
"Huh, dasar sombong !" dengus Wulan kesal .
" Non Wulan kenal dia ?" tanya sopir.
" Ya . Dia anak baru di sekolah gue."
" Jadi temen sekolah non Wulan ?"
" Ya ."
" Wah , hebat !" puji sopir
" Hebat kenapa ?" tanya Wulan nggak ngerti , kenap sopirnya malah ngasih pujian pada Damar.
" Anak seusia itu dia sudah mandiri. Padahal jarang ada hal sepeeti itu di jaman sekarang . Itulah yang mamang maksud hebat, Non...."
" Maksud mamang?"
" Ya , di saat anak seusia dia yang lain lebih suka bermanja - manja dengan ngandelin orang tuanya , dia malah mandiri. Demi cita - cita , dia rela bekerja keras dan mempertaruhkan harga diri serta membuang gengsi demi mencari sesuap nasi dan biaya hidupnya. Coba non Wulan bayangin, apa itu nggak hebat namanya ?"
Wulan nggak nyahut. Cewek cantik primadona SMP itu cuma diam dengan wajah merenung. Hati kecilnya pun membenarkan apa yang baru aja dikatakan sopir peibadinya . Ya , memang jarang ada anak muda seperti Damar. Kebanyakan yang dagang koran di pinggir jalan , adalah anak - anak putus sekolah . Tapi Damar, meski masih sekolah , dia seudah berusaha sendiri . Berusaha mencari biaya hidup dan biaya sekolah sendiri .
__ADS_1
Sementara dia dan teman -teman lainnya. bisa hidup royal karena ngandelin orang tua, Sayang, Wulan sudah terlanjur nunjukin sikap nggak suka sama tuh cowok .
Wulan sudah terlanjur nerapin sifat angkuh dan sombongnya karena ngerasa dirinya palinh cantik dan putri tunggal orang kaya . Sehingga kebenaran yang dibisikkan oleh hati kecilnya , bage nggak terdengar .
Lampu lalu lintas kembali menyala. Sopir pun m3njalankan kembali mobilnya , membawa cewek cantik primadona SMP itu pergi ninggalin jalan di mana Damar masih berkutat dengan kehidupannya. Berusaha mencari rejeki untuk membiayai kehidupan dan sekolahnya.
Keesokan harinya.......
Damar tengah membaca sebuah buku yang berisikan ilmu pengetahuan di perpustakaan , ketika Wulan dengan dua orang teman karibnya dtang menemuinya.
" Hai tukang koran ! Rupanya lo di sini, ya?!" tegur Wulan .
Damar mengangkat wajahnya , memandang ke arah asal suara yang menegurnya.
" Eh , tukang koran . Gue ingetin lo sekali , ya, Sebaiknya lo jangan berlagak deh di sini..."
" Berlagak ?" Damar mengerutkan kening dengan mata masih memandang ke wajah cantik Wulan yang berdiri di hadapannya ." Berlagak bagaimana maksud lo?" tanya Damar nggak ngerti.
" Ala , lo jangan sok pilon . Denger , ya . Gue paling nggak suka sama anak yang sok pintar , ngerti ?!"
" Maaf , Wulan , gue bener - bener nggak ngerti akan maksud lo. Ada apa sebenernya sama lo? Apa salah gue , sehingga lo seakan sangat membenci gue ?"
__ADS_1
" Lo tanya kesalahn lo?"
" Ya , Tolong kasih tau gue , apa kesalahn gue sama lo, agar gue tau dan gue akan berusaha unutuk memperbaikinya , sehingga gue nggak lagi membuat kesalahan sama lo," pinta Damar.
" Kesalahan lo adalah, li tukang koran , orang miskin tetapi sok!" tegas Wulan.
" Sok? sok bagaimana ?"
" Lo sok pintar ."
" Nggak .... gue nggak ngerasa sok pintar . Apa yang bisa gue banggaiin untuk menjadi orang yang sok ato sombong ? Gue hanya seirang tukang koran yang miskin.
Nggak seperti lo yang anak orang kaya . Bagaimana gue bisa sok atau sombong, kalau untuk membiayai sekolah aja , gue sama nyokap gue harus berjuang mati - matian.
Ibarat pepatah mengatakan, kepala untuk kaki, kaki untuk kepala. Jika lo menganggap gue telah berbuat salah sama lo, gue harap dengan segenap kerendahan dan ketulusan hati kiranya lo mau memafkan kesalahna gue .
Gue hanya orang miskin, anak seorang janda , tukang koran yang masih bodoh . Gue ke jakarta bersama nyokap gue bukan untuk mencari maslah atau mencari seteru dengan orang lain.
Kami kemari justru untuk mecari hidup, mencari sesuap nasi agar kami bisa hidup.
Bukan mencari permusuhan atau lawan yang kami inginkan . tetapi persahabatan yang kami butuhkan . Sekali lagi , bila memeng lo anggap gue telah berbuat salah dan menyinggung persaan lo, kiranya lo sudi memafkan gue." tutur Damar dengan penuh kesungguhan , yang membuat Wulan seketika terbungkam seribu kata.
__ADS_1
Wajahnya yang semula bengis penuh kebencian dan pernusuhan pun, akhirnya sedikit demi sedikit mereda.