
“Ada apa ini?” Ibunya kemudian masuk ke dalam.
“Dia..dia..”Kai hendak bicara.
“Ibu, keluarkan pria asing ini dari ruangan ini! aku takut padanya, ia terus menerus memaksaku untuk mengingat hal-hal yang asing bagiku. Kumohon keluarkan dia sekarang.”Lily meringis sembari memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing.
“Nak, keluarlah sekarang. Ibu rasa dia sedang tak ingin bertemu denganmu. Dan tolong, untuk saat ini jangan paksa ia untuk mengingat hal apapun lagi. Ia baru pulih, ibu takut kehilangan ia lagi.” Ucap Ibu sembari memeluk Lily.
“Tapi...”Ucap Kai.
“Ibu mohon, keluarlah sekarang.” Ibu memaksa.
“Baiklah.” Kai pun tak dapat menolaknya.
Falshback 2 bulan sebelumnya....
Kai tengah menyetir mobilnya menuju kantor. Perasaanya tak tenang karena memikirkan Lily yang tengah dimarahi oleh neneknya. Kai takut terjadi sesuatu pada Lily. Ia tahu seperti apa neneknya ketika marah dan penyakit kejiwaanya itu tengah kambuh. Nenek tak segan akan menghabisi seseorang jika sedang seperti itu.
“Aku tidak bisa diam saja, aku harus kembali. Perasaanku benar-benar tidak enak.” Kai kemudian memutar balik mobilnya menuju rumahnya.
Saat hampir sampai ke rumahnya, Kai terkendala dengan jalanan yang macet sehingga ia harus terjebak dalam arus yang lambat itu. Berkali-kali Kai menyalakan klaksonnya. Tetapi percuma saja, itu hanya akan menambah keruwetan. Kai pun memutuskan untuk meninggalkan mobilnya dan meneruskan perjalannya dengan jalan kaki. Toh rumahnya juga sudah dekat.
Kai berlari dengan cepat, ia seakan tengah dibisiki oleh hatinya bahwa Lily sedang tak baik-baik saja. Dan benar saja, ia menerima sebuah panggilan. Dari rumah, hati kai mulai mencelos.
“Hallo.”
“Hallo, Tuan, telah terjadi sesuatu terhadap Nenek dan istri Tuan.”
“Apa?”
“Iya Tuan, mereka jatuh adri tangga di lantai tiga. Kami sudah memanggil ambulance dan mereka tengah ditangani oleh perawat pribadi. Mohon untuk segera pulang Tuan.”
“Ya, aku juga sedang dalam perjalanan pulang. Tunggu, sebentar lagi aku akan sampai.”
“Baik Tuan.”
Telpon pun terhenti. Kai semakin memacu langkahnya. Kini rumahnya sudah terlihat. Kai dengan lari paling cepatnya masuk ke halaman rumah. Di rumah sudah banyak ambulance dan polisi. Yang pertama kali Kai khawatirkan saat itu adalah istrinya. Kai mencari-cari istrinya.
“Tuan.” Pelayan lelaki rumah Kai menghampiri Kai.
“Dimana Lily?” Tanya Kai dengan panik.
“Itu Tuan.” Pelayan itu menunjuk pada salah satu ambulance. Terlihat Lily yang sudah terbaring di ranjang daruruat dengan kepala yang sudah berlumuran darah.
__ADS_1
“Tidak mungkin.” Kai langsung berlari ke ambulance itu.
“Aku akan ikut. Dia istriku.” Ucap Kai sembari naik ke ambulance.
Ambulance pun mulai jalan menuju rumah sakit. Dalam ambulance itu Kai terus memegangi lengan Lily. Kai yang tak pernah meneteskan air mata sedikitpun kini tak kuasa membendungnya. Bagaimana tidak, Lily, dalam kondisinya yang parah, masih setengah sadar. Matanya terbuka tetapi bibirnya gemetar menahan sakit.
“Dia terbangun.” Ucap salah satu perawat.
“Lily.” Kai langsung mendekat ke arah Lily dengan sangat dekat.
“Kai...Pulang....aku....ingin pulang.” Lily hanya mengatakan itu. Ia kemudian menarik napasnya dengan kencang karena rasa sakit mulai menjalar lagi di seluruh kepalanya. Sesaat kemudian ia kembali tak sadarkan diri.
“Lily! Lily! Tidaaaaak!” Kai menjerit. Saat itu ia kembali merasakan takut kehilangan. Rasa takut kehilangan yang sama dengan waktu itu. Waktu ia kehilangan kedua orang tuanya di depan matanya.
Mereka pun asmpai di rumah sakit. Lily langsung ditangani oleh banyak tenaga medis. Kai hendak masuk untuk menemani Lily tetapi ia tak bisa.
“Bapak tunggu di luar saja.” Ucap perawat. Kai pun menurutinya.
Tak lama kemudian ibu Lily datang. Ia berlari dengan histeris. Terus menerus memanggil nama anaknya.
“Lily! Lily!” Ibunya berteriak histeris.
“Ibu, tenanglah, Lily sudah ditangani oleh dokter di dalam.” Ucap Kai.
“Lily....”Ibunya masih menangis.
“Pukul saja aku Ibu, jika itu bisa membuat hati Ibu jauh lebih tenang, pukul saja. Aku rela. Tapi tolong, maafkanlah aku, aku gagal dalam menjaga puteri ibu. Jika aku bisa menukarnya, lebih baik aku yang berada di dalam.” Kai mengucapkan itu sambil menangis.
“....”Ibu tak bisa berkata apapun, ia terus menerus menangis sambil menyebut nama anaknya dnegan pelan.
Beberapa saat kemudian dokter keluar. Ibu dan Kai langsung menghampirinya.
“Keluarga Nyonya Dreeyana?” Tanya Dokter.
“Saya.” Ucap Ibu dan Kai bersamaan.
“Saya suaminya.”
“Begini, Nyonya Dreeyana mengalami gagar otak.” Dokter itu kemudian menghela nafas dengan panjang.
“Apa?” Ibu langsung pingsan begitu mendengar itu.
“Ibu, Ibu, bangun.” Kai menopang Ibu.
__ADS_1
Perawat pun datang membawa ibu ke ruang perawatan. Kai kembali melanjutkan pembicaraannya dengan dokter.
“Begini Tuan, istri Anda mengalami cidera yang asngat parah, gagar otak karena benturan yang sangat keras. Kami harus segera mengoperasi istri Anda sebelum terlambat.”
“Ya, lakukan saja. Selama itu bisa membuat istri saya sembuh.”
“Tapi...”
“Tapi apa?”
“Kami tidak bisa memastikan operasi itu akan berhasil. Operasi gagar otak memiliki peluang 50:50. Tapi jika tidak dilakukan juga akan sama membahayakannya. Dalam beberapa waktu darah akan memenuhi seluruh bagian kepalanya dan....hidupnya juga akan berakhir.”
“Lakukan operasi itu sekarang.” Tegas Kai.
“Baiklah, kami akan menindak lanjutinya sekarang. Ini, ada beberapa dokumen persetujuan yang harus anda tanda tangani.” Dokter menyerahkan dokumen itu pada Kai.
Tanpa membacanya Kai langsung menandatangani semuanya.
Operasi pun dilakukan. Operasi itu memakan waktu yang cukup lama. Kai terus menerus mengucap doa yang dari dulu jarang sekali ia lakukan. Kai tak bisa duduk dengan tenang, seakan waktu yang berjalan saat itu adalah waktu yang paling menyiksa bagi dirinya.
Ibu sudah sadar, ia juga berada di dekat Kai. Dengan mata yang sudah sangat sembab ibu tak hentihentinya menangis. Bagaimana tidak, hati ibu mana yang tidak hancur saat melihat anaknya dalam kondisi seperti itu.
Setelah menunggu cukup lama, operasi itu pun selesai. Dokter kembali mengabarkan hasil operasi kepada mereka.
“Bagaimana dok?” Tanya Kai dengan cemas.
“Operasinya berhasil.” Ucap dokter.
“Syukurlah.” Seakan sebuah besi telah dicabut dari dadanya, Kai merasa begitu lega.
“Tapi...”Dokter kembali meneruskan.
“Tapi apa?” Kini giliran Ibu bertanya dnegan cemas.
“Tuan Kai.” Tiba-tiba seorang perawat datang menghampiri Kai.
“Iya.” Kai tampak bingung.
“Nyonya Kim telah sadarkan diri, tetapi ia histeris dan terus menerus memanggil nama Anda.” Jelas perawat itu dengan muka panik.
“Akh! Tidak sekarang.” Kai pun terpaksa harus menangani neneknya dulu.
Dokter pun menjelaskan kelanjutan kondisi Lily kepada Ibunya.
__ADS_1
“Jadi begini Bu. Puteri anda memang sudah berhasil melewati operasinya. Tetapi ia masih harus melewati masa komanya. Saya tidak bisa memastikan waktunya. Tapi berdoalah semoga puteri anda akan sadar dan berhasil melewati masa komanya. Dalam beberapa kasus terburuk, orang yang berhasil operasi gegar otak kemudian koma tak bisa bertahan.” Jelas dokter dengan penih iba.
“Tidak! Tidak mungkin!” Ibu menangis histeris. Bak petir di siang bolong, berita itu berhasil mengguncang perasaanya.