
Pangilan pada Setefani, kelas VIII-1 supaya ke ruang guru! Sekali lagi . Pangilan pada Setefani , kelas VIII-1 supaya ke ruang guru!
Setefani yang saat itu sedang berada di perpustakaan tengah ngebaca buku berisi ilmu pengetahuan umum bersama dengan Damar , dibuaf terkejut mendengar pwngumuman itu . Sepontan dia ngerutin kening dan memandang ke arah Damar , seakan minta pendapat . Yang dipandang cuma bisa ngangkat kedua pundaknya , sebab Damar sendiri nggak tau dan nggam ngerti ,alasan apa Setefani di panggil ke ruang guru .
" Ada apa, ya ? " gumam Setefani
" Sebaiknya lo keruang guru dulu, Fani ."
" Ada masalh apa gue di panggil ? Gue ngerasa nggak punya masalah , Kok."
" Daripada lo bertanya - tanya tanpa lo tau jawabannya , sebaiknya lo ke ruang guru aja ," saran Damar.
" Apa nggak mungkin ada yang mau macam - macam ama gue , nyebarin berita bo' ong sehingga gue di panggil ?"
" Sebaiknya jangan berperasangka buruk dulu , Fan . Mending lo temui aja para guru agar jelas dulu persoaalanya ."
Setefani menghela napas panjang .
" Baiklah . Gue tinggal dulu, ya ?"
Damar Setefani pun ninggalin ruang perpustakaan dimana Damar berada, untuk nemuin para guru di ruang guru yang memanggilnya . Sambil melangkah , hati Setefani terus bertanya - tanya , ada gerangan apa sehingga dia di panggil ke ruang guru ?
" Ada apa lo dipanggil ke ruang guru , Fan ?" tanya salah seorang temannya yang kebetulan berpapasan dengan Setefani .
__ADS_1
" Nggak tau ."
" Lo ngerasa punya masalah nggak ?" tanya temennya yang lain.
" Nggak !"
" Kok tumben - tumbenan lo dipanggil ?"
" Itulah yang gue nggak ngerti ."
" Apa mungkin Wulan ngasih berita yang nggak - nggak sama pak guru , sehingga lo dipanggil ?"
" Bener Fan . Semenjak lo deket sama Damar , Wulan sepertinya ngejadiin lo musuhnya sebagaimana dia ngejadiin Damar musuhnya ."
" Lo nggak takut?"
" Takut kenapa?"
" Selama ini nggak ada yang berani sama Wulan ."
" Karena dia putri tunggal seorang pengusaha ?"
tanya Setefani sembari senyum.
__ADS_1
" Kok lo senyum?"
" Gue juga putri tunggal seorang pengusaha ."
" Ah , benar! kenapa kami jadi lupa kalo lo sama Wulan sama - sama tajir, ya ?" gumam sang temannya.
" Mungkin karena selama ini lo tampil wajar - wajar aja sih nggak seperti Wulan .Sehingga lo seakan bukan seorang putri pengusaha kaya sebagaimana Wulan.Jadinya kami pun lupa siapa lo yang sebenarnya ..."
" Mending gitu, sehingga kalian nggak segan gaul sama gue ," jawab Setefani sembari senyum ." Oke , gue ke ruang guru dulu untuk nyari tau , ada apa gue di panggil ."
" Oke deh , moga aja dugaan kami nggak bener . Dan moga aja nggak ada masalah apa - apa sama lo, Fan ."
" Oke . Thank .... sampe nanti ."
Setefani pun nerusin langkahnya menuju ke ruang guru untuk nemuin para guru sekaligus nyari tau , ada masalah apa sehingga dia mesti di panggil ke ruang guru . Ya , kalo dia nggak nemuin para guru , gimana dia akan tau masalah yang sebenarnya ?
Setefani sudah berada di delan pintu ruang guru. Dengan hati masih meliputi barbagai macam tanya , dan denga perasaan agak nggak menentu , perlahan Setefani ngangkat tangan kananya . Lalu dengan ujung - ujung jarinya , dia ngetok pintu ruang guru.
" MASUKKK......!"
Terdengar dari dalam suara seorang guru nyahutin Menyuruh Setefani agar masuk ke dalam.
Pelahan Setepani memutar handel pintu , kemudian menariknya hingga terbuka ke dalam sembari ngangukin kepala dan menyapa sopan.
__ADS_1