Rahim Milik CEO Tampan

Rahim Milik CEO Tampan
Bab 25


__ADS_3

“Ya! kau bukannya membeli wine kemarin? Sekarang kau membeli lagi yang baru?” Ucap salah seorang pria yang tengah berjaga di sebuah gang kecil.


“Kau tahu, semenjak aku bekerja di sini dompetku selalu kekenyangan oleh uang. Aku bahkan tak mampu menaruh uang lagi di dalamnya. Makanya aku menghabiskan sebagian dari uangku untuk wine favoritku.” Ucap pria yang satunya lagi dengan cekikikan.


“Kau benar, kita beruntung sekali bisa bekerja di sini. tapi uangku selalu hampir habis karena aku harus membiayai istri dan anak-anakku. Masih mending kau masih melajang. Aku sarankan jangan buru-buru menikah, nikmatilah dulu hidupmu baru kau memikirkan seorang wanita.” Ucap pria yang lebih tua itu menasihati.


“Tentu saja, untuk saat ini aku lebih mencintai botol wine ini daripada seorang wanita. Mereka tampak berisik dan menyusahkan.” Jawab pria yang lebih muda.


“Pemikiran seperti itu tak selamanya benar. Menikah itu ada enak dan tidak enaknya.” Pria yang lebih tua menyanggah.


“Enaknya?” Tanya pria yang lebih muda.


“Hidupmu tidak flat dan sepi. Kau memiliki teman yang akan menemanimu, mengurusmu dan menyayangimu. Ya walau tidak semua begitu. Tapi yang aku rasa setelah menikah, aku jadi lebih memiliki semangat untuk hidup. Jika sebelumnya aku hidup dan bekerja hanya untuk memenuhi isi perutku sekarang aku bekerja untuk menciptakan rumahku. Rumah kebahagiaan yang aku bangun bersama isteri dan anakku. Mungkin kau belum bisa memahaminya, tapi suatu saat kau akan mengerti.” Ucap pria yang lebih tua.


“Kau terdengar seperti kakekku. Lalu bagian yang tidak enaknya?” Pria yang lebih muda bertanya kembali.


“bebanmu makin besar, kau harus mengidupi orang lain, kau juga harus mencari uang lebih banyak. Kau akan sering mengalami pertengkaran dengan isterimu. Itu tidak bisa dipungkiri. Belum lagi soal anak, jika kau memilih untuk memiliki anak. Aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak setiap malam. aku kerap dihantui oleh rasa cemas. Bagaimana hari esok, apa aku masih memiliki cukup uang untuk masa depanku dan anakku. Pokoknya banyak lah.” Jelas pria itu.


“Huft, terdengar rumit. Astaga! Bos datang.” Pria yang lebih muda langsung menyembunyikan botol wine nya.


“Aku harus membukakan pintu mobil bos. Kau berjaga di sini dengan posisi siap.” Ucap Pria yang lebih tua dengan tampang yang berubah menjadi serius.


“Ya, baiklah.” Pria yang lebih muda berdiri dalam kondisi siap sedia.


Sebuah mobil hitam mewah dengan nomor plat mobil yang telah di palsukan berhenti di pintu masuk gang. Gang itu sangat sempit, hanya bisa dilalui oleh satu orang, makanya mobil itu tak bisa masuk.


“Selamat datang Tuan dan Nyonya.” Ucap Pria itu sambil membukakan pintu mobil.


“Nek, kita akan jalan ke sana.” Ucap Jung Hwan dengan mengibaskan rambutnya. Ia mengenakan kacamata hitamnya serasi dengan jas hitam yang ia kenakan.

__ADS_1


“Aku akan tinggal di tempat seperti ini?” Tanya Nenek dengan mengernyitkan hidungnya.


“Dari luar memang terlihat buruk, aku sengaja memilih lokasi ini agar tidak ada orang yang menegtahui keberadaan kita. tapi percayalah, tempat kita tinggal jauh lebih baik dari kelihatannya.” Jawab Jung Hwan.


“Aku harap kau tidak sedang membual.” Ucap Nenek dengan tatapan sinisnya.


“Mari Tuan, Nyonya.” Pria itu menuntun jalan.


Nenek tampak tak nyaman sepanjang jalan. Ia merapatkan dirinya Ke Jung Hwan karena takut bajunya bergesekan dengan dinding gang itu. Mungkin tempat ini sangat menjijikan baginya.


Mereka pun tiba di sebuah rumah dengan enam lantai menjulang ke atas. rumah itu tampak sangat tua dan tak terawat dari luar. Nenek tak yakin saat pertama kali melihat tempat itu. Benarkah anaknya menyuruhnya tinggal di tempat seperti ini?


“Kau tidak sedang bercanda kan Jung Hwan?” Tanya Nenek dengan ekspresi tak percaya.


“Memangnya kenapa?” Ujar Jung Hwan.


“Tempat kumuh ini akan menjadi tempat tinggal kita? melihatnya saja aku tidak sanggup.” Ucap Nenek dengan jijik.


“Jika di dalamnya sama saja dengan tampilannya maka tanpa berpikir panjang lagi aku akan langsung pergi dari sini.” Ujar Nenek dengan menutupkan matanya sebagian.


“Tidak, nak. masuklah. Nenek lihat sendiri.” Jung Hwan mempersilahkan neneknya masuk ke dalam.


Di dalam ruangan itu, yang pertama kali terlihat adalah karpet merah yang digelar sepanjang pintu masuk hingga ke dalam. Kemudian ada beberapa pelayan yang bersiap menyambut mereka. Ruangan itu bak hotel bintang lima. Tak sangka jika di dalamnya akan semewah ini.


“bukalah mata nenek.” Ucap Jung Hwan.


Nenek membuka matanya. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. ternyata Jung Hwan benar. Di dalamnya tidak seperti tampilan luarnya. Nenek pun merasa lega.


“Syukurlah ternyata tidak seburuk dugaanku.” Ucap nenek dengan puas.

__ADS_1


“Ayo ke ruang tengah. Ada beberapa hal yang ingin aku bahas bersama nenek. Ini terkait rencana besar kita. kita akan membahasnya sambil makan malam.” Ucap Jung Hwan.


“Ya baiklah, aku juga sudah lapar.” Jawab Nenek.


Mereka kemudian memasuki ruang tengah. Terdapat sebuah meja makan besar yang terbuat dari marmer dan kristal. Sangat mewah dan elegan. Lalu diatasnya tersaji berbagai makanan yang mewah dan lezat yang membuat siapapun akan tergugah seleranya.


Mereka pun makan malam. nenek tampak puas dengan makanannya karena sebelumnya ia hanya makan makanan rumah sakit. Jung Hwan yang juga tengah menikmati makan malam kemudian memulai topik pembicaraan.


“Jadi apa renacana kita selanjutnya?” Tanya Jung Hwan sambil menyuapkan sepotong daging steak ke mulutnya.


“Kita harus segera melenyapkan Kai. Jika tidak maka kita tidak bisa hidup dengan tenang. Apa kau punya rencana yang bagus dalam melenyapkan pria itu?” Nenek malah kembali bertanya.


“Ya, aku punya. Tetapi rencana ini jadi sedikit rumit karena status kita sebagai buronan. Tapi aku rasa rencana ini akan berhasil.” Jawab Jung Hwan dengan serius.


“Apa rencananya?” Tanya Nenek dengan penasaran.


“Begini....”Jung Hwan mulai menjelaskan rencananya secara detail.


“Sungguh ide yang brilian. Bagus, bagus. Kau memang anakku. Aku harap rencana kali ini akan sama berhasilnya dengan rencana-rencana kita yang sbelumnya. Dengan begitu seluruh kekayaan Keluarga Park benar-benar menjadi milik kita.” Ucap Nenek dengan penuh ambisi.


“Tentu. Kita psati berhasil.” Jawab Jung Hwan dengan tatapan yang tajam.


“Tapi, kau benar juga. Rencana kita kali ini benar-benar beresiko. Aku harap kau tidak mengorbankan dirimu lagi seperti sebelumnya.” Wajah nenek berubah jadi khawatir.


“Tenang saja, tidak ada yang bisa menangkapmu. Sudah kubilang kalau aku si Jung Hwan yang licik. Aku begitu licin sehingga tak ada yang bisa menjerat atau menangkapku.” Jung Hwan menganggap remeh kecemasan nenek.


“Ya, semoga saja ucapanmu benar.” Nenek menatap kosong ke arah piringnya. Nampaknya ia masih menghkawatirkan puteranya.


“Sudah kubilang untuk tenang. Kita pasti berhasil. Ayo bersulang!” Jung Hwan mengangkat gelasnya.

__ADS_1


“Bersulang.” Nenek juga mengangkat cangkirnya.


__ADS_2