RASA CINTA ANAK SMP

RASA CINTA ANAK SMP
07


__ADS_3

Rupanya kehadiran Damar yang meski anak seorang janda miskin tetapi cerdas ,tengah menjadi bahan pembicaraan yang cukup menarik bagi para siswa - siswi SMP Negri 49 , khususnya anak- anak kelas VIII-1 dimana Damar di terima di kelas itu.


" GILE.... nggak sangka tuh anak baru cerdas bener," celoteh salah seorang siswi kelas VIII-1 membuka pembicaraan ,dan emang dia yang mulai ngebicarain mengenai Damar.


" BENER!" timpal siswi lain ." Gue juga nggak nyangka , kalo dia yang cuma anak seorang janda miskin , yang unutuk bisa makan aja mesti kerja keras banting tulang, kecerdasannya melebihi kita -kita..."


" Iya .Kita yang anak kota besar , eh bisa dikalahin oleh anak kampung . Malu bener gue , sewaktu pak Dirman ngasih sepuluh soal , nggak satupun dari kita yang bisa . Eh tuh anak malah sudah menguasai materinya . Gile ... bener- bener gile !"


" Bener ! padahal soal - soal itu belom pernah di berikan oleh pak Dirman pada kita . Malah kata pak Dirman , soal - soal itu semestinya untuk anak - anak kelas sembilan ...."


Setefani yang dengerin pembicaraan temen - temenya , yang semula acuh, jadi ngerasa semeng dan makin kagum aja pada cowok baru bernama Damar Sulistio itu. Setelah meneguk es campurnya , stefani kemudian pindah tempat duduk , ikut kumpul sama teman - temanya yang sedang seru ngebicarain Damar .


" Maksud kalian Damar ?" tanya setefani.

__ADS_1


" Ya , siapa lagi anak baru di kelas kita ?"


Setefani tersenyum.


" Jadi menurut kalian , gimana ? Apakah dengan kenyataan yang ada , dimana dia yang anak orang nggak punya serta berasal dari kempung ternyata kecerdasannya melebihi kita , pantaskah kita memusuhinya ?" tanya setefani. Berkata begitu , Setefani melirik ke arah Wulan yang duduk di sudut kantin dengan teman teman pilihannya ." Ato , semestinya kita dengan senang dan dengan tangan terbuka menerima kehadirannya di antara kit ?


Karna dengan kecerdasan yang dimilikinya , paling nggak kita bisa belajar darinya."


" Teman - temannya terdiam . Sepertinya mereka tengah berusaha untuk meresapi dan menganalisa apa yang di katakan oleh setefani . Sementara di sudut kantin Wulan tampak senyum kecut mendengar penuturan setefani.


" Iya ...nggak level, dong..."


" Salah - salah kita ketularan jadi udik ."

__ADS_1


Wulan sama teman - temannya ketawa kompak.


Semua itu membuat Setefani hanya bisa menghela nafas panjang sembari geleng gelengin kepala. Dia bukannya takut sama Wulan cs yang emang terkenal suka cari masalah . Tapi buat apa ribut sama teman sendiri, yang juga sekelas. Nggak ada artinya . Dan pula , kalo dia tersinggung sama omongannya Wulan cs , nanti bisa - bisa teman- temannya akan nganggap kalo dia ada perasaan sama anak baru yang bernama Damar.


Sebenarnya , Kalo di pikir , nggak ada ruginya sich dikatakan punya perasaan sama Damar. Kenapa emangnya? Damar juga manusia seperti dirinya , juga seperti yang lain . Damar cowok, sedangkan dia cewek.


Wajar kan kalo cewek suka sama cowok dan cowok suka sama cewek . Yang nggak wajar , justru kalo cewek suka sama cewek ato cowok suka sama cowok. Dan lagi pula, tuh cowok juga lumayan keren . Nggak kalah sama cowok - cowok lain di SMP Negeri 49. Hanya saja karna anak orang nggak punya , penampilan Damar yang apa adanya. Bahkan bisa di bilang minim. Pakean yang dikenakan sebagemana yang di katakan oleh Wulan sudah lecek , ato mungkin bener pakean bekas pemberian orang. Kalo Damar anak orang berada dan didandanin sedemikian rupa , Fani yakin , pasti cowok di jakarta bakal kalah deh sama dia . Masalah miskin dan kaya , bagi Fani nggak masalah . Dia bukan cewek sombong dan angkuh seperti Wulan . Dia juga bukan tipe cewek yang suka menghina sama ngerendahin orang lain.


" Sudah , jangan dengerin mereka, Fan," kata temenya .


" Iya . Mereka sih emang gitu. Yang penting kita nggak seperti mereka ."


Setefani tersenyum. Hatinya senang karna ternyata banyak juga teman sekelasnya yang berperinsip dan berpandangan seperti dirinya terhadap kehadiran Damar. Tetapi, meski pun nggak ada temenya yang berpikiran dan berprinsip seperti dirinya , Setefani sudah mutusin kalo dia akan menerima Damar sebage temenya .

__ADS_1


Bel tanda waktu iatirahat usai terdengar berderang mereka pun bergegas ninggalin bangku masing - masing menuju ke ibu kantin untuk membayar makanan sama minuman yang telah mereka makan. Baru kemudian secara bergerombol - gerombol mereka ninggalin kantin.


__ADS_2