
Pada saat itu , ibunya Damar tampak tertegun , Dan begitu papanya Fani memandang ke arah ibunya Damar, Papanya Fani pun turut tertegun dengan wajah nunjukin ketercengangan .
" MBAK...!" desis papanya Fani.
" DIK...DIK SURYA...!"
" Ya, Mbak . Ini saya , Suryadinata ."
Bergegas papanya Fani yang ternyata bernama Suryadinata ato biasa di panggil Pak Surya menghambur ke dalam , lalu memeluk ibunya Damar . Hal itu membuat Damar jadi tertegun , nggak ngerti kenapa papanya Fani yang seorang pengusaha kaya dan terpandang , melakukan hal seperti itu pada ibunya yang hanya seorang janda miskin.
" Kenpa mbak nggak ngasih tau kalo mbak ada di jakarta ?" tanya papa Fani setelah melakukan pelukan .
" Ma , ini mbak Haryati yang sering papa ceritakan sama mama.
Mama Fani pun segera mengikuti apa yang telah dilakukan oleh suaminya , pelukan pada ibunya Damar, yang semakin membuat Damar kian bertambah tertegun , nggak ngerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"MBAKKK..."
" Oh , rupanya kalian sudah jadi orang yang berhasil , adikku, syukurlah , aku ikut senang dan bangga melihatnya ," desah ibunya Damar .
" Jadi Damar anak mbak ?"
" Ya ."
" Ohhh..." Papanya Fani mengeluh . Kemudian memandang ke arah Damar yang masih berdiri terpaku dengan wajah nunjukin ketidak mengertian akan apa yang tengah terjadi ." Damar anakku ... kemarilah . Om adalah Ommu. Adik papamu..."
Dengan perasaan masih nggak ngerti , Damar pun akhirnya menurut , mengahmpiri papa dan mama Fani .
" Kemarilah , Nak . Peluklah Om...." pinta Papanya Fani dengan air mata tampak mengalir keluar dari kedua sudut matanya . Air mata haru kerena telah bertemu dengan keluarganya , juga sedih melihat keadaan keluarga kakanya yang menderita . Yang terhinakan , karena kemiskinan .
" Om .."
" Maafkan Om, Nak . Maafkan Om," isak papa Fani sembari memeluk erat Damar , seakan nggak ingin berpisah lagi dengan keponakan yang baru ditemukannya setelah sekian lamanya nggak bertemu. Sementara ibunya Damar dan Mamanya Fani masih saling berpelukan dan bertangisan penuh keharuan .
" OM...."
" Ya, Nak ?"
" Apa ayah Damar masih hidup?"
" Masih."
__ADS_1
"Dimana beliau , Om?"
" Apa kamu nggak tau siapa ayahmu , Anakku ?"
Damar menggelengkan kepala.
" Damar sudah ditinggal pergi ayahnya sejak dia masih berusia setahun , dik Surya . Jadi , manalah dia mengenal ayahnya ?" tutur ibunya Damar memberitahu .
" Mbak juga nggak tau bagaimana mas sekarang ?"
Ibunya Damar menggelengkan kepala.
" Mas orang terkenal . Bahkan mungkin seluruh masyarakat di indonesia , khususnya masyarakat jakarta mengenalnya. Hampir tiap hari mas muncul di media baik televisi maupun surat kabar . Masak mbak ato Damar nggak tau ?"
" Siapa Om?"
" Siapa nama panjangmu?"
" DAMAR SULISTIO."
" Kamu tau nama belakangmu adalah nama depan ayahmu. Kamu tau siapa pengusaha besar yang punya banyak perusahaan yang menyebar di hampir seluruh wilayah indonesia , Anakku?"
" Sulistio Widodo."
" Jadi..?"
" Benar , Anakku . Beliau adalah ayahmu, juga kakak dari Om."
Damar terpengarah mendengar penuturan papanya Fani yang juga adalah paman kandungnya sendiri.
" Ada apa , Nak ?"
" Pantas beliau ngomong kalo anaknya masih hidup , maka anaknya akan seusia Damar ," tutur Damar .
" Kamu pernah ketemu dengannya , Damar ?"
" Ya , Bu."
" Dimana ?"
" Di jalan , saat Damar jualan koran . Saat itu..."
__ADS_1
Damar pun kembali mengenang kejadian beberapa hari yang lalu , ketika seseorang lelaki bermobil mewah dan berpakean perlente memanggilnya dan membeli korannya .
" Dik , koran ...!" panggil seseorang lelaki berpakean perlente naik mobil mewah .
" Koran , Om ?" tanya Damar .
" Ya ."
" Koran apa, Om ?"
Lelaki setengah baya berpakean perlente itu nggak menjawab . Matanya dengan lekat memandang ke wajah Damar , sehingga membuat pemuda itu jadi mengerutkan kening , nggak mengerti kenapa lelaki kaya itu memandangnya begitu rupa .Sehingga ditanya bukannya menjawab , tetapi malah diam membisu .
" Om.."
"Oh, eh ya ....?"
" Ada apa , Om ?"
" Oh, eh,ng....nggak . Nggak ada apa - apa ."
" Kenapa Om pandangi saya begitu rupa ?"
" Nggak.... nggak apa -apa . Aku hanya teringat pada anakku saja ."
" Anak Om sebesar saya ?"
" Jika memang dia masih hidup , mungkin sebesar kamu,"
Damar manggut- manggut dan bertanya ," Oh ya , Om pesan koran apa ?"
Lelaki perlente itu pun menyebutkan nama koran yang diinginkannya . Damar menarik bundelan koran yang dimaksud , untuk kemudian menyerahkannya pada lelaki setengah baya itu yang menerimanya dan menyodorkan selembar uang dua puluh ribu rupiah .
" Kembaliannya untukmu ."
" Maksih banyak , Om ."
Lelaki perlente berusia setengah baya itu pun mengangguk.
" Permisi , Om ."
" Ya ...."
__ADS_1
Damarpun menghela napas panjang setelah mengenang dan menuturkan kejadian sore itu pada ibunya, serta papa dan mamanya Fanu yang ternyata adalah paman dan bibinya .