Red String Between Us

Red String Between Us
Episode 13


__ADS_3

"Aku akan meminta kenalanku mengurus data-datamu,"


"Jadi, kapan aku bisa pulang?" Tanya Kwang-Sun.


"Akan kupastikan besok kau langsung terbang ke Korea,"


"Dimana rumahmu?" Lanjutku bertanya.


"Seingatku, dulu orangtuaku tinggal di Daerah Myeongdong," Jawabnya.


"Aku akan minta kenalanku untuk mencari rumah orangtuamu saat ini," Jelasku.


"Maaf Nona, karna kita sudah saling kenal, boleh aku tau berapa umurmu?" Tanya Kwang-Sun.


"Aku? Aku... 29. Kau?" Tanyaku balik.


"Aku 16,"


"Astaga! Kau masih muda sekali! Kau bahkan tidak bisa sekolah dalam keadaan seperti ini. Astaga, penculik itu benar-benar sialan!" Omelku.


Kwang-Sun tertawa kecil melihatku marah-marah seakan orang yang kubicarakan berada di hadapanku.


"Aku harus kembali ke hotelku," Pamitku.


Kwang-Sun berdiri untuk bersiap mengantarku pergi.


"Dimana kau tinggal sekarang?" Tanyaku.


"..."


Kwang-Sun terdiam.


"Astaga! Bodoh sekali aku!" Batinku.


Aku menarik tangan Kwang-Sun.


Kwang-Sun membulatkan matanya terkejut.


"Ayo. Kau tidak bisa menginap di hotel yang sama denganku. Itu terlalu jauh..."


"... Ayo kita cari hotel terdekat dari sini," Ajakku.


Kwang-Sun menurut dan mengikuti jalanku.


"Kwang-Sun, aku akan menjemputmu besok sore. Aku akan mengantarmu ke bandara," Jelasku tersenyum.


"Nona Youra... Terimakasih banyak... Aku... Aku merasa sangat senang," Ucap Kwang-Sun.


"Hmm. Tidak masalah. Aku harus segera kembali ke hotelku. Sampai jumpa besok sore...!" Pamitku.


Kwang-Sun mengangguk semangat.


Klotak klotak klotak.


Aku pergi meninggalkan kamar anak itu dan bergegas kembali ke hotelku.


...


"Auch. Sakit sekali..!" Jeritku.


Aku sudah sampai hotel dari 2 jam yang lalu.


Aku baru selesai membersihkan diri dan sedang mengobati luka di kakiku.


"Sial. Aku tidak akan pernah melakukan hal nekat seperti itu lagi! Tidak akan!" Gumamku kesal.


"Ngomong-ngomong, yang membuatku terluka seperti ini adalah ponselku yang dicuri..." Batinku.


"...Dan, aku mengejarnya karna di dalamnya ada... Pesan dari Hyunshik!" Batinku lagi.


Aku segera mengambil ponselku lalu menyalakannya.


------------------------------------------------------------------------


Min Hyunshik:


Halo.


Kudengar kau sedang ke


Prancis.


Aku hanya ingin mendengar kabarmu.


------------------------------------------------------------------------


"Astaga!!!" Jeritku senang.


Bruk.


Aku membantingkan tubuh ke atas kasur.


"Bagaimana aku harus menjawabnya..?" Gumamku.


Aku segera mengetik dengan cepat.


Terkirim.


"Kyaaaa!" Jeritku lagi.


...


Di saat yang sama...


Ting!


"Hei Hyunshik! Apa kau tidak akan membalas pesan yang ada di ponselmu?" Tanya Min-Jun.


"Tidak mau," Jawab Hyunshik malas.


"Lagipula, pesanku belum dibalas olehnya..." Batin Hyunshik sedih.


"Hei hei hei! Sebenarnya kau ini kenapa sih?! Akhir-akhir ini aku melihatmu tampak tak bersemangat. Hei! Jawab aku! Sebenarnya kau kenapa?!" Omel Min-Jun.


Hyunshik menghela nafas lalu kembali memakan roti isinya.


Saat ini, semua orang di Korea sedang menikmati waktu makan siang mereka.


itu karena, perbedaan waktu antara Korea dan Paris adalah 7 jam.


"Terserahlah..!" Jawab Min-Jun.


Kriiiing kriiiing.

__ADS_1


"Oh! Ketua!" Ucap Min-Jun terkejut melihat notifikasi di ponselnya.


Hyunshik membulatkan matanya karna terkejut.


"Apa?!" Batin Hyunshik yang langsung merebut ponsel Min-Jun.


"Hei! Itu ponselku!" Omel Min-Jun.


Hyunshik menyentuh tombol berwarna hijau yang berguna untuk mengangkat panggilan.


"Halo?" Panggilku.


"Astaga, aku mendengar suaranya lagi!!" Batin Hyunshik senang.


"Min-Jun? Apa kau mendengarku?" Tanyaku lagi.


"Hei! Berikan!" Bisik Min-Jun sambil merebut ponselnya dari tangan Hyunshik.


"Ya ketua? Ada apa?" Tanya Min-Jun.


Ia melihat Hyunshik menggerakkan tangannya mengisyaratkan bahwa ia meminta speaker-nya dinyalakan.


Min-Jun menggeleng cepat lalu pergi meninggalkan Hyunshik sendirian.


"Begini, bukankah kau pernah mengatakan bahwa adikmu tinggal di daerah Myeongdong?" Tanyaku.


"Benar, ada apa memangnya?" Tanya Min-Jun balik.


"Bisakah kau membantuku mencari informasi tentang anak usia 16 tahun yang bernama Do Kwang-Sun..?" Tanyaku.


"Oh? Apakah terjadi sesuatu!?" Tanya Min-Jun.


"Tidak tidak! Aku hanya ingin mencaritahu. Begitulah. Aku akan menjelaskan secara lengkap melalui SNS ya!!" Pamitku.


Hyunshik berdiri mengampiri Min-Jun yang datang ke arahnya.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Hyunshik.


"Hei. Bukankah kau dekat dengan Ketua? Apa dia mempunyai masalah akhir-akhir ini..?" Tanya Min-Jun balik.


Hyunshik menggeleng tidak tau.


"Kau tau? Kupikir, seperinya ketua tidak hanya bekerja sama dengan model Prancis itu!" Seru Min-Jun.


"Apa maksudmu?" Tanya Hyunshik sambil mengangkat salah satu alisnya.


"Tadi, ketua meminta bantuan padaku untuk menemukan anak bernama Do Kwang-Sun yang berusia 16 tahun..."


"Lalu..?" Tanya Hyunshik lagi.


"...Kurasa, dia berusaha menyembunyikan sesuatu dari kita..!" Seru Min-Jun lagi.


"Hei! Apa maksudmu?!" Tanya Hyunshik penasaran.


"...Kurasa, keluarga ketua Youra berusaha menutupi bahwa ketua sebenarnya sedang melaksanakan pernikahan di sana bukan?" Tanya Min-Jun.


"Uhuk! uhuk!"


Hyunshik terbatuk setelah mendengar perkataan Min-Jun.


"Kurasa dia dan suaminya ingin mengadopsi seorang anak karna mereka terlalu tidak sabar," Lanjut Min-Jun.


"Hei! Apa maksudmu?!" Tanya Hyunshik gelisah.


"Aish. Ada apa dengan ekspresimu? Kenapa tiba-tiba berubah drastis?" Tanya Min-Jun lagi setelah menyadari bahwa Hyunshik mulai mengerutkan keningnya.


"Astaga..." Batin Hyunshik cemas.


...


"Terimakasih..." Kata Kwang-Sun sambil sedikit membungkuk.


"Hm. Berhati-hatilah. Hubungi aku jika sudah sampai...!" Jawabku.


Kwang-Sun pergi meninggalkanku.


Tugasku sudah selesai.


Dan aku juga sudah menepati janjiku untuk memulangkannya ke Korea.


Beberapa jam kemudian...


Brrrrm.


"Aish. Si Min-Jun sialan itu..!" Gumamku.


Nguuung. Nguuung.


Saat ini, aku sedang berada dalam perjalanan menuju suatu tempat.


Di tengah perjalanan aku mendapatkan panggilan dari Kwang-Sun.


Ia menanyakan dimana kenalan yang aku ceritakan.


Aku terkejut mendengar Min-Jun belum datang menjemputnya.


Dan saat ini, aku sedang berusaha menghubungi si Min-Jun sialan itu.


...


Drap! drap! drap!


Min-Jun berjalan terburu-buru sambil berusaha mencari jaketnya.


"Hei hei hei, Hyunshik! Apa kau melihat jaketku?" Tanya Min-Jun dengan nafas terengah-engah.


"Tidak. Memangnya kenapa?" Tanya Hyunshik balik.


"Astaga... Kalau begini, aku pasti bakal dimarahi ketua..!" Gumam Min-Jun.


"Ketua? Apa kau akan menjemputnya? Apa itu berarti Ahn Youra sudah pulang?" Tanya Hyunshik bersemangat.


"Ha? Bukan-bukan. Bukan ketua Youra. Tapi anak yang waktu itu aku ceritakan padamu,"


"Anak?" Tanya Hyunshik.


"Benar, anak yang sedang dicari oleh ketua..." Jelas Min-Jun.


"Lalu, kapan Ahn Youra pulang?" Tanya Hyunshik.


"Ketua? Entahlah. Besok? Atau lusa mungkin..." Jawab Min-Jun tak tau.


"Aah..." Gumam Hyunshik senang.

__ADS_1


...


Tap. Tap. Tap.


Aku melihat sekeliling.


Saat ini aku berada di Pont des arts.


"Sebenarnya aku hanya tinggal pergi ke Namsan untuk melihat tempat yang seperti ini..." Batinku.


"Terlebih lagi aku tidak mempercayai hal yang seperti itu..." Gumamku.


"Permisi..." Panggil seorang gadis kecil padaku.


"Nona, apa kau ingin membeli gembok?" Tanya gadis itu.


Aku melihat tangan gadis itu.


Penuh dengan gembok berbentuk hati.


"Aku mempunyai banyak," Lanjutnya.


"Dan aku ingin memberikannya padamu. Apa kau ingin menerimanya?" Tanyanya lagi.


Gadis itu meraih tanganku.


Lalu, ia memberikan sebuah gembok berwarna biru muda.


"Terimakasih karna sudah menerimanya. Semoga harimu menyenangkan..." Pamit gadis itu.


"Tunggu!" Panggilku sedikit berteriak.


Sehingga, gadis kecil tersebut menoleh.


"Berapa harganya?" Tanyaku.


"Tidak. Aku memberikannya untukmu," Jawabnya sambil tersenyum.


Aku mengerutkan keningku bingung.


Baru saja aku mengedip.


Tapi gadis itu langsung masuk ke dalam kerumunan dan menghilang.


Aku melihat gembok biru muda yang baru saja kudapat itu.


"Nama siapa yang akan kutulis..?" Gumamku bingung.


Aku sudah membeli sebuah spidol di toko terdekat.


Tapi aku masih belum tau nama siapa yang akan kutulis.


"Astaga... Nama siapa ya..?" Gumamku lagi.


Aku mulai kesal.


Aku memutuskan untuk melihat-lihat beberapa gembok untuk mencari inspirasi.


"Aku harus berterimakasih pada sifat ceroboh milikku ini. Karenanya, hubungan kita terus berlanjut hingga saat ini,"


"Kecerobohan??" Gumamku.


Entah kenapa, aku langsung memikirkan saat dimana aku menumpahkan kopiku ke atas mobil Hyunshik.


Saat itu juga pertama kalinya aku bertemu dengan Hyunshik.


"Aish...!" Gumamku menyadarkan diri.


"Oh! Oh! Yang ini berbahasa Korea!" Seruku senang.


"Aku tak percaya bahwa selama ini kita bermusuhan! Akhirnya aku bisa menikah denganmu!"


"Aku dan Hyunshik juga sering bermusuhan..." Gumamku.


Plak!


Aku menampar pipiku untuk menyadarkan diri.


Aku melihat gembok biruku.


"Oh?! Su-sudah kutulis?!" Batinku terkejut.


"Dan itu adalah nama Hy-Hyunshik?!" Batinku lagi.


"Aish... Aku harus menghapusnya!" Gumamku.


Aku menaruh gemboknya di pagar dan berusaha mencari tisu basah di dalam tasku.


Dug!


Tapi, tiba-tiba saja segerombolan orang terbentur ke arah pagar.


Mereka sedang berfoto lalu terdorong sehingga menabrak pagar berisikan banyak gembok itu.


Aku terkejut sebentar lalu melanjutkan mencari tisu basah milikku.


"Ketemu!" Seruku senang.


Aku baru ingin mengambil kembali gembok biru muda milikku.


Tapi gemboknya malah terkunci.


"Apaaa?!!!" Jeritku.


"Astaga! Astaga! Bagaimana ini?! Gadis itu tidak memberiku kuncinya lagi!" Jeritku panik.


"Ah!"


Aku mempunyai ide.


Aku berusaha menuliskan ulang namanya.


Tapi gagal.


Gemboknya terlalu kecil, bahkan aku tidak bisa menghapusnya dengan tisu basah.


Huuft...


"Aku harus bagaimana sekarang?" batinku bingung.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2