
Kai, aku takut. Bagaimana jika rencana kita gagal dan ibu tidak selamat. lalu kita juga akan dalam bahaya.” Gumam Lily dalam perjalanan.
“Tenanglah Lily, aku yakin rencana kita akan berhasil. Jika perhitungan pengacara Jo benar, maka di tempat itu akan ada nenek, paman Jung Hwan dan antek-anteknya.” Ucap Kai menjelaskan.
“maka kita akan semakin sulit.” Ucap Lily semakin cemas.
“Tapi kesempatan kita dalam mengalahkan mereka semua di satu tempat dan di waktu yang bersamaan semakin besar. Seperti menembak sekawanan domba dengan satu kali tarikan peluru.” Ucap Kai.
“Semoga saja kita bisa keluar dari sana dnegan selamat.” Ucap Lily dengan cemas.
“Ya, semoga saja.” Ucap Kai sambil menyetir.
Mobil melesat diantara jalanan yang sepi. Mereka tengah melewati hutan lebat dengan minim penerangan jalan. Mobil itu berjalan sendirian diantara rimbunnya hutan dan gelapnya malam.
Suasana berubah menjadi pesisir pantai. Mereka melewati hamparan pasir pantai dan pantulan sinar rembulan dari air laut yang tampak berkilauan. Tak jauh dari situ terdapat sebuah dermaga kecil yang sudah usang. Mereka menghentikan mobil di dekat dermaga itu.
“Kita sampai.” Ucap Kai.
Lily tampak begitu tegang.
Mereka berdua pun keluar dari mobil dan mulai berjalan diatas pasir putih yang lembut. Mereka pun berjalan diantara dermaga yang sudah reyot itu.
“Ayo!” Kai naik ke atas perahu kecil yang berlabuh di dermaga itu. Lily oun ikut naik ke perahu kecil itu. Perahu itu hanya muat untuk dua orang. Kai mulai mendayung.
“Tujuan kita ada di pulau kecil itu.” Kai menunjukkan pulau kecil yang ada di sebrang kepada Lily.
“Jadi ibuku ada di sana?” Tanya Lily masih terlihat cemas.
“Ya, kemungkinan besar begitu.” Jawab Kai.
“Apa kau sudah siap?” Kai tampak ragu dengan ekspresi Lily.
“Ya, aku siap. Hanya saja, aku begitu menghawatirkan kita.” Jelas Lily.
“Lily, kita tidak boleh terpisah ya, jika terjadi sesuatu diantara kita kita harus tetap bersama. Bukankah itu janji kita sewaktu kecil?” Tanya Kai.
__ADS_1
“Ya, aku masih mengingatnya. Aku berjanji akan selalu ada di sampingmu Kai.” Ucap Lily. Rambutnya terkibas oleh angin laut membuatnya terlihat begitu anggun. Untuks esaat, Kai melupakan kecemasan dan ketakutannya. Melihat Lily, pasangannya ada di sampingnya, hati Kai langsung tenang.
Mereka mendayung hingga ke tepian pulau kecil itu. Tampak sebuah mercusuar yang menyala redup dari pulau kecil itu. Kai mencoba untuk membenarkan posisi perahunya agar berlabuh dengan benar dan tidak menabrak karang.
“Kita hampir sampai.” Kai mendekatkan perahunya ke tepi pantai. Tidak ada dermaga di sana.
“Ayo Lily.” Ucap Kai. Lily tampak cemas.
Mereka pun keluar dari perahu dan mulai menapaki pulau kecil itu. Suasana tampak gelap gulita. Tidak ada penerangan lampu sama sekali. Ternyata semuanya sesuai dengan perkiraan pengacara Jo. Bahwa Kai dan Lily akan dibiarkan kebingungan di pulau ini tanpa diberi petunjuk sedikitpun. untungnya Kai sudah bersiap terlebih dahulu. Ia diberi tahu arah ke tempat di mana ibu di sandra dan ada bahaya apa saja yang ada di pulau itu.
“Aku takut ada bahaya besar yang menanti kita di depan Kai. Pulau ini begitu misterius tertutup oleh kabut dan gelapnya malam.” Ucap Lily dengan ketakutan.
“Tidak, mereka tidak akan berani mencelakaiku ataupun kau. karena mereka butuh kita hidup-hidup. Mereka butuh kita untuk menandatangani surat harta waris keluargaku.” Jelas Kai.
“Tetapi mereka sengaja memasang jebakan untuk kita agar kita menjadi lemah sehingga saat sampai di sana mereka akan dengan mudah mengalahkan kita tanpa perlawanan. Jadi berhati-hatilah, ada banyak jebakan di sini. kau jangan jauh-jauh dariku.” Ucap Kai.
“Aku begitu takut.” Lily merapatkan tubuhnya ke dekat Kai.
“Ayo kita jalan sekarang.” Ucap Kai.
Lily pun mengikuti.
“Pagar? Hutan seperti ini di pagar?” Tanya Lily dengan bingung.
“Jangan sentuh pagar itu. Itu pagar bertegangan listrik. Aku akan membukanya dengan peralatan yang ku bawa.” Ucap Kai. Ia menurunkan ranselnya dan mulai mengeluarkan alat yang ia bawa.
“Hutan ini di pagar karena mereka memeasang jebakan hidup sejauh 500 meter dari titik ini.” Jelas Kai.
“Jebakan hidup?” Lily tak paham dengan maksud ucapan Kai.
“Macan kumbang. Ada macan kumbang di tempat ini. dan dalam ekadaan kelaparan. Kita adalah mangsa yang mepuk baginya.” Jelas Kai sambil mencoba membuka pagar itu.
“Itu berarti kita sama saja masuk ke dalam kandang macan?” Lily semakin ketakutan.
“Ya, api tenanglah, kita sudah menyiapkan rencana. Kautidak perlu khawatir.” Ucap Kai.
__ADS_1
“Apa kau yakin dengan rencanamu? Apa tidak ada jalan lain?” Tanya Lily dengan gemetaran.
“Tidak, semua tempat di pulau ini sama. Dipasangi jebakan. Bahkan sisi lain mungkin jauh lebih berbahaya. Hanya sisi ini yang mungkin dapat kita lewati.” Jelas Kai.
“Bagaimana? Tubuh kita tidak di desain untuk kebal terhadap serangan macan.” Ucap Lily dengan panik.
“Kita tidak akan berjalan di abwah, kita akan memanjati pohon-pohon itu. Aku sudah membawa alatnya. Kau tenang saja.” Ucap Kai.
“Dari mana kau dapati semua alat itu?” Tanya Lily dengan bingung.
“Apa kau kira kakekku hanya mewarisiku harta saja? Ia juga meawirisiku alat-alat ini. awalnya aku juga tidak tahu. setelah tadi pengacara Jo memberi tahuku soal ini, barulah aku tahu. nampaknya Kakek sudah tahu jika nenek tiriku akan melakukan ini padaku. Ia juga sudah tahu kalau nenek tiriku ternyata dalang dibalik kehancuran keluarganya. Tapi semuanya terlambat, belum sempat kakekku membalaskan dendamnya, ia malah keburu tidak ada.” Jawab Kai.
“Berhasil!” Pagar itu terbuka.
“Ayo berangkat sekarang.” Ucap Kai.
“Dengan ketakutan Lily pun mengikuti Kai.
“Kai, aku takut...”Ucap Lily sembari memegang erat lengan Kai.
“Tak usah takut. Dengar, pohon yang akan kita naiki berada sepuluh meter dari tempat kita saat ini. kita hanya perlu berjalan mengendap-endap supaya tidak ketahuan oleh macan itu. Jangan buat suara sekecil apapun atau macan itu akan menerkam kita.” Ucap Kai sambil berbisik.
“...” Lily menganggukan kepalanya. Mereka pun berjalan mengendap-endap.
“RRRRR...”Terdengar suara macan.
“....”Lily menutup mulutnya dengan tangannya supaya tidak kelepasan berteriak saking takutnya.
Mereka terus berjalan diantara kegelapan dan erangan macan. Nampaknya macan itu juga mencium bau mereka. Macan itu mulai bergerak mencari keberadaan mereka.
“Sedikit lagi kita akan sampai.” Bisik Kai sepelan mungkin.
“Arrrrrggggghhhh!” Macan itu mengaum. Seketika jantung mereka terasa berhenti. Macan itu kini berlari ke arah mereka.
“Kai...” Ucap Lily ketakutan.
__ADS_1
“Ayo kita berlari, lagi pula pohonnya sudah di depan kita.” Ucap Kai.
“Lari...”Kai langsung berlari terbirit-birit sambil menarik Lily.