
Damar yang anak baru di SMP Negeri 49 itu nggak mengerti kenapa Wulan seperti membencinya . Padahal di merasa nggak bersalah . Damar juga sudah berusaha untuk nggak menanggapai hinaan yang di lontarkan oleh Wulan . Bahkan dia tadi berusaha untuk mengajak bersahabat dengan tersenyum . Tetapi Wulan malah memelototinya dengan wajah nunjukin ketidak sukaan kepadanya . Damar nggak tau penyebab utama ketidak sukaan Wulan kepadanya . Damar hanya berpikir , mungkin Wulan membencinya karna cewek itu putri pengusaha kaya , sedangkan dirinya cuma orang miskin .
Bel tanda waktu istirahat belajar berbunyi .Begitu guru pengajar meninggalkan ruang kelas , bagai sekawanan burung yang baru lepas dari sangkarnya (lebay๐๐).
para siswa pun berhamburan keluar ninggalin ruang kelas untuk mengekspresikan kebebasannya . Ada yang langsung menuju ke kantin , ke perpustakan , dan ada juga yang kelapangan untuk main basket .
Sebagai siswa baru pindahan , tentu saja Damar masih merasa asing dengan lingkungan sekolahnya yang baru. Dia yang orang nggak punya , jadi semakin bertambah minder aja dengan keadaan lingkungan sekolahnya yang baru itu , di mana hampir semua siswa di sekolah itu rata - rata adalah anak orang berada Nggak seperti dirinya yang cuma anak janda miskin , yang untuk bisa membiayai hidupnya , mesti kerja keras banting tulang nggak mengenal lelah . Bahkan Damar sendiri turut ngebantu ibunya dengan cara berdagang koran . Pagi hari setelah sholat subuh , dia sudah mulai bekerja dengan mengantarkan korann ke pelanggannya . Sementara siang sampe sire hari sepulang sekolab , dia akan kembali berdagang koran di perempatan jalan , ato naik ke dalam bus.
Tengah Damar duduk sendirian di dalam kelas sambil ngebaca buku ,cewek cantik berambut pendek yang sedari tadi memperhatikan Damar dengan pandangan kagum akan kecerdasannya tuh cowok, masuk ke dalam kelas.
"Haiiii...?" sapa tuh cewek sembari senyum
" Hai juga," balas Damar .
__ADS_1
" Nggka keluar ?" tegur cewek itu
" Nggak ."
" Kenapa?"
" Nggak apa apa .
" Oh ya , kita belum kenalan ."
" Nama gue Stefani putri puspita sari , Temen temen biasa manggil gue fani.
Damar tersenyum dan mengangguk
__ADS_1
" Lo minder , ya ?" tanya fani kemudian.
" Begitulah . Di sini kebanyakan anak orang berbeda . sedangkan aku....
" Jangan berpikiran seperti itu . Kita semua sekolah di SMP yang sama . Jadi kita semua sama . Lo sama seperti gue dan yang lainnya ," tutur fani berusaha menyakinkan dan memberi motifasi pada Damar agar cowok itu nggak merasa minder lagi serta rendah diri karna keadaan status sosialanya .
" Nggak juga ."
" Nggak gimana?" Lihat sekeliling lo . Papan tulis itu apa ada yang berbeda ? Yang akan ngebedain yang satu papan tulis untuk anak orang kaya , dan yang satunya papan tulis untuk anak orang miskin? Nggak kan ?" tutur fani .
" Damar terdiam .
" Lihat meja dan kursi belajar ini," kembali fani menunjuk ." Apa ada yang berbeda ? semua sama dari kayu . Semua di buat dengan model yang sama . Apa ada perbedaan meja dan bangku untuk anak orang kaya dengan ank orng miskin ? Nggak , kan ? "
__ADS_1
Damar makin terdiam bungkam mendengar penuturan fani. Hatinya jadi kagum bercampur heran melihat sikap dan sifat Fani yang jauh berbeda bahkan merupakan kebalikan dari sifat dan sikaf Wulan . padahal . Fani juga merupakan anak tunggal seorang pengusaha yang cukup kaya dan ternama.