Red String Between Us

Red String Between Us
Episode 12


__ADS_3

"Sial. Dia pasti akan melakukan sesuatu!" Batinku.


"Hei, kau pencuri ponsel!" Panggilku pada pria yang tadi kukejar tadi.


Pria yang daritadi duduk ketakutan itu membulatkan matanya karna terkejut.


"Y-ya..?" Tanyanya.


"Apa kau bisa berkelahi?" Tanyaku.


"Ti-tidak! A-aku... Tidak bisa..." Jawabnya gugup.


Aku membulatkan mataku karna terkejut mendengar jawabannya.


"Apa?! Kau kan mencuri! Bagaimana jika tertangkap lalu diserang?!" Tanyaku lagi.


"Ka-kalaupun ada, a-aku tak akan menyerang. Orang-orang itu yang akan melakukannya...!" Jelasnya.


"Sial," Gumamku.


Aku menarik nafas untuk berfikir.


"Lihat orang-orang Asia itu, mereka bersembunyi di balik bahasa mereka!" Ledek pria gempal itu pada temannya.


Mereka bertiga menahan tawa mendengar kami mengobrol.


"Hei! Dengarkan aku! Aku akan melawan mereka, dalam hitungan ke 3 kau kabur dan hubungi polisi!" Suruhku.


"Ti-tidak bis..."


"Satu..." Potongku.


Pencuri itu terkejut karna aku benar-benar langsung menghitung.


"Nona, maafkan aku, tapi... Temui aku di tempat kita pertama bertemu tadi," pintanya.


Aku berhenti karna terkejut mendengar permintaannya.


"... Tiga!" Lanjut pencuri itu langsung lari.


Aku dan ketiga pria besar itu terkejut melihat aksi tiba-tiba dari si pencuri itu.


"Hei kau!" Teriak pria gempal itu memanggil pencuri yang kabur.


"Kejar dia!" Suruh pria gempal itu pada kedua temannya yang lain.


Aku terkejut mendengar perintah pria gempal itu.


Brug! Bak!!


Aku segera menghajar kedua pria yang baru ingin pergi mengejar pencuri tadi.


Duakkk!


Brug!


Dug! Brakk!


...


Pak Park melihat raut wajah Kyung Mi lagi.


Kini ia sudah merasa puas melihat imutnya wajah bosan bosnya itu.


"Nona Kyung Mi, sebenarnya... Saya ingin pergi ke satu tempat lagi..." Pintanya.


"?!"


Kyung Mi membulatkan matanya karna terkejut.


"Astaga! Pasti tempat bersejarah lainnya! Sial," Batin Kyung Mi.


"A-apa ini..?!" Batin Kyung Mi.


Kyung Mi terkejut melihat tempat yang dimaksud Pak Park tadi.


"Di-dia... Mengajakku ke Pont des arts?!" Batin Kyung Mi.


Pak Park tersenyum melihat wajah kagum Kyung Mi.


"A-ada apa ini...?" Tanya Kyung Mi pada Pak Park.


"Saya pernah membaca buku yang menjelaskan tentang tempat ini..."


Kyung Mi mengangkat kedua alisnya penasaran.


"...Katanya, jika kita menggantungkan gembok dengan nama pasangan kita di atasnya, hubungan mereka akan bertahan selamanya," Jelas Pak Park.


"Ah, begitu..."


"Ini, saya sudah membeli 2 gembok untuk kita. Ayo tuliskan nama pasangan anda..!" Ajak Pak Park sambil memberikan salah satu gembok ke tangan Kyung Mi.


"Terimakasih..." Jawab Kyung Mi.


Kyung Mi mulai mengukir nama di atas gembok itu.


"Kira-kira, nama siapa yang akan diukir Pak Park ya..?" Batin Kyung Mi.


Kyung Mi menoleh ke arah Pak Park.


Kyung Mi melihat Pak Park yang tersenyum mengukir nama di atas gemboknya.


"Dia terlihat sangat bahagia. Astaga, nama yang ada di atas gembok itu sangat beruntung..." Batin Kyung Mi sedih.


Pak Park menghampiri Kyung Mi begitu ia selesai mengukir.


"Apa nona sudah selesai?" Tanya Pak Park.


"Hm. Sudah," Jawab Kyung Mi sambil mengangguk.


Mereka berdua menghampiri pagar dekat mereka dan menggantungkan gembok masing-masing.

__ADS_1


"Aku penasaran nama siapa yang dia ukir...!" Batin Pak Park.


"Apa kau ingin pergi ke tempat lain lagi?" Tanya Kyung Mi.


Kyung Mi sedikit berharap bahwa Pak Park mengajaknya pergi lagi ke tempat lain.


"Tidak," Jawab Pak Park.


Kyung Mi terkejut mendengar jawab Pak Park.


"Astaga, kenapa aku malah jadi sedih begini..." Batin Kyung Mi.


Pak Park menunggu keputusan Kyung Mi.


"A-ah, kalah begitu, se-sebaiknya kita balik ke hotel. Aku akan hubungi Youra," Jawab Kyung Mi ragu.


Baru saja Kyung Mi ingin mengambil ponselnya.


Greb!


Tapi Pak Park menahan tangan Kyung Mi hingga membuatnya membulatkan mata.


Pak Park langsung tersadar kalau dia menahan tangan bosnya itu.


"A-ah, maaf. A-apa saya boleh tau..."


Kini Kyung Mi menatap wajah Pak Park.


"...Nama siapa... Yang anda ukir..?" Lanjut Pak Park ragu.


"Ah, aku..."


Deg deg.


Jantung Pak Park berdegup kencang menunggu jawaban Kyung Mi.


"Aku... Mengukir nama... Mu..." Jawab Kyung Mi sambil tersenyum ragu.


"Tap-tapi kau tenang saja. Bukan berarti aku menyukaimu atau semacamnya hanya saja, itu..."


"...Saya juga mengukir nama anda," Potong Pak Park.


Kyung Mi terkejut mendengar perkataan Pak Park.


"A-aku..? Ke-kenapa..?" Tanya Kyung Mi.


"Maaf jika saya lancang. Saya... menyukai anda," Jawab Pak Park.


Deg deg. Deg deg.


"Astaga! Astaga! Astaga!!" Batin Kyung Mi senang.


"Ah! Tidak apa-apa, tidak usah dijawab sekarang, saya akan memberikan anda waktu..."


"Tidak. Aku akan jawab sekarang," Jawab Kyung Mi.


"Sebenarnya, aku... Juga menyukaimu," Lanjutnya.


Pak Park membulatkan matanya karna terkejut.


"Pacar... Ya! Kita berpacaran!!" Batin Kyung Mi.


"Ah... Iya," Jawab Kyung Mi.


"Tapi! Bisakah kita merahasiakannya dulu dari semua orang? Terutama keluargaku..." Pinta Kyung Mi.


"Aku tidak masalah..." Jawab Pak Park.


"Terimakasih..." Ucap Kyung Mi sambil tersenyum.


...


Hosh! hosh!


"Sial. Aku sangat lelah!" Gumamku.


Aku menoleh ke arah belakang.


"Kurasa mereka juga tidak akan mengejarku lagi," Gumamku lagi.


Nafasku masih terengah-engah.


Aku berusaha untuk melarikan diri tanpa tersesat di kota cinta ini.


Aku membuat ketiga orang gempal itu berputar-putar mengelilingi kota.


Dan aku masih melepas sepatuku.


"Auch..!" Jeritku.


Aku mengangkat salah satu kakiku kemudian melihat telapak kakiku yang terluka juga menjadi kotor.


"Sial. Aku harus pergi mencari pencuri ponsel itu!" Gumamku.


Aku memakai kembali sepatu heels-ku.


Klotak klotak.


"Astaga. Ini sakit sekali!" Batinku.


...


"Maaf. Aku benar-benar minta maaf!!" Ucap si pencuri itu.


Aku sudah menemukan pencuri itu.


Sebenarnya tidak.


Lebih tepatnya dia yang menemukanku.


Saat aku sedang berjalan ke arah toko tadi...

__ADS_1


Ia menarikku ke sebuah gang kecil.


Setelah bertemu, aku langsung mengajaknya masuk ke restoran terdekat yang menyediakan menu makan malam.


Itu karena aku tidak bisa terus-terusan berdiri dan menyebabkan kakiku tambah luka.


"Astaga! Kau tau?! Kau membuatku berlari mengelilingi kota ini tanpa alas kaki!" Omelku.


"Aku yakin orang-orang di kota ini menganggapku gila sekarang!" Gumamku kesal.


Aku melihat pria ini semakin ketakutan.


"Astaga... Maaf. Aku... Jadi kesal," Ucapku.


"Ti-tidak. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku yang mengambil ponselmu..."


"Ah, benar..." Gumamnya.


Ia merogoh saku celananya lalu mengeluarkan ponselku.


Kemudian, ia memberikannya padaku.


"Ini, sesuai janjiku, aku kembalikan ponselmu..."


Aku menerima kembali ponselku.


"Terimakasih," Jawabku.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak menelepon polisi seperti kataku tadi..?" Tanyaku teringat dengan kejadian saat ia langsung berlari tanpa menunggu aba-aba dariku.


"Itu karna... Jika aku menghubungi polisi, aku juga akan tertangkap. Aku kan... Mengambil ponselmu," Jawabnya.


"Bukannya itu bagus? Kau akan diberi pelajaran dan menjadi kapok karna telah mencuri," Tanyaku lagi.


"Aku... Tidak ingin dipenjara..." Lanjutnya.


"Cih. Tentu saja. Semua orang termasuk penjahat sekalipun tidak ingin dipenjara..!" Selaku.


"Memang. Tapi, aku tidak ingin dipenjara karna aku ingin kembali ke Korea..." Lanjutnya.


"Hmm? " Gumam Youra bingung.


"Sebenarnya, aku sudah tinggal di sini selama 5 tahun..."


"Lalu?" Tanyaku.


"...Dulu, saat aku kecil, aku diculik di Korea,"


"Dan aku tidak menyadarinya,"


"Pria yang menculikku merawatku selama 3 bulan. Lalu, ia menjualku ke sebuah pasar gelap di Marseille,"


[ Marseille \= Salah satu kota yang berada di Prancis ]


"Aku sangat takut waktu itu. Aku langsung melarikan diri dari tempat itu,"


"Biar kutebak. Lalu kau bertemu orang-orang gempal itu..?" Tanyaku.


Ia mengangguk setuju.


"Lalu mereka bilang, mereka bisa memberiku makanan, asalkan aku selalu memberikan mereka sesuatu," Lanjutnya.


"Jadi, kau mencuri untuk membayar makanan yang mereka berikan?" Tanyaku lagi.


Ia mengangguk setuju lagi.


Aku menghela nafas berat.


"Astaga..." Gumamku.


"Siapa namamu?" Tanyaku.


"Do Kwang-Sun," Jawabnya.


"Pfffft,"


Secara spontan, aku tertawa setelah mengetahui namanya.


Ia mengangkat salah satu alisnya bingung.


"Maaf-maaf. Jadi, namamu Do... Kwang-Sun?" Tanyaku lagi memastikan.


Ia mengangguk lagi.


"Astaga, namanya bertolak belakang dengan pekerjaannya..." Batinku.


[ Kwang-Sun \= Penuh Cahya Kebaikan ]


Sluuurp.


Aku menyeruput kopiku.


"Begini, aku tidak bisa melihat orang dari negaraku menderita di negara lain... "


"...Jadi, kurasa aku bisa membantumu kembali ke Korea," Jelasku.


Pria itu membulatkan matanya karna terkejut.


"Benarkah?! Terimakasih! Terimakasih banyak!" Jawabnya sambil menggenggam dan terus mengayun-ayunkan tanganku.


"Boleh kutahu namamu? Aku akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti," Tanya-nya.


"Youra. Namaku Ahn Youra," Jawabku.


"Nona Youra, aku akan membalasmu suatu hari nanti. Terimakasih. Terimakasih banyak..!!" Seru Kwang-Sun.


Aku tersenyum puas melihatnya bahagia.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2