Red String Between Us

Red String Between Us
Episode 17


__ADS_3

"Apa maksudmu?" Tanyaku bingung.


"Kau tau? Sepertinya kau lebih aman tinggal di rumahku terlebih dahulu," Jawabnya.


"Apa? Kau juga tau bukan? Orang yang menguntitku ternyata tidak berniat menguntit...! Terlebih lagi aku kenal dengannya...!" Tolakku.


"Tidak. Tetap saja aku masih khawatir," Lanjutnya.


Aku mengangkat kedua alisku.


"Astaga! Kenapa kau bertingkah seperti ini?!" Batinku.


Aku bukannya tidak mau.


Hanya saja, aku akan sangat malu, jika aku terus-terusan bertemu dengannya sepanjang waktu.


Apalagi jika aku melakukan hal aneh.


"Ayo. Kuantar kau ke rumahmu. Akan kutunggu kau membereskan barang-barang," Ajak Hyunshik.


"Apa?" Tanyaku terkejut.


Bruuum.


Hyunshik menjalankan mobilnya.


...


Bip bip bip.


Biiip.


"Berikan jarimu padaku," Pintanya.


Ia mengambil tanganku.


Deg!


"Astaga...!" Batinku terkejut.


Kemudian ia menempelkan ibu jariku pada kunci rumahnya.


"Ini dia. Sidik jarimu sudah kudaftarkan," Katanya.


"Ah, baiklah..." Gumamku.


Cklek.


"Ayo, ikuti aku. Aku akan tunjukan kamarmu..!" Ajak Hyunshik.


Greb.


Ia menggenggam tanganku lalu menarikku masuk ke dalam rumahnya.


...


Tik tok tik tok.


"..."


Sunyi.


Saat ini, aku sedang duduk di atas kasur.


Aku sudah berada di kamar yang Hyunshik pinjamkan padaku dari 1 jam yang lalu.


Hyunshik bilang ini adalah kamar tamu.


Biasanya digunakan hanya saat orangtua atau adiknya datang.


Karena saat ini mereka tidak ada di sini, aku yang memakainya.


"Astaga... Aku benar-benar di rumahnya..." Gumamku.


Bruk.


Aku membantingkan tubuh ke atas kasur.


"Astaga... Aku tidak percaya dia benar-benar sungguhan saat mengajakku kemari," Gumamku.


Tadi, saat di rumahku, aku berniat untuk membiarkannya menunggu.


Itu karna sangat malu menginap di rumahnya.


Tapi setelah beberapa menit, aku memeriksa kembali parkiran rumahku.


Dan ternyata ia masih menungguku.


Aku jadi semakin ingin menginap di rumahnya.


Akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya.


Tok! tok!


"Oh!" Gumamku terkejut.


Pikiranku langsung buyar ketika ada yang mengetuk pintu kamarku.


"Youra, apa kau sudah tidur? Aku menyiapkan makan malam," Panggil Hyunshik.


"Ah, iya! Aku akan segera ke sana sebentar lagi!" Jawabku yang langsung mengambil sisir dan menyisir rambut panjangku dengan rapi.


Tap tap tap.


Hyunshik berjalan pergi dari kamar Youra.


Hyunshik tersenyum senang karna Youra ada di rumahnya.


...


"Terimakasih untuk makananya," Kataku.


"Tentu. Apa itu enak?" Tanya Hyunshik.


"Astaga, kau sudah menanyakannya hingga 10 kali! Tentu, ini enak!" Jawabku jengkel.


Hyunshik tersenyum kecil.


"Sini, biar aku yang mencuci piring..!" Kata Hyunshik.


"Ah, ti-"


"Syuut! Jangan menolak," Potong Hyunshik sambil menaruh jari telunjuknya di atas bibirku.


"Baiklah..." Jawabku sambil mengangkat kedua alisku terkejut.


"Ah benar, aku akan pergi besok. Sepulang kerja aku akan ambil barang-barangku lalu kembali ke rumahku," Jelasku.


"Jangan. Kau tidak akan tau sampai kapan si bocah itu menguntitmu," Bantah Hyunshik.

__ADS_1


"Tapi aku bisa menjaga diriku," Kataku meyakinkan.


Hyunshik kembali duduk di hadapanku setelah selesai mencuci piring.


"Aku tidak percaya itu," Jawabnya.


"Kau tau? Aku belum menceritakan bagaimana aku bisa kenal dengan Kwang-Sun kan?" Tanyaku.


"Ah benar! Kenapa kau terlihat dekat sekali dengannya? Apa kau benar-benar mengangkatnya menjadi anak?" Tanya Hyunshik.


Aku membulatkan mataku terkejut.


"Apa?! Siapa yang mengatakan itu?!


" Tanyaku balik.


"Min-Jun," Jawab Hyunshik.


"Sialan. Bukan! Bukan seperti itu!" Jawabku.


"Syukurlah..." Gumam Hyunshik.


"Jadi, bagaimana kau bisa mengenalnya?" Tanya Hyunshik.


Ia mendengarkanku dengan cermat.


"Saat aku di Paris, ia sempat mengambil ponselku," Jawabku.


"Apa?! Sudah kubilang bukan?! Kau harus berhati-hati padanya!" Potong Hyunshik.


"Dengarkan dulu!!" Pintaku sambil menggoyang-goyangkan kedua bahu Hyunshik.


Mata kami tertuju pada tanganku yang memegang bahu Hyunshik.


"Astaga!" Batinku terkejut.


Aku langsung melepas tanganku lalu menariknya kembali.


"Yah... Jadi... Waktu itu, aku sedang membeli macaroon di toko yang berada di dekat menara Eiffel..."


"...Awalnya semuanya biasa-biasa saja. Tapi tidak lama kemudian, Kwang-Sun mencuri ponselku,"


Hyunshik mengerutkan keningnya.


"Aku mengejarnya hingga ia terpojok," Lanjutku.


"Tiba-tiba ada 3 orang berbadan besar datang dan memalaki Kwang-Sun. Aku menyuruh Kwang-Sun untuk kabur. Lalu aku mengahajar ketiga orang tersebut," Lanjutku.


Aku tersenyum puas saat mengingat kejadian itu.


Hyunshik memperhatikanku sambil tersenyum.


"Tapi tak kusangka ketiga orang itu malah mengejarku,"


"Kwang-Sun berhasil bersembunyi. Dan ia mengajakku untuk bersembunyi bersamanya"


"Ia ingin mengembalikan ponselku. Tapi waktu itu, aku tidak kuat berdiri lagi. Kakiku benar-benar sakit,"


"Lalu..."


"Tunggu!" Potong Hyunshik.


"Kakimu kenapa?!" Tanya Hyunshik cemas.


"Ah, saat aku berlari, aku melepas heels-ku agar aku dapat berlari kencang," Jawabku sambil memamerkan deretan gigi putihku.


"Tunggu sebentar," Pinta Hyunshik.


Dan aku memperhatikannya keluar dari ruang makan.


"Astaga... Apa yang akan dia lakukan? Apa ceritaku begitu membosankan? Makanya dia kabur?" Batinku bingung.


Huffft...


Aku menghela nafas panjang.


...


Cklek.


"Aku kembali. Ini aku belikan..."


Hyunshik baru datang.


Tapi ia terkejut saat melihatku tak ada di ruang makan.


"Youra?" Panggil Hyunshik.


Ia mengerutkan keningnya bingung.


Drap drap drap.


Ia bergegas keluar dari ruang makan lalu pergi ke kamar Youra.


Cklek.


"Kemana dia pergi?!" Gumam Hyunshik panik.


Ia tidak menemukanku di kamarku sendiri.


Drap drap drap.


Ia berkeliling rumah.


Tapi tak ada satupun ruangan yang di dalamnya terdapat diriku.


"Astaga... Kemana dia...?!" Gumam Hyunshik lagi.


"Jangan-jangan..."


Ia terpikirkan sebuah ruangan.


Drap drap drap.


"Astaga..." Gumam Hyunshik lega.


Ia menemukanku di kamarnya sendiri.


Memang benar.


Karena aku terlalu bosan menunggu Hyunshik, aku memutuskan untuk berkeliling rumah.


Dan pemberhentian terakhirku adalah kamarnya.


Memang tidak sopan untuk masuk ke kamarnya tanpa izin.


Tapi aku sangat penasaran dengan apa yang ada di dalamnya.


Jadi, aku memutuskan untuk tetap masuk.

__ADS_1


Baru saja duduk di atas kasurnya.


Tapi aku malah tertidur dan tak sempat berkeliling kamar.


Hyunshik menyelimutiku dan segera keluar setelah menaruh kantung berisi obat untuk kaki-ku.


...


Drrrt.


Aku menarik koperku keluar kamar.


Aku berusaha menghindari Hyunshik pagi ini.


Aku sangat malu karena semalam aku tertidur di kamarnya.


Untung saja, saat aku bangun ia masih tertidur.


Dan aku merasa tambah tidak enak, saat melihat ia tertidur di sofa ruang kerja-nya.


"Untung saja dia belum bangun..." Gumamku lega.


"Mau kemana?" Tanya Hyunshik.


Deg!


Aku membulatkan mataku terkejut.


"Astaga, tolong aku...!" Batinku panik.


"Nona Ahn Youra? Mau kemana kau?" Tanya Hyunshik lagi.


Aku membalikkan badanku.


Aku tersenyum takut.


"Pu-pulang...?" Jawabku sambil tergagap.


"Duduklah. Aku akan buatkan sandwich untuk sarapan," Suruhnya.


"Ba-baik..." Jawabku menurut.


...


"Sial. Bagaimana ini...?!" Batinku bingung.


Kini, aku benar-benar malu, bahkan tak dapat menatap matanya.


"Tenang saja. Kau tidak melakukan hal aneh," Celetuk Hyunshik seakan-akan dapat membaca pikiranku.


Aku mengangkat kedua alisku terkejut.


"Jangan katakan hal seperti itu dong!" Batinku kesal.


"Apa kau benar-benar ingin pulang?" Tanyanya lagi.


"Te-tentu saja!" Jawabku.


"Tapi 30 menit lagi kau harus bekerja," Kata Hyunshik sambil menunjuk ke arah jam di dinding.


"Be-benar juga..." Gumamku.


"Kalau begitu, aku akan pergi setelah pulang bekerja...!" Kataku.


"Aku berangkat dulu!!" Pamitku yang langsung bergegas keluar dari ruangan itu.


Hyunshik tersenyum kecil.


...


Ckiiit.


Aku sudah pulang bekerja dan bergegas menuju rumah Hyunshik.


Bip bip bip.


Cklek.


Pintu rumahnya sudah terbuka.


Tapi aku masih berdiri di depan pintu sambil mengerutkan keningku.


"Ada apa ini? Aku tidak salah rumah bukan?" Batinku bingung.


Aku bingung.


Karena saat ini, aku melihat sepasang orang tua dan seorang remaja laki-laki yang sedang menatapku kebingungan.


Aku mengedipkan mataku berkali-kali.


Tapi tetap saja yang kulihat masih sama.


Yaitu sebuah keluarga yang menatapku dengan tatapan heran.


Tak lama, pandanganku tertuju pada Hyunshik yang baru datang dari arah dapur.


Aku melihat bahwa Hyunshik sama terkejutnya denganku.


Langkahnya terhenti.


Aku menatap ke arahnya lalu mengangkat kedua alisku mengisyaratkan bahwa aku bertanya apa yang harus aku lakukan.


Hyunshik menggelengkan kepalanya lalu mengangkat dagunya mengisyaratkan bahwa aku harus berpura-pura salah masuk dan pergi.


Mataku membelalak karna terkejut dengan jawabannya.


Aku menghela nafas dan bersiap memulai akting-ku.


"Ini dia..." Batinku gugup.


"Astaga...! Kurasa, aku salah rumah. Hahaha... Maafkan aku..." Kataku sambil membungkuk pada orang-orang itu.


"Maafkan aku..." Lanjutku sambil menutup pintu perlahan-lahan.


Cklek.


Pintu rumah Hyunshik sudah tertutup dan aku langsung pergi jauh-jauh dari rumahnya dengan setengah berlari.


Meskipun, aku merasa sedikit kesusahan karena aku memakai heels.


Hosh hosh.


Aku berhenti sebentar karena aku sudah kelelahan dan nafasku terengah-engah.


"Astaga! Mau kutaruh dimana wajahku nanti?!" Gumamku panik.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2