
Aku menundukkan kepalaku.
"Astaga... Tamatlah aku..." Batinku pasrah.
"Kau... Menyukainya?" Tanya Kyung Mi.
Aku menatap Kyung Mi lagi.
"Hm..." Jawabku sambil mengangguk.
Kyung Mi diam, kemudian tak bertanya lagi padaku.
"Astaga! Astaga! Astaga! Kenapa aku malah mengatakannya?!" Batinku panik.
"...Jangan sampai ayah mengetahuinya," Kata Kyung Mi.
Aku membulatkan mataku.
"Hm?" Gumamku bingung.
"Jangan-jangan kau sudah mengatakan itu padanya?" Tanya Kyung Mi cemas.
"Be-belum..." Jawabku.
"Syukurlah..." Gumam Kyung Mi lega.
"A-aku... Harus bagaimana sekarang...?" Tanyaku bingung.
"Itu tergantung pada dirimu sendiri,"
"Kau ingin berhenti menghindar lalu mengatakan yang sebenarnya pada ayah, atau..."
"...Kau akan mengikuti ayah dan melanjutkan apa yang sedang kau lakukan sekarang,"
"Aku... Tidak ingin mengecewakan ayah..." Jawabku.
Kyung Mi mengangkat salah satu sudut bibirnya.
"Aku tau kau pasti akan memilih itu..." Sahut Kyung Mi.
Aku menatap kakakku dengan tatap bingung.
"Kau itu Ahn Youra. Kembaranku yang multitalenta, tapi sangat naif," Lanjutnya.
Hufft...
Aku menghela nafas berat.
Bruk.
Aku menyandarkan tubuhku ke sofa lalu menutup wajah dengan kedua telapak tanganku.
"Tapi Youra, apakah kau menyadarinya?" Tanya Kyung Mi.
"Menyadari apa?" Tanyaku balik.
"Hyunshik," Jawabnya.
"A-ada apa dengannya?" Tanyaku lagi.
"Kurasa, dia juga menyukaimu," Jelas Kyung Mi.
"Astaga kak...! Kau seharusnya tak mengatakan itu! Aku jadi semakin merasa bersalah..." Seruku kesal.
"Aku hanya ingin kau mengetahui itu" Jawabnya.
Huffft...
"Sudahlah. Aku kembali saja ke ruanganku. Mungkin pekerjaan bisa membantu mengalihkan pikiranku darinya," Pamitku.
"Semangatlah. Aku menghormati apapun pilihanmu. Dan aku akan selalu membantumu. Ingat itu," Hibur Kyung Mi.
"Terimakasih..." Jawabku.
Blam.
Aku menutup pintu ruangan Kyung Mi.
Tik tik tik.
"Halo? Kak Tae-Hyun!" Panggil Kyung Mi.
"Ada apa?" Tanya Tae-Hyun.
"Aku ingin memberitahu sesuatu, tapi aku yakin... Kau sudah mengetahuinya,"
"Apa itu?" Tanya Tae-Hyun lagi.
"Youra," Jawab Kyung Mi.
Baru saja Kyung Mi menyebut satu kata.
"Hm. Aku tau," Sahut Tae-Hyun.
Tapi Tae-Hyun mengatakan bahwa ia sudah mengetahuinya.
"Jangan sampai ayah tau itu," Lanjutnya.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Kyung Mi.
"Aku mempunyai sebuah rencana, tapi kurasa... Lebih baik kita menunggu dulu," Jawabnya.
"Kita tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya," Lanjutnya.
Kyung Mi mengerutkan keningnya bingung.
...
Klotak klotak klotak.
Aku baru saja pergi beberapa langkah dari ruangan Kyung Mi.
"Ahn Youra," Panggil Hyunshik.
Deg!
Aku menoleh ke asal suara dan melihat Hyunshik menghampiriku.
"Ka-kau belum pulang?" Tanyaku.
"Belum," Jawabnya.
"Ta-tapi, i-ini kan... Sudah lewat beberapa jam dari jadwalmu bukan?" Tanyaku lagi.
"Aku menunggumu," Jawabnya.
Aku membulatkan mataku.
Blush.
Aku merasa pipiku merona saat ini.
"Astaga... Bagaimana ini...?!" Batinku panik.
"Begini, aku ingin mengajakmu makan malam. Apa kau senggang?" Tanyanya.
"Apa aku boleh menerima tawarannya?" Batinku bingung.
Aku menatap wajah Hyunshik yang terlihat berharap aku menerima ajakannya.
"Ku-kurasa... Aku kosong malam ini..." Jawabku.
"Baik. Aku akan menjemputmu nanti malam." Seru Hyunshik senang.
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan pergi dulu, kembalilah bekerja. Semangat!" Serunya menyemangati.
"Terimakasih," Jawabku.
Ia berjalan menuju lift dengan mengahadap ke arahku.
Ia melambaikan tangannya.
Aku menjawabnya dengan senyuman.
"Kali ini saja...! Dan ini yang terakhir kali!" Batinku mengingatkan.
Aku berbalik dan bergegas pergi ke ruanganku.
...
Brrrrm.
Saat ini, aku sudah berada di dalam mobil Hyunshik.
"Apa kau menyukai steak?" Tanya Hyunshik.
Aku mengangguk.
"Syukurlah. Aku memesan tempat di restoran steak untuk kita malam ini," Lanjutnya lega.
Aku menghadap ke jendela.
Aku melihat pantulan diriku di sana.
"Begini sebentar tidak apa-apa kan ya...?" Batinku cemas.
...
"Ini. Makanlah," Suruh Hyunshik.
Ia memberikanku piring berisi daging yang sudah dipotongnya.
"Terimakasih," Jawabku sambil tersenyum.
"Apa kau tau? Hyun-Ae menanyakanmu," Kata Hyunshik.
Aku tak menjawab.
"Dia sangat senang kau datang waktu itu. Dia ingin bertemu denganmu lagi..." Lanjutnya.
"Astaga, Hyun-Ae..." Batinku membayangkan wajah adik laki-lakinya Hyunshik.
Saat itu, Hyun-Ae terlihat sangat senang melihatku yang diundang Hyunshik untuk datang ke rumahnya.
Seperti yang pernah Hyun-Ae bilang, alasannya karna Hyunshik hampir tidak pernah mengajak teman-temannya untuk mampir di rumahnya.
Lagi-lagi aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
Hyunshik mengangkat salah satu alisnya.
"Youra, apa ada masalah?" Tanya Hyunshik cemas.
Deg!
"Tidak. Tidak ada. Jangan khawatir," Jawabku.
"Bohong! Aku berbohong! Aku mempunyai masalah sekarang!," Batinku mengelak.
"Jika memang ada, ceritakan saja padaku. Siapa tau aku bisa membantumu," Suruhnya.
"Hm. Tentu," Jawabku.
"Aku ingin sekali menceritakannya padamu! Tapi aku juga tidak ingin ayah melakukan sesuatu padamu...!" Batinku lagi.
...
Ckiiit.
Kami baru saja sampai di rumahku.
"Siapa itu...?" Batinku penasaran.
Aku tak dapat mengenali pria tersebut karna minimnya cahaya di sana.
Cklek.
Hyunshik membukakan membuka pintu mobil untukku.
"Terimakasih..." Kataku.
Hyunshik menjawabnya dengan senyuman.
"Berhati-hatilah..." Kataku mengingatkan pada Hyunshik.
" Ya, masuklah. " Jawab Hyunshik.
Aku mengangguk.
Aku membalikkan tubuhku.
Klotak klotak klotak.
Aku berjalan menuju rumahku.
Hyunshik menyadari keberadaan pria tersebut.
Ia mengerutkan keningnya.
...
Aku menghampiri pria tersebut.
"Selamat malam Nona Youra," Sapa pria tersebut.
"Pak Nam?" Panggilku menyebut nama Sekretaris pribadi ayahku.
"Kenapa kau datang kemari?" Tanyaku.
"Tuang Ahn menyuruhku menjemput anda ke rumah beliau," Jawabnya.
"Apa..?!" Tanyaku bingung.
Aku mengerutkan keningku.
Drap drap drap.
Tiba-tiba, Hyunshik menghampiri kami.
"Ada apa ini?" Tanya Hyunshik.
Aku dan Pak Nam menoleh secara bersamaan ke arah Hyunshik.
"Youra, siapa ini?" Tanya Hyunshik lagi.
"Ini... Adalah Sekretaris pribadi ayahku, Nam Joo-Won," Jawabku pada Hyunshik.
"Ayahku menyuruhnya untuk menjemputku ke rumah orangtuaku," Lanjutku.
"Begitu..." Gumam Hyunshik sambil mengangguk kecil.
"Naiklah ke mobilku. Biar kuantarkan kalian...!" Pinta Hyunshik.
"Jangan!" Batinku terkejut.
"Ti-tidak usah. Pak Nam datang bersama seorang supir," Tolakku.
"Benarkah?" Tanya Hyunshik tak percaya.
"Hm..." Jawabku meyakinkan.
__ADS_1
"Baiklah... Hati-hati di jalan..." Kata Hyunshik mengingatkan.
Aku mengangguk lagi.
...
------------------------------------------------------------------------
Ahn Youra:
Kak, aku sedang dalam
perjalanan menuju rumah
Ayah.
Ahn Kyung Mi:
Astaga! Apa yang terjadi?!
Ahn Youra:
Entahlah...
Tadi Sekretaris Nam datang menjemputku.
Ahn Kyung Mi:
Kau jangan melakukan hal yang membuat ayah curiga.
Ahn Youra:
Hm... Baik.
------------------------------------------------------------------------
...
Tap tap tap.
Aku berjalan masuk ke dalam ruang tamu.
"Oh? Sudah sampai rupanya,"
Aku melihat Ayah berjalan menghampiriku.
Aku memberikan salam pada ayahku.
"Duduklah," Ajak ayahku.
"Baik," Jawabku.
...
Sluuurp.
Ayah sudah mengajakku mengobrol hingga 1 jam.
Tapi ia masih belum memberitahu apa yang menjadikan alasan aku dipanggil kemari olehnya.
"Begini... Ayah memanggilmu kemari karena..."
Krieeet.
Aku dan ayah menoleh pada pintu yang terbuka.
"Halo, ayah," Sapa Kyung Mi sambil menunduk.
"Kakak?" Batinku bingung.
"Oh? Kyung Mi, apa yang membawamu kemari?" Tanya ayah.
"Aku habis bertemu dengan temanku. Kebetulan dekat sini,"
Ayahku menatap Kyung Mi dengan tatapan datar.
"Astaga! Aku butuh alasan yang lebih meyakinkan!" Batin Kyung Mi panik.
"Lalu, aku juga takut untuk pulang ke rumah karna di daerah apartemenku sedang ada isu penguntitan," Lanjutnya.
"Begitu..." Gumam Ayahku.
"Duduklah. Kebetulan aku juga mengundang Youra kemari,"
"Baik ayah," Jawab Kyung Mi.
Ia duduk di sampingku.
Aku mengangkat kedua alisku mengisyaratkan bahwa aku menanyai alasan Kyung Mi datang ke sini.
Kyung Mi menggelengkan kecil kepalanya mengisyaratkan bahwa ia akan menceritakannya padaku nanti.
Aku menjawabnya dengan anggukan kecil.
...
Blam!
Drap drap drap.
Kyung Mi menghampiriku setelah menutup lalu mengunci pintu kamar.
"Hei, apa ayah menanyakan sesuatu?" Tanya Kyung Mi.
"Tidak sih... Hanya pertanyaan-pertanyaan seputar pekerjaan, lalu bagaimana kabarku, kau, dan Kak Tae-Hyun," Jawabku.
"Syukurlah..." Lanjut Kyung Mi lega.
"Kak, apa yang harus aku lakukan sekarang???" Tanyaku bingung.
"Begini, untuk sementara, lebih baik kita ikuti apa yang ayah perintahkan,"
"Meskipun jika itu mengharuskan kita untuk menginap di sini dalam waktu yang lama," Jawabnya.
Aku menghela nafas berat.
"Dan lebih baik... Jika kau berangkat kerja denganku," Lanjut Kyung Mi.
"Denganmu?" Tanyaku.
Kyung Mi mengangguk.
"Hm. Benar. Aku juga akan meminta supirku untuk mengantarmu kemanapun kau ingin pergi," Jawabnya.
"Aku... Tidak nyaman dengan itu," Tolakku.
"Aku mengerti... Tapi siapa yang tau kau akan pergi kemana dengan siapa, " Kata Kyung Mi.
Aku menundukkan kepalaku.
"Kau benar-benar harus menjaga jarak darinya dik," Lanjutnya.
"Aku minta tolong padamu. Itu karena, aku dan Tae-Hyun tidak ingin terkena imbas dari apa yang kau lakukan jika kau salah melangkah,"
"Kau tau bagaimana rasanya menengahi ayah yang sedang mengamuk bukan?"
"Aku tidak ingin masa seperti itu kembali lagi..." Pinta Kyung Mi memohon.
"Baiklah... Akan coba itu," Jawabku.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.