Rahim Milik CEO Tampan

Rahim Milik CEO Tampan
Bab 7


__ADS_3

Pagi itu, setelah dinasehati oleh ibunya, Lily memantapkan diri untuk pergi menemui Junho sehari sebelum hari pernikahannya. Awalnya Lily ragu untuk memberi tahu Junho soal pernikahannya, tetapi Lily juga akan sangat kejam jika tidak memberi tahunya.


Lily berangkat menemui Junho dengan diantar oleh managernya.


“Baguslah. Memang benar kau harus memberi tahunya. Oh, dan pastikan dia tidak mengetahui dengan siapa kau akan menikah. Dan dia juga harus jaga rahasia bahwa kau akan menikah. Orang lain di luar sana harus tetap menganggap kau masih lajang jika kau masih ingin jadi idol.” Managernya menasihatinya.


“Ya, aku tahu itu. Tapi rasanya tak tega. Apa aku terlalu kejam padanya?” Ucap Lily sambil meratapi jalan yang ada di depannya.


“Tentu saja tidak. Justru kau akan kejam jika meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan apapun sebelumnya. Kau memang seharusnya tidak bersamanya, ini demi kebaikanmu Lily. Kai, dia orang kaya, kau akan hidup berkecukupan, tapi jika Junho, aku tidak bisa membayangkannya. Mungkin kau akan tinggal di apartemen kecil di pinggiran kota jika kau menikah dengannya.” Ucap Manager sambil menyetir.


“Tega sekali kau berkata seperti itu padanya. Siapa tahu suatu saat dia jadi idol yang terkenal, aku mungkin akan menyesalinya karena telah mencampakkannya.”


“Tidak, kau tidak akan pernah menyesalinya Lily. Percayalah padaku. Lagi pula aku rasa dia bukan pria yang baik.”


“Ah, sudahlah. Tak ada gunanya aku berbicara denganmu Pak Manager.”


“Ya sudah. Lagi pula kita sudah sampai. Ayo cepat turun.” Lily kemudian turun dari mobil, sementara manager menunggunya di dalam mobil.


Sebelumnya, Lily sudah janjian dengan Junho untuk bertemu dengannya di restoran ini. sebenarnya Lily tak enak karena telah memilih restoran ini. restoran ini mahal, memang sangat pribadi dan eksklusif, tapi Lily takut jika Junho tak sanggup membayar makanan yang ada di restoran ini. Lily memilih tempat ini atas saran dari managernya, katanya agar privasi mereka terjaga. Akhirnya Lily mengiyakannya.


Lily kemudian masuk ke restoran itu. Nampak Junho sudah menunggunya. Lily kemudian berjalan ke arah Junho.


“Hai.”Sapa Lily pada Junho.


“Hai Lily.” Junho tampak senang melihatnya.


Lily kemudian duduk di sebelah Junho.


“Aku tak mengira jika kau akan mengajak kencan di restoran semewah ini. tapi sebelumnya aku ingin terus terang saja, aku tak bisa membayar makanannya, aku sudah melihat menunya. Dan harnganya tidak ada yang murah kecuali air putih. Maafkan aku karena belum bisa mentraktirmu makan di retoran mewah ini.” Ucap Junho kemudian wajahnya tertekuk.

__ADS_1


“Tak apa. Aku juga tidak akan memesan makanan. Sebenarnya, aku memintamu ke sini bukan untuk kencan Junho.” Ucap Lily dengan ragu.


“Lalu apa?” Junho tampak bingung.


“Sebenarnya...sebenarnya...” Sulit sekali untuk mengatakan itu bagi Lily.


“Sebenarnya?” Junho semakin dibuat penasaran.


“Sebenarnya...aku...aku..mengajakmu kemari karena....”


“Karena aku ingin mengakhiri hubungan kita.” Lily menyelesaikan ucapannya dengan embusan napas yang berat.


“Ke—ke—napa?” Junho kaget mendengar perkataan dari Lily. Kata-katanya bahkan seakan tercekat. Junho merasa terguncang dengan kabar itu.


“Maafkan aku Junho, aku benar-benar mencintaimu tapi...”Lily tak kuasa melanjutkan ucapannya.


“Tapi aku harus menuruti kemauan ibuku. Aku telah dijodohkan dengan seseorang Junho. Aku tak bisa menolaknya.” Jelas Lily yang tak kuasa membendung air matanya lagi. Ia pun menitikan air mata.


“Oh, jadi karena itu. Aku paham sekarang.” Junho kemudian tertunduk lesu.


“Jangan marah Junho, aku juga tak ingin meninggalkanmu, tapi kenyataan memaksa kita untuk berpisah.” Lily mengatakannya sambil terisak tangis.


“Aku paham Lily. Mungkin salahku juga karena dari dulu aku hanya seperti bermain-main denganmu. Seharunya aku mengambil langkah serius denganmu. Tapi apalah dayaku, aku hanyalah pria biasa. Aku tak mempunyai apapun untuk menikahimu. Jika kau menikah denganku, maka aku akan memeberimu kana dnegan apa? Kau malah akan hidup susah.” Junho kini menitikan air mata.


“Tidak Junho, kau pria yang hebat. Kau lebih dari apapun yang kau kira. Jangan berkecil hati seperti itu.” Lily mencoba menguatkan perasaan Junho.


“Tak apa Lily, aku menerimanya. Mulai sekarang aku tidak akan mendekatimu lagi atau menghubungimu. Aku doakan semoga pernikahanmu bahagia dan langgeng. Tenang saja, aku juga akan menajaga rahasia ini. tapi satu hal, meski kau sudah bukan pacarku lagi. Aku harap, suatu saat jika kita bertemu lagi kita masih akrab dan baik-baik saja.” Ucap Junho.


“Tentu Junho. Kau akan tetap menjadi sahabat terbaikku.” Lily kini benar-benar terisak tangis.

__ADS_1


Keesokan harinya, pernikahan itu pun digelar. Lily tengah dirias oleh penata rias. Setelah selesai ia kemudian mengenakan gaun pengantin yang sebelumnya ia pilih dari butik mewah itu. Lily masih tak percaya jika benda berkilau yang menghiasi gaun itu adalah berlian.


Setelah selesai di dandani Lily pun bercermin. Wajahnya terlihat sangat cantik dibalut gaun dan polesan make up seorang MUA profesional. Ia mengagumi wajahnya di cermin cukup lama.


Para fans nya mungkin tidak akan mengenalinya lagi. Lily benar-benar terlihat berbeda dengan gaun dan riasan wajahnya kali ini. Lily kemudian teringat seseorang. Ia pun meraih ponselnya dan menelpon seseorang.


“Hallo. Pak manager. Apakah kau bersama ibu saat ini?” Tanya Lily. Ternyata ia menghubungi managernya.


“Tentu, memangnya kenapa?” Tanya Pak manager.


“Panggilkan Ibuku untuk datang ke tempatku sekarang. Aku sudah selesai di rias, aku ingin melihat rekasi ibuku saat aku menegnakan gaun pengantin.” Ucap Lily.


“Oh, baiklah, tapi aku tidak janji kalau ibumu bisa ke sana. Di sini Ibumu tengah ditahan oleh nenek dari Tuan Kai. Nenek mengajak ngobrol ibumu cukup lama.” Jelas manager.


“Aku tak mau tahu pokoknya aku ingin Ibuku datang ke sini. kau harus mengusahakannya ya.” Lily memaksa.


“Ya, ya. akan ku coba.” Manager pun menutup telponnya.


Lily kemudian duduk di depan cermin sambil menunggu ibunya datang. Lily menunggu beberpa waktu, ia pun membuka layar pnselnya karena merasa bosan. Lily membuka album fotonya. Ia kembali melihat-lihat foto-fotonya beberapa tahun silam. Lily merasa waktu begitu cepat berlalu. Ia menggeser-geser fotonya hingga ia menemukan fotonya bersama ibunya waktu kecil.


Saat itu ia pergi ke taman kanak-kanak untuk pertama kalinya. Lily tertawa saat melihat foto salah satu anak yang berdiri di sampingnya menangis. Anak laki-laki itu, ya Lily ingat sekarang. Dia anak laki-laki yang pemalu. Saat pertama kali masuk ia tak mau lepas dari ibunya. Dan lily ingat bahwa yang membuatnya mau lepas dari ibunya adalah karena Lily. Lily berhasil membujuk dan meyakinkan pria itu agar mau masuk ke kelas dan melepaskan ibunya. Dan setelah hari itu, mereka menjadi teman dekat.


Tapi Lily tak ingat siapa nama anal laki-laki itu dan mengapa mereka bisa berpisah. Kira-kira, ada imana anak laki-laki itu sekarang. Ah, sudahlah, Lily tak seharusnya memikirkan hal tak penting semacam itu. Ia harusnya memikirkan pernikahannya saat ini.


Ibu mengetuk pintu, saat masuk wajahnya langsung gembira dan terharu. Matanya berkaca-kaca saat melihat puterinya kini mengenakan gaun pengantin.


“Kau sangat cantik Nak. Kau pengantin wanita tercantik yang pernah ibu lihat.” Puji Ibunya.


“Ibu bisa saja.” Jawab Lily.

__ADS_1


__ADS_2