RASA CINTA ANAK SMP

RASA CINTA ANAK SMP
27


__ADS_3

Pada saat itu , ibunya Damar tampak tertegun , Dan begitu papanya Fani memandang ke arah ibunya Damar, Papanya Fani pun turut tertegun dengan wajah nunjukin ketercengangan .


" MBAK...!" desis papanya Fani.


" DIK...DIK SURYA...!"


" Ya, Mbak . Ini saya , Suryadinata ."


Bergegas papanya Fani yang ternyata bernama Suryadinata ato biasa di panggil Pak Surya menghambur ke dalam , lalu memeluk ibunya Damar . Hal itu membuat Damar jadi tertegun , nggak ngerti kenapa papanya Fani yang seorang pengusaha kaya dan terpandang , melakukan hal seperti itu pada ibunya yang hanya seorang janda miskin.


" Kenpa mbak nggak ngasih tau kalo mbak ada di jakarta ?" tanya papa Fani setelah melakukan pelukan .


" Ma , ini mbak Haryati yang sering papa ceritakan sama mama.


Mama Fani pun segera mengikuti apa yang telah dilakukan oleh suaminya , pelukan pada ibunya Damar, yang semakin membuat Damar kian bertambah tertegun , nggak ngerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"MBAKKK..."


" Oh , rupanya kalian sudah jadi orang yang berhasil , adikku, syukurlah , aku ikut senang dan bangga melihatnya ," desah ibunya Damar .


" Jadi Damar anak mbak ?"


" Ya ."


" Ohhh..." Papanya Fani mengeluh . Kemudian memandang ke arah Damar yang masih berdiri terpaku dengan wajah nunjukin ketidak mengertian akan apa yang tengah terjadi ." Damar anakku ... kemarilah . Om adalah Ommu. Adik papamu..."


Dengan perasaan masih nggak ngerti , Damar pun akhirnya menurut , mengahmpiri papa dan mama Fani .


" Kemarilah , Nak . Peluklah Om...." pinta Papanya Fani dengan air mata tampak mengalir keluar dari kedua sudut matanya . Air mata haru kerena telah bertemu dengan keluarganya , juga sedih melihat keadaan keluarga kakanya yang menderita . Yang terhinakan , karena kemiskinan .


" Om .."


" Maafkan Om, Nak . Maafkan Om," isak papa Fani sembari memeluk erat Damar , seakan nggak ingin berpisah lagi dengan keponakan yang baru ditemukannya setelah sekian lamanya nggak bertemu. Sementara ibunya Damar dan Mamanya Fani masih saling berpelukan dan bertangisan penuh keharuan .


" OM...."


" Ya, Nak ?"


" Apa ayah Damar masih hidup?"


" Masih."

__ADS_1


"Dimana beliau , Om?"


" Apa kamu nggak tau siapa ayahmu , Anakku ?"


Damar menggelengkan kepala.


" Damar sudah ditinggal pergi ayahnya sejak dia masih berusia setahun , dik Surya . Jadi , manalah dia mengenal ayahnya ?" tutur ibunya Damar memberitahu .


" Mbak juga nggak tau bagaimana mas sekarang ?"


Ibunya Damar menggelengkan kepala.


" Mas orang terkenal . Bahkan mungkin seluruh masyarakat di indonesia , khususnya masyarakat jakarta mengenalnya. Hampir tiap hari mas muncul di media baik televisi maupun surat kabar . Masak mbak ato Damar nggak tau ?"


" Siapa Om?"


" Siapa nama panjangmu?"


" DAMAR SULISTIO."


" Kamu tau nama belakangmu adalah nama depan ayahmu. Kamu tau siapa pengusaha besar yang punya banyak perusahaan yang menyebar di hampir seluruh wilayah indonesia , Anakku?"


" Sulistio Widodo."


" Jadi..?"


" Benar , Anakku . Beliau adalah ayahmu, juga kakak dari Om."


Damar terpengarah mendengar penuturan papanya Fani yang juga adalah paman kandungnya sendiri.


" Ada apa , Nak ?"


" Pantas beliau ngomong kalo anaknya masih hidup , maka anaknya akan seusia Damar ," tutur Damar .


" Kamu pernah ketemu dengannya , Damar ?"


" Ya , Bu."


" Dimana ?"


" Di jalan , saat Damar jualan koran . Saat itu..."

__ADS_1


Damar pun kembali mengenang kejadian beberapa hari yang lalu , ketika seseorang lelaki bermobil mewah dan berpakean perlente memanggilnya dan membeli korannya .


" Dik , koran ...!" panggil seseorang lelaki berpakean perlente naik mobil mewah .


" Koran , Om ?" tanya Damar .


" Ya ."


" Koran apa, Om ?"


Lelaki setengah baya berpakean perlente itu nggak menjawab . Matanya dengan lekat memandang ke wajah Damar , sehingga membuat pemuda itu jadi mengerutkan kening , nggak mengerti kenapa lelaki kaya itu memandangnya begitu rupa .Sehingga ditanya bukannya menjawab , tetapi malah diam membisu .


" Om.."


"Oh, eh ya ....?"


" Ada apa , Om ?"


" Oh, eh,ng....nggak . Nggak ada apa - apa ."


" Kenapa Om pandangi saya begitu rupa ?"


" Nggak.... nggak apa -apa . Aku hanya teringat pada anakku saja ."


" Anak Om sebesar saya ?"


" Jika memang dia masih hidup , mungkin sebesar kamu,"


Damar manggut- manggut dan bertanya ," Oh ya , Om pesan koran apa ?"


Lelaki perlente itu pun menyebutkan nama koran yang diinginkannya . Damar menarik bundelan koran yang dimaksud , untuk kemudian menyerahkannya pada lelaki setengah baya itu yang menerimanya dan menyodorkan selembar uang dua puluh ribu rupiah .


" Kembaliannya untukmu ."


" Maksih banyak , Om ."


Lelaki perlente berusia setengah baya itu pun mengangguk.


" Permisi , Om ."


" Ya ...."

__ADS_1


Damarpun menghela napas panjang setelah mengenang dan menuturkan kejadian sore itu pada ibunya, serta papa dan mamanya Fanu yang ternyata adalah paman dan bibinya .


__ADS_2