RASA CINTA ANAK SMP

RASA CINTA ANAK SMP
25


__ADS_3

" Jangan sembarangan menuduh sebelum ada saksi , Wulan ," kata bu Ni ketut Seniarti ngingetin .


" Ada banyak saksi yang melihat dia masuk ke dalam kelas sewaktu istirahat ,Bu!" jawab Wulan .


" Siapa saksi itu ?" tanya Bu Ketut Seniarti .


" Saya , Bu ," jawab Susan dari luar. Kemudian Susan pun masuk ke dalam kelas ." Saya melihat Damar masuk .


setelah kejadian sekolah tadi Damar pun ngggak tau harus ngomong apa karena dia nggak pernah mencuri dompet Wulan walupun dia dan ibunya butuh uang tapi tidak sampai mencuri karena ibunya tidak pernah m3ngajarinya m3ncuri.


Damar hanya diam dan setelah jam sekolah selesai Damar pulang tanpa menghiraukan panggilan Fani dan terus berjalan gontai , Sampai di rumah .


" Kamu kenapa ?"


Damar nggak langsung menjawab . Dihelanya napas panjang, kemudian dengan wajah masih murung berkata ,


" Bu..."


" Ya ?"


Damar berhenti sekolah saja ."


Terkejut ibunya Damar mendengar pernyataan putranya . Kening wanita separuh baya itu pun mengerut , sementara sepasang matanya dengan lekat memperhatikan wajah putranya dengan seksama . Seakan berusaha mencari tau , apa yang membuat anaknya yang sudah bersemangat untuk sekolah dan untuk meraih cita - cita , tiba -tiba berubah pikiran , ingin berhenti sekolah .


" Berhenti sekolah?"


" Ya, Bu ."


" Kenapa ?"


Damar nggak menjawab . Dia justru malah nundukin kepala dengan membawa kemurungan yang masih melekat di wajahnya .


" Ada apa, Damar? Kenapa kamu mutusin nggak mau ke sekolah lagi?"


" Damar malu, Bu."

__ADS_1


" Malu ?" ulang ibunya .


Damar mengangguk .


" Kamu malu karena kita orang nggak punya ?"


Damar menggeleng


" Lalu malu kenapa ?"


" Karena hampir semua orang di sekolah memandang Damar dengan pandangan curiga . Seakan mereka semua menuduh Damar seorang pencuri , Bu."


" Kenapa begitu? Apa yang terjadi sebenarnya?"


Dengan wajah murung, Damar pun nyeritain apa yang telah terjadi di sekolah tadi. Dimana Wulan kehilangan dompetnya yang berisi uang dan beberapa lembar kartu ATM serta kartu keredit yang jumlahnya mencapai sepuluh juta.


"Tapi kamu nggak mengambilnya , kan ?"


" Demi Allah , Bu, Meski kita miskin , namun selama ini ibu senantiasa mendidik Damar untuk nggak mencuri . Tetapi , dompet milik Wulan ditemukan oleh Bu Ketut ada di tas Damar , Bu . Entah siapa yang telah tega melakukan hal itu. Namun begitu, orang jadi memandang Damar dengan pandangan penuh rasa curiga , karena Damar memang orang miskin . Mereka pikir kerena Damar miskin , lalu Damar mencuri ."


" Kenapa mereka tega memperlakukanmu seperti itu, Anakku ? kenapa ....?" isak ibunya Damar.


" Sudahlah , Bu . Mungkin semua ini memang cobaan dari Tuhan . Kita harus sabar dan tawakkal ."


" Ini sudah sangat keterlaluan , Anakku . Karena kamu anak seorang janda miskin , lalu mereka semaunya memperlakukan kamu ? Ya Tuhan , betapa kejamnya mereka . Ya Tuhan , Engkau Maha Tau dan Maha Bijaksana . Semoga orang yang telah merekayasa semua itu , yang telah membuat ankku harus menanggung malu , akan mendapatkan balasannya!" isak ibu .


" Ibu .... kenapa ibu berbucara begitu " Itu nggak baik Bu . Ibu sendiri yang ngajarin pada Damar , agar jangan punya sifat dendam. Kenpa ibu berdo'a seperti itu ? Itu sama halnya ibu mendendam ..."


" Karena orang yang telah merekayasa semuanya , sudah sangat keterlaluan tindakannya sama kamu, Ankku. Karena dia , kamu menjadi malu . Karena dia , teman - teman sekolahmu memandang dengan pandangn curiga dan makin menghina kamu ."


" Sudahlah , Bu . Ibu nggak perlu mendendam padanya . Biarkan Tuhan yang mengingatkannya .


" Apa kamu tau siapa orang yang telah merekayasa kejadian itu ?"


" Nggak , Bu ."

__ADS_1


" Bagaimana sikap nak Fani sama kamu ?"


" Fani merupakan orang yang membela Damar , Bu . Hanya dia yang tetap yakin, bahwa Damar , nggak ngelakuin perbuatan itu. Bahkan kerena dia , sehingga guru - guru pun percaya kalo memang bukan Damar yang m3lakukannya ."


" Dia memang anak baik . Kita banyak berhutang budi dan jasa padanya , juga pada kedua orag tuanya , Anakku."


" Iya , Bu ."


" Entah dengan apa kita akan membalas semua kebaikan yang telah nak Fani dan kedua orang tuanya berikan pada kita ."


" Sudahlah , Bu . Sebaiknya ibu nggak perlu terlalu memikirkannya . Damar mau pergi dulu , Bu."


" Kamana ?"


" Biasa , Bu, ke jalan , jualan koran . Bukankah itu memang tempat Damar ?"


" Kamu sudah makan ?"


" Sudah , Bu."


" Baiklah . Hati - hati , Anakku ."


" Iya Bu."


Damar menyalami dan mencium puggung tanga n ibunya , yang dengan penuh kasih dan keharuan membelai - belai rambut sang anak.


" Bu , Damar pergi dulu . Do'akan Damar dapat rezeki banyak ...."


" Ya. Ibu senantiasa mendo'akanmu , Anakku . Hati- hati..."


" Ya , Bu . Assalamua alaikum ..."


" Wa ' alaikum salam ...."


Damar pun pergi ninggalin rumahnya untuk ngambil koran dan majalah di agen , kemudian menjualnya di perempatan lampu merah sebagaimana bisanya yang selama ini dilakukannya .

__ADS_1


__ADS_2