
“Tidurlah dengan nyengak.” Kai kini mendekap Lily.
Malam itu pun berlalu dengan begitu romatis dan hangat.
Keesokan paginya Kai bangun pagi sekali. Sementara Lily masih tertidur. Kai sengaja tak membangunkannya. Ia tak tega membangunkan Lily yang tenag terlelap tidur. Kai pun turun ke bawah tanpa Lily.
Di bawah, Nenek sudah siap menunggu mereka di meja makan dengan hidangan yang sudah tertata rapi. Segala jenis menu sarapan dari berbagai tempat tersaji di meja makan itu. Kai lalu duduk.
“Di mana wanita itu?” Tanya Nenek.
__ADS_1
“Dia masih tertidur.” Kai mencoba membuat ekspresinya seolah tak menyukai Lily dan angkuh.
“Tertidur? Jam segini? Dasar wanita tak tahu diri. Dia harus diberi pelajaran.” Ucap Nenek dengan alis yang dinaikkan.
“Tunggu nek, biarkan saja dia.” Kai mencoba mengentikan.
“Tidak bisa! mentang-mentang dia sudah melayanimu semalaman penuh lalu dia berlepas diri dari kewajiban yang lainnya? Nenek juga waktu menjadi menantu untuk ang pertama kalinya tak seperti itu. Pagi-pagi nenek sudah bangun, nenek melayani kakekmu, menyiapkan makannya, bajunya dan lain-lain. Dia malah enak-enakan tidur. Dia harus diberi pelajaran.” Nenek berjalan cepat menuju kamar Kai.
“Nek tunggu nek.” Kai tak bisa menghentikan neneknya.
Nenek pun tiba di depan kamar Kai. Tanpa aba-aba ia langsung menggedor pintu kamar dengan kencang.
“Bangun dasar pemalas! Bangun!” Nenek meneriaki Lily.
Mendengar ketukan dari luar dan suara keras nenek spontan Lily yang belum mengekakan busana dan hanya mengenakan pakaian dalam lagsung berlari membukakan pintu.
“Astaga!” Nenek kaget dengan tampilan Lily.
“...” Kai memberi kode kepada Lily. Lily pun kaget, ia baru menyadari bahwa ia tak mengenakan pakaian. Wajahnya lansgung berubah merah.
“Lihatlah kelakuan wanita itu! Bahkan dia belum mengenakan pakaian. Apa kau mengahabisinya semalaman penuh Kai?” Tanya Nenek.
“Hah? Apa? Eee...tt—ti—teen—tu.” Kai hendak menyangkal tetapi ia terpaksa mengiyakan.
“Ya, baguslah, dengan begitu semakin cepat kau akan mendapatkan anak. Kalau bisa jangan satu atau dua, empat atau lima. Agar rumah ini ramai.” Pinta Nenek.
“Hah...eeee...iii—iiya.” Kai tampak canggung.
Lily kembali membuka pintu. Ia kini sudah berpakaian rapi. Ia juga sudah menata rambutnya dan cuci muka. Tampilannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia kini terlihat cantik natural tanpa polesan make up.
“Kau...kau cantik.” Puji Kai saat Lily kembali keluar.
Lily tersipu malu.
“Lama sekali, padahal hanya pakai baju. Dengar, karena kau telah bangun siang nenek akan memberimu pelajaran.” Ucap nenek dengan melotot.
__ADS_1
“Sudahlah nek. Biarkan dia, Kai akan menasihatinya nanti.” Kai mencoba membela Lily.
“Jangan sekali-kali kau mecoba untuk membelanya. Dimana harga dirimu? Apa kau takut kepada istrimu? Kau seorang suami, derajatmu jauh lebih tinggi daripada dia. Jadi jangan hentikan nenek untuk memberinya pelajaran.” Ucap Nenek dengan penuh amarah.
“Nek, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku benar-benar minta maaf.” Lily kini bersimpuh di hadapan Nenek.
“Ishh, apa-apaan kau ini. aku tidak akan mempan jika hanya dengan hal seperti ini. hukuman akan tetap berlaku. Kau harus menanggungnya.” Nenek menjauhkan kakinya dari Lily yang tenagh bersimpuh.
“Nek, sudah.” Ucap Kai.
“Kau jangan ikut campur. Ini urusan nenek dengan istrimu. Sekarang kau lebih baik bernagkat kerja, kau akan telat. ada rapat penting yang tak bisa di tunda hanya karena urusan wanita ini. cepat kau pergi sekarang.” Ucap Nenek kepada Kai.
“Tapi nek..” Kai masih bersikeras.
“Sudah pergi sana! Atau kau juga akan nenek hukum!” ancam nenek.
“baiklah.” Kai pun terpaksa pergi.
“Maaf Lily, aku gagal dalam menjagamu. Tapi aku tak akan tinggal diam. Aku akan terus berusaha mencari cara agar kita bisa lolos dari sini.” Ucap Kai dalam hatinya.
“Kai, tolong aku, jangan pergi Kai.” Lily menangis memohon pada Kai.
“...”Tetapi Kai tidak merespon.
“Cepat pergi sekarang!” Nenek semakin emosi.
Kai pun pergi.
Dari luar Kai bisa mendengar suara jeritan Lily. Hati Kai mulai tak tenang. Entah apa yang nenek lakukan pada istrinya sekarang. Kai harus cari cara agar bisa menyelamatkan Lily.
“Ikut aku sekarang.” Nenek menyeret Lily dengan kencang.
“Tidak Nek. Kumohon jangan apa-apakan aku. Aku minta maaf nek.” Lily mencoba melepaskan diri dari tarikan Nenek.
“diam.” Nenek menarik Lily terlalu kencang sehingga Lily terjatuh ke tangga.
__ADS_1
“Aaaaa.” Teriak Lily.