
Lampu lalu lintas di perempatan jalan menyala merah . Seorang cowok, berusia belasan tahun , berpakean kaos oblong yang sudah lusuh sama celana panjang tiga perempat ( karna panjangnya cuma sampe di bawah lutut), dengan tangan kiri menggendong koran sama majalah bergegas turun jalan .
Dengan menggendong barang dagangannya , Damar melangkah mengahmpiri satu demi satu mobil yang tengah berhenti karna lampu menyala merah sembari dari mulutnya nggak henti hentinya menawarkan dagangannya .
"Koran....koran.....koran sore, majalah tabloid koran...."
" Dik , koran ...!".panggil seorang lelaki berpakaian perlente naik mobil mewah .
" Koran, Om?" tanya Damar.
" Ya."
" Koran apa, Om?"
Lelaki setengah baya berpakaian perlente itu nggak menjawab . Matanya dengan lekat memandang ke wajah Damar, sehingga membuat pemuda itu jadi mengerutkan kening, nggak mengerti kenapa lelaki kaya itu memandangnya begitu rupa . Sehingga ditanya bukannya menjawab , tetapi malah diam membisu .
" Om..."
" Oh, eh, ya ....?"
" Ada apa, Om?"
" Oh eh, ng... nggak . Nggak ada apa - apa ."
" Kenapa om pandangi saya begitu rupa?"
" Nggak ...nggak apa - apa , Aku hanya teringat pada anakku saja ."
" Anak Om sebesar saya ?"
__ADS_1
" Jika memang dia masih hidup , mungkin sebesar kamu."
Damar manggut - manggut dan bertanya ," Oh ya, Om pesan koran apa ?"
Lelaki perlente itu pun menyebutkan nama koran yang diinginkannya . Damar menarik bundelan koran dimaksud , untuk kemudian menyerahkannya pada lelaki setengah baya itu yang menerimanya dan menyodorkan selembar uang dua puluh ribu rupiah .
" Kembaliannya untukmu."
" Makasih banyak, Om."
Lelaki yang memakai pakaian perlente berusia setengah baya itu pun mengganguk.
" Permisi, Om."
" Ya...."
Sementara itu tanpa sepengetahuan Damar yang sibuk menjajakan dagangannya , dari sebuah mobil Suzuki Eastem warna hitam metalik , Wulan melihat cowok itu tengah menjajakan dagangannya . Cewek cantik putri pengusaha dan primadona SMP itu ngerutin kening ngeliat Damar tengah menjajakan koran. O , ruapanya lo penjual koran? Gue nggak nyangka, penjual koran macam lo kok bisa - bisanya masuk ke sekolah gue? Gumam Wulan dalam hati dengan wajah nunjukin kesinisan .
Begitu Damar mendekat ke mobilnya , Wulan pun memanggil , " Koran.....!"
Ngerasa di panggil, apalagi penjual koran yang ada di tempat itu cuma dirinya , Damar pun mendekat .
" Koran , Non....?" tanya Damar . Karna kaca jendela mobil itu tertutup separoh , dan karana Wulan makek kacamata hitam serta topi , sehingga Damar pun nggak ngenalin kalo tuh cewek adalah Wulan , primadona Smp dimana dia sekolah .
" Ya ...." jawab Wulan .
" Koran apa , Non?"
" Apa aja . Tapi kalo ada sih koran yang memuat berita aktual mengenai seorang penjual koran yang sekolah di SMP favorit yang kebanyakan siswanya anak - anak orang berada ...."
__ADS_1
Damar tersentak mendengar ucapan cewek . Seketika Damar tau , siapa tuh cewek sebenarnya , " Lo Wulan ....."
" Ya gue . Kenapa?"
" Nggak apa- apa ."
" Ada koran yang gue maksud ?"
" Nggak ada ."
" Sayang . Padahal gue pengen banget dapetin tuh koran ."
" Lo sudah punya."
" Oh ya?'
" Ya ..."
" Mana?"
" Di hati sama lidah lo. Sorry, Wulan , gue harus jualan . Sebab dari sinilah gue bisa dapetin uang untuk biaya hidup dan sekilah gue," kata Damar sembari bermaksud pergi ninggalin mobil di mana Wulan berada .
" Eh , tunggu !"
" Ada apa lagi? Belum puaskah lo menghina gue ?"
" Gue mau beli semua koran yang lo jual ."
" Terimakasih . Kalo lo bener mau beli koran , akan gue layani . Tapu kalo lo cuma pengin mengasihani gue, maka dengan sangat nyesal gue tolak . Gue memang orang miskin , tetapi gue nggak mau dikasihani ...." Usai berkata begitu , Damar pun segera pergi ninggalin mobil di mana Wulan berada.
__ADS_1