
Sang mama terdiam sembari mengangguk anggukan kepala. Keningnya berkerut, sepertinya tengah berusaha memikirkan sesuatu.
" Sayang..."
" Ya, Ma?"
" Berapa anak yang mau belajar di sini?"
" Ehemmm... sekitar enam."
" Siapa saja?"
Setefani pun nyebutin siapa saja temen temennya , yang akan datang belajar bareng bersamanya di rumahnya bersama Damar
" Siapa Damar? Mama baru dengar nama itu?"
" Anak baru. Dia cerdas , Ma."
" Cerdas gimana ?"
" Ya cerdas .Ma."
" Bisa beritahu mama, seberapa tinggi kecerdasannya?"
" Mama tau?"
" Tau apa?"
__ADS_1
" Adakah anak yang diterima di 49 yang nggak pintar ?"
" Nggak ada . Sebab agar bisa di terima di SMP Negeri 49 , nilai UAS- nya rata- rata minimal 8. Itu berarti anak - anak yang bisa masuk dan di terima di SMP Negeri 49 , merupakan anak - anak pilihan yang tingkat kecerdasannya di atas rata - rata ," tutur sang mama.
" Nahhhh....!"seru Setefani tiba - tiba ngejutin mamanya sampe - sampe sang mama harus menghela napas panjang sembari geleng - gelengin kepala ngelihat sikap sama kelakuan putri kesayangannya yang cantik namun rada tomboy." Sekarang mama bayangin . Damar mampu menjawab dan nyelesain soal yang belom pernah diberikan guru pada kami .Gimana menurut mama?"
" Benarkah ?"
" Itulah k3nyataannya, Ma ."
" Berarti dia jenius."
" Tepat sekali!" sambut Setefani dengan gaya seorang guru bicara sama muridnya ." Nah sekarang coba mama bayangin, siapa yang nggak bakal seneng bisa belajar bareng anak dengan jenius seperti Damar yang bisa ngebantu nyelesain soal - soal yang nggak bisa Fani pecahin?"
" Sang mama mangut - mangut"
" Eh , ngomong - ngomong , keren nggak anak yang bernama Damar itu?" tanya sanv mama sembari ngerlingin mata ke arah anaknya menggoda .
" Sebenarnya , kalo dipandang secara obyektif, lumayan juga sih , Ma Sayang..."
" Sayang kenpa ?"
" Dia hanya anak orang nggak punya, Ma. Kalo saja Damar anak orang punya , Fani yakin dia akan tambah keren ."
" Kok dia bisa sekolah di SMP Negeri 49?"
" Ya, karena dia cerdas."
__ADS_1
Sang mama mangut- mangut.
" Kasihan dia ," gumam Setefani.
" Kasihan kenapa?"
" Karena dia anak orang nggak punya , dia selalu di hina dan dicemoh oleh Wulan ," tutur Setefani.
" Katamu , Wulan memang sifatnya begitu ."
" Iya dih, Ma. Tapi penghinaan yang di lontarkan oleh Wulan pada Damar sangat keterlaluan sekali , Ma."
" Keterlaluan sekali bagaimana maksudmu?"
"Masak karena Damar ngebantu ibunya mencari uang julan koran , Wulan memanggilnya di depan teman - teman si Tukang koran . Itu kan sudah meterlaluan sekali , Ma .Belom lagi waktu pertama kali Damar masuk. Karena pakian yang di kenakan oleh Damar bukan baru, Wualan enak aja menghinanya dengan mengatakan lpakaina yang di kenakan oleh Damar adalah pakean bekas ."
Sang mama yang ngendengerin penuturan Setefani hanya bisa menghela nafas panjang. Hatinya juga turut iba m3mbayangin gimana Damar di hina dan diperlakukan nggka semestinya oleh Wulan yang menurut penuturan putrinya memang sombong dan suka menghina serta merendahkan irang lain .
" Kasihan dia..., " gumam sang mama .
" Iya , Ma."
" Apa guru nggam ada yang negor?"
" Sudah, Ma. Bahkan buk Betty sudah memarahinya . Tapi dasarnya Wulan emang begitu, dan dia ngerasa cantik serta kaya, ya , omongan buk Betty cuma masuk telinga kanan keluar telinga kiri ."
" Ya sudah , sekarang kamu ganti pakean , lalu kita makan siang ," saran sang mama .
__ADS_1
" Baik , Ma."
Setefani pun bergegas ninggalin ruang tengah rumah ya dimana sang mama berada , menuju ke kamar untu ganti pakean . Sementara sang mama, melangkah ke ruang makan untuk nyiapin makan siang dia dan putrinya . Meski di rumah ada pembantu , namun untuk ngeladenin makan putri sama suaminya , mama Setefani senantiasa ngejalanin sendiri. Karena dengan begitu , dia bisa dekat sama suami dan putrinya . Dan demi mengurus anak serta suaminya , mama Setefani mutusin berhenti jadi wanita karier . Harta busa di cari , tapi kalo moral anak sampe hancur gara - gara dua orang tuanya sibuk , gimana ngebetulinnya.