Red String Between Us

Red String Between Us
Episode 20


__ADS_3

"Ayah percaya bahwa yang kalian berdua pilih adalah sesuatu yang bagus,"


"Ada apa ini...?" Batinku bingung.


Ayahku tidak menyertakan nama Tae-Hyun dalam kalimatnya tadi.


Aku memang tak terlalu terkejut.


Ayahku dan Tae-Hyun memang tidak terlalu akrab.


Itu semua berawal saat Tae-Hyun meminta izin pada ayah untuk menikahi Choon-Ae, kakak iparku.


Ayah mengatakan bahwa beliau tidak merestui pernikahan kakakku.


Dengan alasan, ia tak menyukai pekerjaan Kak Choon-Ae yang merupakan seorang pengacara.


Entahlah, kurasa itu hanya omong kosong.


Ibuku dulu juga seorang pengacara.


Tapi hingga sekarang, status mereka masih dalam status perkawinan.


Meskipun ibuku sudah pergi meninggalkannya lebih dulu 7 tahun yang lalu.


Aku memikirkan sesuatu yang mungkin saja menjadi alasan sebenarnya mengapa ayah tidak merestui Kak Tae-Hyun.


Kak Tae-Hyun meminta izin pada ayah tepat setelah 3 bulan ibu meninggalkan kami.


Kurasa, hati ayah masih berkabung saat itu.


Tapi bukan berarti sepenuhnya salah Tae-Hyun.


Tae-Hyun memang sudah merencanakan untuk menikahi Kak Choon-Ae pada bulan tersebut sejak lama.


Tapi tak kami sangka, ibu akan pergi meskipun tak memiliki riwayat penyakit yang parah.


Ditambah lagi, Kak Choon-Ae belum mengandung setelah 1 tahun pernikahan mereka.


Ayah baru ingin menyuruh Tae-Hyun untuk menceraikan istrinya.


Tapi rencana itu dibatalkan.


Karena, 1 bulan kemudian, Kak Choon-Ae dikabarkan mengandung Seo-Yoon, keponakanku.


Itulah yang selama ini kupikiran.


Aku dan Kyung Mi sangat kuwalahan ketika ayah sudah mulai mengamuk ingin menghajar Tae-Hyun.


Kami berdua sangat menderita.


Kuliah kami jadi sedikit terganggu.


"Astaga... Memikirkannya saja sudah membuat bulu kudukku merinding. Hiii," Batinku ngeri.


"Aku ingin, di antara kalian berdua jangan ada yang memiliki pasangan terlebih dahulu..!" Seru ayahku sambil menoleh ke arahku dan Kyung Mi bergantian.


Deg!


Aku, Kyung Mi, dan Tae-Hyun menoleh ke arah ayah secara bersamaan.


"Apa?!" Batinku terkejut.


"Ayah!" Panggil Kyung Mi.


Ayahku menoleh ke arah Kyung Mi.


"Apa kau keberatan?" Tanya ayahku.


"Ti-tidak..." Jawab Kyung Mi.


"Menjengkelkan sekali!" Batin Kyung Mi kesal.


Aku kembali menghadap makananku.


"Bagaimana ini...?" Batinku bingung.


...


Klotak klotak klotak.


Saat semua orang akan pulang, aku sedikit berlari mengejar ayah.


"Ayah..!" Panggilku.


Ayahku menghentikan langkahnya lalu berbalik.


"Ayah, aku... Ingin bertanya, kenapa... Aku dan Kyung Mi tidak dibolehkan mempunyai pasangan terlebih dahulu...?" Tanyaku.


"Kenapa? Kau sudah punya?" Tanya ayahku curiga.


Deg!


Aku terkejut mendengar pertanyaan berusan.


"Be-belum..."


Itu faktanya.


Aku sedang tidak menjalin hubungan asmara dengan siapapun.


Tapi... Aku mulai menyukai Hyunshik.


"Aku yang akan memilih pria terbaik untuk menjadi pasanganmu dan Kyung Mi nanti,"


"Ayah!" Tolak batinku.


Ayahku pamit lalu masuk ke dalam mobilnya.


Klotak klotak klotak.


Aku juga pergi dan menghampiri mobilku dengan perasaan bingung.


"Hm?" Gumam Tae-Hyun bingung.


Tae-Hyun melihatku menghampiri ayah tadi.


Dan saat ini, ia mencurigaiku.


...


Bruuuum.


Sepanjang perjalanan, aku terus bergumam.


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak ingin mengecewakan ayah,"


Tes.


Air mataku mulai mengalir.


"Tapi, bukankah seharusnya ayah menghargai pilihanku dan Kyung Mi...?"


"Haruskah aku merelakannya...?"


Hiks... Hiks...


"Apa yang harus kulakukan...?" Gumamku lagi.


Aku berusaha menyeka air mataku agar tidak menghalangi pandangan karna sedang menyetir.


...


Bip bip bip.


Cklek.


Aku masuk ke dalam rumah Hyunshik seolah tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Kau sudah pulang? Bagiamana tadi?" Tanya Hyunshik.


"Hm. Begitulah," Jawabku.


"Aish. Ceritakan padaku," Pintanya.


"Tidak mau ah!" Omelku.


Tap tap tap.


Aku berjalan ke kamarku.


Hyunshik mengangkat salah satu alisnya bingung.


...


Drrrt.


Aku menarik koperku keluar dari kamar.


Hyunshik terkejut melihatku.


Drap drap drap.


Hyunshik menghampiriku.


"Kau akan pulang?" Tanyanya.


"Ya," Jawabku sambil mengangguk.


"Begitu..."


"Tapi, bukankah ini sudah larut?" Tanya Hyunshik lagi.


"Jangan cemas, aku bisa menjaga diriku," Jawabku.


"Baiklah..." Gumam Hyunshik.


"Terimakasih karena sudah mengizinkanku menginap beberapa hari ini," Kataku pamit.


Cklek.


Aku menutup pintu rumah Hyunshik.


Dan berjalan pergi ke arah lift.


Huffft...


Hyunshik menghela nafas.


"Astaga... Rumah ini jadi membosankan lagi..." Gumam Hyunshik.


...


Cklek.


Aku membuka pintu rumahku.


"Kakak!" Panggil Eun Kyung.


"Astaga!" Jeritku.


Aku terkejut karena lagi-lagi Eun Kyung masuk rumahku tanpa mengabarkan terlebih dahulu..


Ditambah lagi,ia mengejutkanku.


"Apa kau... Hanya mampir sebentar?" Tanya Eun Kyung.


"Tidak," Jawabku.


"Astaga! Bagaimana ini??!" Batin Eun Kyung cemas.


Aku mengangkat salah satu alisku melihat raut wajah Eun Kyung.


"Sedang apa kau di sini?" Tanyaku.


"Lalu?" Tanyaku lagi.


"Hari ini aku mempunyai jadwal malam. Dan aku terlalu takut untuk pulang sendiri ke apartemen. Jadi, aku kemari," Jawabnya.


"Apa?! Jangan-jangan..."


"Apa kau memasuki kamarku?" Tanyaku.


"Emm, bagaimana ya... Aku tidak suka tidur di kamar tamu rumahmu," Jawabnya.


"Apa?!"


Drap drap drap.


Aku bergegas pergi ke kamarku.


Blam!


Aku membanting pintu saat membukanya.


"Astaga...! Ini kacau sekali!" Batinku terkejut.


"SEO EUN KYUNG!!!" Panggilku berteriak.


"Astaga, seharusnya aku bilang saja ada kucing yang masuk," Gumam Eun Kyung cemas.


Tiriring tiriring.


Ponsel Eun Kyung bergetar.


Menandakan ada panggilan yang masuk untuknya.


"Oh?" Gumam Eun Kyung terkejut.


"Kak Tae-Hyun?" Batin Eun Kyung bingung.


...


"Ini dia. Hari ini aku bekerja. Dan hari ini, Hyunshik juga mempunyai jadwal pemotretan" Gumamku.


Aku memikirkan harus bagaimana sekarang.


Setelah semalaman berfikir, aku memutuskan untuk mencoba menghindari Hyunshik.


Aku tak bisa melawan ayahku.


Aku tak seperti Kyung Mi dan Tae-Hyun yang berani menolak jika tak suka.


Aku tak ingin mengecewakannya.


Karena aku yakin, semua keputusan yang diambil olehnya, pasti mempunyai alasan tersendiri.


Cklek.


Aku membuka pintu mobilku.


"Halo!" Sapa Hyunshik.


"Astaga!" Gumamku terkejut.


"Selamat pagi Ahn Youra...!" Sapanya lagi.


Aku membulatkan mataku terkejut.


"Astaga...! Kenapa dia muncul di sini...?!" Batinku terkejut.


"Hm. Pagi..." Jawabku.


"Ke-kenapa kau datang pagi sekali? Pe-pemotretanmu kan masih 2 jam lagi..?" Tanyaku.


Hyunshik tersenyum.

__ADS_1


"Tidak apa. Aku lebih bersemangat jika berada di kantor," Jawabnya.


"Astaga, jangan bicara seperti itu dong...!" Batinku menyesal.


"A-aku pergi dulu." Pamitku.


"Hm. Silahkan," Jawab Hyunshik.


...


Klotak klotak klotak.


Saat ini aku baru saja ingin pergi keluar membeli makan siang.


"Ketua Youra!" Panggil Hyunshik.


Tapi dia memanggilku.


"Astaga! Bagaimana ini?!" Batinku terkejut.


"Halo," Jawabku.


"Apa kau akan makan siang?" Tanyanya.


Aku mengangguk.


"Kumohon jangan ajak aku...!"


"Mau makan denganku?" Ajaknya.


"Astaga!"


"Ma-maaf, tapi, aku sudah ada janji habis ini. Maafkan aku...!" Jawabku berbohong.


"Tidak apa-apa..." Jawabnya.


"Permisi..." Pamitku.


Klotak klotak klotak.


Aku pergi meninggalkan Hyunshik.


Lagi.


Huuft...


Hyunshik menghela nafas berat.


"Astaga... Kenapa dia sibuk sekali akhir-akhir ini...?" Gumam Hyunshik bingung.


...


Ckiiit.


Aku menghentikan mobilku.


Saat ini, aku berada di parkiran kantor.


Aku berdiam diri di mobil terlebih dahulu.


"Astaga, kupikir, menjaga jarak dari Hyunshik tidak akan terlalu sulit..." Gumamku lelah.


"Tapi nyatanya, ini benar-benar sulit! Sangat sulit!"


Sepekan ini, aku sudah mencoba untuk menjaga jarak dari Hyunshik.


Tapi dia malah terus-menerus menyapaku, mengajakku pergi bersama, mengajakku makan bersama, bahkan masih banyak lagi!


"Apa aku harus meminta surat perintah jaga jarak?" Gumamku.


"Astaga, itu terlalu berlebihan," Lanjutku sambil menggelengkan kepala.


Dug.


Aku menempelkan kepalaku ke atas setir.


"Bagaimana ini?!" Gumamku lagi.


"Aku tidak ingin melakukan ini..."


Huffft...


...


Drap drap drap.


Blam!


Aku membanting pintu ruangan Kyung Mi.


Hosh hosh hosh.


Nafasku sangat terengah-engah.


Aku melarikan diri dari Hyunshik.


"Hmm?" Gumam Kyung Mi bingung.


Aku menyandarkan tubuhku di depan pintu.


"Astaga...!" Gumamku.


"Hei! Kenapa kau terlihat seperti sedang dikejar anjing?" Tanya Kyung Mi.


"Ha?" Gumamku panik sambil menoleh ke arah Kyung Mi.


Tap tap tap.


Aku menghampirinya.


"Kak! Tolong aku! Kumohon...!" Pintaku.


"Ada apa sih? Hei! Kau harus ingat, kita sedang di kantor!" Omel Kyung Mi.


"Kumohon...!" Pintaku lagi.


Kyung Mi menghela nafas.


"Duduklah," Suruh Kyung Mi sambil menatap ke arah sofa.


Dug.


Aku dan Kyung Mi duduk berhadapan.


"Ada apa?" Tanya Kyung Mi.


"Kak! Kumohon tolong aku!!" Pintaku.


"Tolong apa?" Tanyanya lagi.


"Akhir-akhir ini, aku sedang menghindari Hyunshik. Tapi dia malah semakin mendekatiku...! Kumohon tolong aku..!" Jawabku.


"Tunggu! Untuk apa kau menghindarinya?" Tanya Kyung Mi bingung.


"Itu karena aku menyukainya..!" Jawabku.


Kyung Mi membulatkan matanya terkejut.


"Astaga!" Batinku panik.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2