Red String Between Us

Red String Between Us
Episode 19


__ADS_3

"Youra?" Panggil Hyunshik.


"Ah! A-ada apa?" Tanyaku terkejut.


"Ayo berangkat," Ajaknya.


"Hm," Jawabku sambil mengangguk.


Hari ini Hyunshik mempunyai jadwal pemotretan.


Jadi, kali ini ia akan mengantarku.


...


"Selama perjalanan, dia diam saja. Ada apa dengannya?" Batin Hyunshik.


Itu benar.


Aku tidak berbicara sepatah katapun dengannya.


Aku terngiang-ngiang dengan perkataan ibunya Hyunshik tadi malam.


[ Flashback ]


Hyunshik berhasil membuat keluarganya berniat pulang.


Aku dan Hyunshik mengantarkan mereka sampai di ambang pintu.


Ketika mereka ingin memasuki lift, aku menghampiri mereka.


Drap drap drap.


"Permisi..." Panggilku pada Ae-Ri, ibunya Hyunshik.


"Hmm?" Tanya Ae-Ri sambil membalikkan badannya.


"Apa aku boleh tau, bagaimana anda... Mendapatkan tas itu?" Tanyaku.


"Oh ini? Aku membelinya dari acara pelelangan di Itali," Jawabnya.


"Benarkah?" Tanyaku tak percaya.


Ae-Ri mengangguk.


"Ah, kalau begitu, terimakasih banyak..." Kataku sambil sedikit membungkukkan tubuhku.


[ Flashback selesai ]


"Jadi, yang mendapatkan tas itu adalah ibunya Hyunshik?" Batinku.


"Ahn Youra?" Panggil Hyunshik.


"Ah? Ada apa?" Tanyaku.


"Kita sudah sampai," Jawabnya.


"Ah, benar..." Gumamku.


Cklek.


...


Tadi pagi, kami mempunyai 2 jadwal pemotretan.


Yang pertama adalah Hyunshik.


Dan yang kedua, kami kedatangan artis dari Inggris.


Kami sangat kuwalahan karena artis itu meminta banyak hal.


"Akhirnyaa! Waktu istirahat tiba! Aku sangat lelaah!" Seru Soo-Min.


Aku meregangkan tanganku ke samping.


"Ketua, apa kau mau makan siang bersama kami?" Ajak Min-Jung.


Soo-Min, Min-Jung, dan Dae-Oh menatapku penasaran.


Greb.


Tiba-tiba Hyunshik datang dan menggenggam tanganku.


"Maaf, tapi... Teman kalian akan kupinjam dulu untuk siang ini..." Kata Hyunshik pada ketiga sahabatku itu.


Blush!


Aku terkejut.


Mataku membelalak dan pipiku merona.


Hyunshik menarik tanganku dan mengajakku pergi keluar studio.


Soo-Min, Min-Jung, dan Dae-Oh terkejut melihat aksi Hyunshik.


"A-apa itu?" Tanya Min-Jung.


"Apakah... Mereka..."


Soo-Min baru ingin menyambung pertanyaan Min-Jung.


"...Berpacaran...?"


Kemudian Dae-Oh melanjutkan pertanyaan Soo-Min.


...


"Hei! A-apa itu tadi?! Ka-kau akan membuat yang lainnya salah paham!" Omelku.


Hyunshik tersenyum jahil.


Ia menggandeng tanganku selama perjalanan.


Aku tak terlalu terkejut saat ia mengajakku, karena ia sudah mengatakannya lebih dulu tadi pagi.


Tapi aku terkejut dengan caranya mengajakku pergi.


Siang ini kami pergi ke sebuah pasar.


Aku berencana makan siang dengan tteokbokki dan beberapa jajanan pasar lainnya.


...


Kami makan di Toserba terdekat.


Karna saat ini sedang masuk waktu istirahat, ada banyak orang yang menggunakan meja dan kursi depan Toserba.


Tapi saat ini kami sedang beruntung.


Kami mendapatkan kursi kosong yang letaknya agak sedikit memojok.


Jadi, kami berada sedikit jauh dari keramaian.


"Apa itu enak?" Tanya Hyunshik.


"Hm," Jawabku sambil mengangguk.


Aku tak menatap Hyunshik karena fokus pada tteokbokki ku.


"Aish...!" Gumam Hyunshik kesal.


"Hei, bolehkah aku minta satu?" Tanyanya lagi.


"Tidak," Jawabku.


"Astaga...!" Gumam Hyunshik lagi.


Hyunshik menatap Youra dengan tatapan kesal.


Tapi tak lama kemudian, ia mempunyai sebuah ide.


"Oh? Soo-Min?" Panggil Hyunshik.

__ADS_1


"Soo-Min?!" Gumamku sambil menoleh ke arah belakang.


Tanpa kusadari, Hyunshik menarik tanganku yang sedang menusuk salah satu tteok lalu memasukkannya ke dalam mulut.


"Kau benar. Ini enak," Kata Hyunshik.


Aku berbalik lagi.


"Hei! Min Hyunshik! Kau ini! Kan sudah kubilang jangan ambil makan siangku!" Omelku.


Bug.


Aku memukul pelan salah satu tangan Hyunshik.


Hyunshik malah tertawa senang.


"Yah... Kurasa, lain kali kita harus ke sini lagi." Ajak Hyunshik.


"Hm. Kau benar..." Jawabku.


...


Saat ini, aku sedang berada di ruang tamu.


Aku sedang mengerjakan beberapa dokumen yang belum aku tuntaskan tadi pagi.


Zraaaash...


Aku melihat ke arah jendela.


Malam ini, hujan turun sangat deras.


Aku terpaksa menunda rencanaku untuk pulang ke rumah.


"Ini," Kata Hyunshik sambil memberikan secangkir teh.


"Terimakasih," Jawabku.


Dug.


Hyunshik duduk di sampingku.


Sluurp.


Ia menyeruput teh nya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Hyunshik.


"Aku sedang menyelesaikan pekerjaanku," Jawabku.


"Benarkah?" Tanyanya.


"Astaga. Diamlah. Kau mengganggu konsentrasiku!" Omelku.


Hyunshik tersenyum senang.


"Sayang sekali kau tidak bisa pulang lagi,"


Aku menoleh ke arahnya.


Lalu mengangkat salah satu alisku.


"Kau sedang mengejekku ya...?!" Tanyaku kesal.


Hyunshik menolehkan kepalanya.


"Tidak," Bantahnya.


Aku memutar bola mataku.


"Cih! Alasan," Gumamku.


"Hei!" Panggil Hyunshik.


Tiriring tiriring.


"Astaga. Kenapa nada deringmu jelek sekali?" Tanya Hyunshik.


Aku memukul punggung Hyunshik.


"Aduh!" Jerit Hyunshik kesakitan.


Aku mengambil ponselku.


Di saat yang sama, aku mengerutkan kening karena terkejut melihat nama yang tertera di layar ponsel-ku.


"Kakak...?" Batinku bingung.


Aku pergi menjauhi Hyunshik lalu mengangkat panggilan tersebut.


"Halo?"


"Youra? Dimana kau?" Tanya Tae-Hyun.


"Aku... Sedang berada di rumah temanku," Jawabku sambil menoleh ke arah Hyunshik.


"Ada apa?" Tanyaku balik.


"Tidak. Tadinya aku ingin mengajakmu bertemu. Tapi kurasa kau sibuk," Jawab Tae-Hyun.


"Tunggu! Apa kau... Di Korea?" Tanyaku lagi.


"Hm, benar," Jawabnya.


"Ngomong-ngomong, kenapa kakak ingin bertemu denganku?" Tanyaku lagi.


"Aku hanya ingin mengingatkan bahwa besok malam kita akan makan malam bersama," Jawabnya.


"Mana mungkin aku melupakannya,"


"Baguslah. Aku akan menutup telponnya. Jaga dirimu baik-baik ya..."


"Ya," Jawabku.


Tap tap tap.


Aku kembali ke ruang tamu.


"Siapa itu?," Tanya Hyunshik.


"Kakakku," Jawabku.


"Kakak laki-lakimu itu?" Tanya Hyunshik.


Aku mengangguk.


"Aneh. Kenapa dia menjadi lesu seperti ini...??" Batin Hyunshik heran.


"Hei, Youra. Apa... Ada masalah? Kau... Bisa menceritakannya padaku," Tanya Hyunshik lagi.


"Besok... Keluargaku akan mengadakan makan malam untuk memperingati kematian ibuku," Jawabku.


"Astaga!" Batin Hyunshik terkejut.


"Maaf, seharusnya aku tidak menanyakannya padamu," Kata Hyunshik menyesal.


"Tidak tidak. Tidak apa-apa," Jawabku menenangkan.


Aku tersenyum padanya.


"Ah... Sepertinya, lebih baik aku melanjutkan pekerjaanku di kamar,"


"Apa tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu sendirian di sini?" Tanyaku.


"Hm. Pergilah. Aku akan di sini sebentar lagi," Jawab Hyunshik.


Tap tap tap.


Aku pergi ke dalam kamarku.


...

__ADS_1


Klotak klotak klotak.


Aku memasuki ruangan kecil tersebut.


"Halo, ibu," Sapaku sambil menatap bingkai dengan foto ibuku di dalamnya.


Aku sedang menjenguk mendiang ibuku.


"Ibu, kemarin, aku dikabari oleh kak Tae-Hyun kalau ia sudah kembali ke Korea," Kataku.


Seperti biasa, saat aku menjenguk ibuku, aku mulai bercerita tentang apa yang kualami akhir-akhir ini.


"Dan kami akan makan malam bersama untuk memperingati kepergianmu 7 tahun yang lalu,"


"Akhir-akhir ini aku mengalami banyak hal..."


"Apakah ibu tau? Beberapa hari yang lalu aku pergi ke Prancis bersama Kyung Mi,"


"Dan disana aku bertemu seorang anak bernama Kwang-Sun yang berusaha mencuri ponselku,"


"Saat aku kembali ke Korea, anak itu ternyata menguntitku,"


"Tapi kau jangan cemas. Aku baik-baik saja,"


"Temanku menyelamatkanku waktu itu,"


"Meskipun sebenarnya aku bisa menjaga diriku sendiri,"


"Apa... kau juga mengetahui bahwa aku menemukan tas favoritmu dulu,"


"2 tahun yang lalu... Ayah melelangnya di Itali, dan ternyata... Yang mendapatkannya adalah ibu dari temanku itu..."


"Ibu tau? Kurasa... Aku menyukai temanku itu,"


"Andai... Kau dapat melihat wajahnya. Andai... Kau ada di sini saat ini..."


Tes tes.


Air mataku mulai mengalir.


"Ibu, aku... ( Hiks ) Aku... Merindukanmu... ( Hiks ) Sangat merindukanmu...!"


...


Klotak klotak klotak.


"Oh? Kau sudah datang?" Sapa Kyung Mi.


"Hm," Jawabku sambil mengangguk.


Aku duduk di kursi yang berhadapan Kyung Mi.


"Kemana yang lain?" Tanyaku.


"Kak Tae-Hyun sedang ke kamar kecil. Dan ayah belum datang,"


Aku mengangguk tanda mengerti.


"Astaga, kau tau...? Bukannya aku tidak mau berkumpul dengan keluarga sendiri..."


"Tapi, setiap kita berkumpul untuk makan malam bersama, rasanya seperti sedang berada di rapat pimpinan perusahaan..! Suasananya menegangkan sekali!" Keluh Kyung Mi.


Aku tersenyum kecil mengiyakan.


...


Kurasa...


Kata-kata Kyung Mi tadi, ada benarnya...


Ayahku sudah datang dari 1 jam yang lalu.


Setelah semua berkumpul, kami memesan makanan.


Hingga saat makanannya datang, belum ada yang memulai pembicaraan.


"Tae-Hyun, bagaimana perkembangan perusahaan saat ini?" Tanya ayahku.


"Kami bekerja sama dengan beberapa perusahaan terkenal di Eropa..."


"Dan, saat ini, kami sedang mengembangkan produk terbaru..." Jawab Tae-Hyun.


Kyung Mi menghela nafas.


Aku menatap Kyung Mi penasaran.


"Ayah. Bukankah itu sedikit berlebihan untuk membicarakan pekerjaan saat makan malam keluarga?" Tanya Kyung Mi.


Aku dan Tae-Hyun membulatkan mata.


"Kakak? Apa yang kau lakukan?" Batinku bingung.


"Maksudku, kita jarang berkumpul seperti ini." Lanjut Kyung Mi.


Ayahku menghela nafas.


"Kalau begitu, bagaimana kabar kalian?" Tanya Jung-Su, ayahku.


Kyung Mi menatap ayahnya kecewa.


Ia pikir ayahnya akan menanyakan sesuatu dibandingkan hanya kabar kami.


"Kami baik-baik saja," Jawab kami bertiga bersamaan.


"Apa ayah tau? Youra merekrut seorang model 2 hari sebelum pemotretan dimulai,"


"Ia mencari pengganti si Cha Yong-Sun itu," Lanjut Kyung Mi menyebutkan nama mantan model yang sempat bekerja sama dengan kami.


"Aku heran sekali kenapa agensi-nya tiba-tiba membatalkan kontrak," Gumam Kyung Mi.


Ayah menoleh ke arahku.


Aku sedikit terkejut kemudian mengangguk membenarkan kata Kyung Mi.


"Hm. Itu benar," Seruku.


"Ayah sudah tau itu," Jawab ayahku.


Kami bertiga membulatkan mata terkejut.


"Astaga..." Batinku.


"Ayah yakin sesuatu yang dipilih oleh Youra adalah sesuatu yang bagus," Lanjut ayahku.


"Terimakasih," Jawabku.


"Apa ayah juga tau? Bahwa beberapa hari yang lalu, aku dan Sekretaris Park pergi ke Prancis untuk mengajak Léa Seydoux bekerja sama,"


"Dan kami berhasil melakukannya!" Lanjut Kyung Mi.


"Itu bagus," Jawab ayahku.


"Astaga... Ayah membosankan sekali!" Batin Kyung Mi kesal.


"Ayah percaya bahwa yang kalian berdua pilih adalah sesuatu yang bagus,"


Deg!


Kami bertiga terkejut.


Terutama Tae-Hyun.


Ayah tak menyisipkan nama kakakku itu pada kalimat yang barusan dikatakannya.


"Ada apa ini...?" Batinku bingung.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2