
Semua siswa berusaha untuk mencoba ngerjain kelima soal itu . Suasan kelas pun jadi hening senyap. Nggak seorang pun tang berani buka suara . Bahkan helaan napas mereka pun terdengar berat.
Sementara cewek cantik berambut pendek yang sedari tadi memperhatikan Damar , meski pura - pura nulis ngerjain soal yang di berikan oleh pak Dirman , namun hatinya semakin bertambah kagum pada Damar.
Sedangkan Wulan , tampak wajah cewek itu memberengut . Dia bener- bener merasa keki dan kecewa setengah mati. Sebab ternyata Damar yang di ejek dan di hina , justru sangat cerdas . Wulan jadi nyesel kenapa dia nunjukin sikap sombong dan menghina pada cowok itu . Padahal , sebenarnya di dalam hatinnya kini timbul rasa kagum pada cowok tamapan serta cerdas itu Tapi semua sudah terjadi. Dia sudah terlanjur nunjukin sikap nggak suka sama Damar . Nggak mungkin dia menghubahnya yang malah bakal ngerendahin martabat sama harga dirinya .
"Ada yang bisa ?"tanya pak Dirman setelah beberapa menit suasana kelas berlalu dalam keheningan sembari matanya memandang ke setiap suswa yang ada di dalam kelas itu.
Nggak ada yang nyahut satu katapun
" Ijinkan saya mencobanya , pak ", pinta Damar.
" Sebentar , Damar , biar yang lain dulu. Ada yabg bisa ?" tanya pak Dirman lagi sambil kembali menyapukan pandangan matanya ke seluruh ruang kelas , memandang satu demi satu siswa yang ada di dalam ruangan itu.
Namun nggak seorang pun dari mereka yang nyahut.
Bahkan mengangkat kepalanya pun nggak .Semua kepala tertunduk .Hanya Damar yang tampak masih tenang.
Pak Dirman tampak mengeleng - gelengkan kepala menarik nafas panjang , kemudian berkata, " Damar ..."
__ADS_1
"Ya ,Pak?"
" Kamu selesaikan soal - soal itu. Jangan lupa , tolong kamu beritahu pada yang lainnya bagaimana mengerjakan soal- soal itu dan bagaimana cara langkah langkahnya ,
" Baik , Pak ."
Damar pun kembali maju ke muka kelas untuk ngerjain satu persatu dari kelima soal itu beserta jalannya
" Yang lainnya , tolong catat dan pelajari , agar kalian tau", perintah pak Dirman pada siswa lainnya .
Para siswa pun menurut , mencatat kelima soal dan jawaban yang telah ditulis oleh Damar di buku mereka masing - masing.
" Damar , seperti janji saya , ini uang itu," kata pak Dirman sambil menyodorkan selembar uang seratus ribu pada Damar
" Terimalah sebagai ungakapan rasa kagum saya atas kecerdasanmu .Padahal soal - soal tersebut merupakan soal untuk kelas sembilan .Namun ternyata, kamu sudah bisa mengikuti dan bahkan mengerjakannya ."
" Tapi , Pak ...,"
" Ayo , terimalah ..."
__ADS_1
Damar pun akhirnya menerima uang itu dengan nggak lupa ngucapin terimakasih.
" Duduklah ."
" Baik , Pak."
Damar pun ninggalin depan ruang kelas , kembali ke bangkunya . Dan ketika dia melewati bangku Wulan , cewek cantik primadona SMP Negeri 49 itu mencibirkan bibirnya semabari mendengus ," Awas lo, ya ?! malah sok pintar!".
Damar nggak menyahuti , Dia terus aja melangkah menuju ke bangkunya , kemudian duduk di samping Adito .
"Wah , lo hebat sekali , Damar. Beruntung sekali gue duduk sama lo."
" kenapa memangnya ?"
" Ya paling nggak gue akan ketularan pintar seperti lo."
" Ah , lo.... emangnya penyakit , pakai nualar segala?"
Damar tersenyu sambil mengeleng gelengkan kepala.
__ADS_1
"Adito, orang pintar itu bukan karna tertular seperti penyakit , tetapi karna giat dan tekun belajar. Meski lo duduk sama Pak Habibi sekali pun , Kalo lo nggak rajin dan tekun belajar, nggak mungkin lo akan seperti Pak Habibi...."
Sementara Pak Dirman nerangin pelajaran , beberapa kali Wulan dan cewek cantik berambut pendek nengokke belakang ke arah Damar dan Adito duduk. Namun Wajah kedua cewek itu nunjukin roman yang berbeda . Si rambut pendek yang sepertinya rada tomboy namun cukup cantik itu, nunjukin rasa kagum, sedangkan Wulan justru nunjukin roman muka ketidak sukaan . Bahkan juga kebencian .