
" Wuah , ternyata mudah juga ya kalo sudah tau jalannya," gumam Dimas.
" Ya, semua pekerjaan kalo kita sudah tau jalannya , pasti akan mudah. Tetapi kita tidak boleh menyepelekan atao ngeremehin sesuatu soal atau pekerjaan walo kita sudah tau jalannya. Sebab kalo kita ngeremehin , bisa - bisa kita terjebak , dan akhirnya malah salah ," tutur Damar.
" Iya , kami mengerti."
Mereka belajar bersama membahas dan m3nyelesaikan soal - soal pelajaran sambil menikmati jus buah dan makanan kecil yang telah di sediakan oleh pembantu rumah keluarga Fani.
Jam sembilan, acara belajar bersama pun selesai, karena hampir semua mata pelajaran telah mereka bahas bersama .
" Gue rasa untuk hari ini kita belajar sampai segini dulu," kata Damar.
" Besok kita k3mbali belajar bersama ,Damar?"
" Insyaalah ," jawab damar .
" Kalo begitu terimakasih, Damar . Fani, kamai pamit pulang dulu."
Mereka pun turun dari loteng, kemudia pamit kepada kedua orang tua Setefani untuk pulang.
" Biar gue antar lo, Damar," kata Setefani.
" Nggak usah. Gue bisa naik angkutan umum, kok."
" Nggak apa , nak Damar . Biar Fani dan mamang unang m3ngantarmu," kata ibunya Setefani.
" Iya , nak Damar. Biar Fani dan mamang unang mengantarmu. Fani panggil mang unang dan suruh menyiapkan mobil."
" Baik , Pa ."
Fani pun menuju ke belakang untuk menemui mang unang. Sementara kedua orangtuanya mengajak Damar duduk- duduk sambil menunggu.
" Besok belajar di sini lagi, kan ?" tanya ibuya Fani .
__ADS_1
" Insyaalah , Tante ."
" Nggam usah sungkan . Kami senang kok nak Damar mau m3mbantu Fani dalam belajar. Jadi , meski nggak belajar bersama - sama , sebaiknya nak Damar datang aja kemari dan belajar bareng dengan Fani ,ya ?" pinta ibunya Fani.
" Terimakasih atas kepercayaan yang Om dan Tante berikan ."
" Mengapa harus berterimaksih? Kamilah yang seharusnya berterimaksih sama nak Damar. Karena nak Damar mau membantu Fani dalam belajar."
" Sama - sama, Om ."
Dari belakang Setefani keluar.
" Ayo , Damar."
" Om, Tante, saya pamit dulu....."
Damar menyalami kedua orang tua Setefani.
" Ya , sering- seringlah main kemari , nak Damar".
" Waalaikumussalam.
Damar pun mengikuti Setefani keluar dari rumah itu dengan diiringi pandangan kagum kedua orang tua Setefani cewek cantik namun agak tomboy itu kemudian m3ngajak Damar ke mobil kijang warna biru metalik yang sudah terparkir di pelataran rumah . Lalu keduanya masuk ke dalam mobil. Duduk di jok tengah berdampingan .
" Jalan , Mang."
" Baik, Non.
Mang unang pun menjalankan mobilnya Sementara petugas satpam segera m3mbukakan lpintu gerbang . Sehingga mobil itu bisa keluar.
" Mau kemana , Non," sapa petugas satpam .
" Ngantar Damar , Pak."
__ADS_1
" Hati- hati , Non."
" Ya , Pak."
Kijang pun meluncur keluar dari lingkungan rumah mewah itu, melaju memasuki jalan di depan rumah mewah itu. Terus meluncur membawa mereka pergi.
" Damar..." Setefani memanggil.
" Ya?"
" Lo pintar dan cerdas . Gimana sih caranya agar bisa sepintar dan secerdas lo?"
" Belajar rajin dan tekun," jawab Damar.
" Cuma itu?"
" Juga rajin baca buku."
" Buku apa ?"
" Apa aja, asalkan buku yang baik yang bisa menambah ilmu pengetahuan . Bukannya novel atao komik."
" Lo nyindir gue, ya ?"
" Nyindir gimana?"
" Ya, mentang- mentang gue suka baca novel sama komik, lo bicara begitu..."
" Nggak .Gue nggak nyindir lo, Gue baru tau lo suka baca novel sama komik aja sekarang , kok..."
" Lo nggak pernah baca novel?"
" Sesekali . Gue toh bukan robot , kan ? Tetaoi manusia yang sesekali butuh hiburan . Maka gue pun sesekali baca novel ato komik. Kalo punya uang, ya sesekali nonton film di bioskop," tutur Damar .
__ADS_1
Fani tersenyum sambil mengangguk- anggukan kepala. Sepasang matanya yang bulat bening, menatap lekat wajah Damar yang tampan.