Red String Between Us

Red String Between Us
Episode 15


__ADS_3

Biip biip biip.


Aku sedang memarkirkan mobilku.


Aku baru sampai di parkiran kantor.


Seperti biasa, aku memperbaiki riasan wajahku di kaca spion sebelum turun dari mobil.


Tapi kali ini, aku melihat sesuatu.


Tidak.


Sepertinya bukan sesuatu.


Tapi seseorang! Seseorang mengintip dari belakang mobilku.


Cklek.


Aku bergegas turun dari mobil.


Saat aku sampai di tempat orang itu, ia menghilang.


"Aneh. Sepertinya tadi aku melihat ada seseorang di sini..." Batinku.


Aku pun berusaha tak mempedulikannya dan kembali ke dalam mobil.


...


"Ta-da!!! Ini dia! Oleh-oleh untuk kalian bertiga!" Kataku sambil memamerkan beberapa Tote pada teman-temanku.


"Waaah! Apa yang kudapat kali ini?" Tanya Soo-Min.


Aku tersenyum kecil.


"Bukalah," Pintaku.


"Astaga! Astaga! Apakah ini Savon de Marseille? Sabun Prancis yang terkenal itu?" Tanya Soo-Min padaku.


Aku mengangguk senang.


"Astaga! Astaga! Terimakasih banyak!!" Kata Soo-Min.


"Astaga, ini wangi sekalii!!" Serunya.


"Min-Jung, bukalah...!" Pintaku.


Min-Jung melihat sebuah kotak di dalam Tote yang kuberikan.


"Astaga, jangan-jangan ini..."


"Yves Saint Laurent - Mon Paris?! Kau benar-benar memberikannya padaku?" Tanya Min-Jung tak percaya.


Aku mengangguk semangat.


"Terimakasih banyak ketua!" Seru Min-Jung.


"Ah! Dae-Oh! Aku membelikan putrimu coklat Alain Ducasse. Apa tidak apa-apa?" Tanyaku.


"Tentu. Ia suka sekali dengan coklat," Jawabnya.


"Syukurlah! Aku senang kalian menyukainya!" Seruku.


"Waaah! Ada apa ini?" Tanya Min-Jun yang tiba-tiba datang.


Aku melihat Hyunshik datang ke arah kami bersama Min-Jun.


"Ketua sedang memberikan oleh-oleh untuk kami," Jawab Min-Jung.


"Oleh-oleh? Maksudmu coklat yang tadi ia berikan pada yang lain?" Tanya Min-Jun bingung.


Aku memang membagikan coklat untuk para pegawai lainnya di timku.


"Tidak. Ini adalah oleh-oleh khusus dari ketua untuk kami," Jawab Soo-Min.


"Oleh-oleh khusus?" Tanya Hyunshik.


"Benar. Soo-Min diberi sabun wangi terkenal, aku diberi parfum, dan Dae-Oh diberikan coklat dengan kualitas paling bagus di Prancis," Jelas Min-Jung.


"Untukku?" Tanya Min-Jun.


"Ah benar! Karna kau sudah membantuku waktu itu, aku belikan kamu ini!" Jawabku.


Aku memberikan sekotak macaroon pada Min-Jun.


"Ini adalah macaroon yang dijual di toko dekat menara Eiffel. Katanya toko itu sering melayani pembelian dari keluarga kerajaan," Jelasku.


"Astaga! Aku sangat senang! Aku merasa terhormat sekali mendapatkan ini!!" Kata Min-Jun.


"Saking senangnya, aku akan membacakan puisi untuk ketua!" Seru Min-Jun.


"Jangan khawatir, kalian juga bisa mendengarnya...!" Kata Min-Jun sambil mengarahkan tangannya pada Soo-Min, Min-Jung, dan Dae-Oh.


Ia membalikkan badannya untuk bersiap.


"Teman-teman, aku ingin ke toilet dulu," Pamit Soo-Min.


"Aku juga. Permisi..." Pamit Min-Jung juga.


Kriing kriing.


"Ah! Putriku menelpon! Aku harus mengangkatnya, permisi..." Pamit Dae-Oh.


Aku terkejut melihat semuanya langsung pergi begitu saja.


Kini hanya tersisa aku, Hyunshik, dan Min-Jun yang tersisa di meja.


Aku dan Hyunshik saling menatap karna bingung ingin melakukan apa.

__ADS_1


"Ah! Apa kau ingin ke taman belakang kantor denganku?" Ajakku.


"Tentu!" Jawab Hyunshik.


"..."


"Aneh. Sepertinya tadi aku mendengar banyak suara. Tapi kenapa sekarang sunyi?" Gumam Min-Jun bingung.


Min-Jun menoleh ke arah belakang.


Kemudian ia mengangkat alisnya terkejut karena melihat kami sudah pergi.


"Astaga, mereka sangat jahat!" Gumam Min-Jun kesal.


...


Aku duduk di salah satu bangku taman.


"Kasihan sekali Min-Jun," Kataku pada Hyunshik.


Hyunshik hanya berdeham untuk menjawabku.


Aku menoleh ke arahnya.


"Hei, apa kau tidak apa-apa?" Tanyaku.


"Maksudku, kau terlihat tidak seperti biasanya hari ini," Lanjutku.


"Aku tidak apa-apa," Jawabnya.


Aku mengangkat kedua alisku.


"Apa-apaan itu? Jawabannya singkat-singkat sekali...!" Batinku terkejut.


Aku mendekat ke arah Hyunshik.


Hyunshik terkejut.


"A-apa yang akan dia lakukan?!" Batin Hyunshik.


"Hei, kau benaran tidak apa-apa kan?" Tanyaku lagi.


"Jangan-jangan kau sakit? Oh astaga!"


Aku menempelkan tanganku pada kening Hyunshik.


"Badanmu tidak panas, " Gumamku lega.


Hyunshik masih menatapku.


Aku mulai menurunkan tangan yang tadi kutempelkan ke kening Hyunshik.


Greb.


Tapi kemudian, ia menarik tanganku.


Bug.


Mataku membelalak terkejut.


"Aku merindukanmu," Kata Hyunshik.


Blush.


Aku merasakan bahwa pipiku mulai merona.


Bip bip. Bip bip.


Jam di tanganku berbunyi.


Kami berdua terkejut mendengarnya sehingga membuatku melepas pelukan Hyunshik.


"Maaf. Aku ada rapat," Kataku pamit.


Aku memang sengaja memasang alarm agar aku tidak telat rapat.


Tapi aku tidak tau bahwa jam itu akan bunyi di saat seperti ini.


"A-aku permisi dulu..." Pamitku.


"A-ah, iya," Jawab Hyunshik.


Klotak klotak klotak.


Aku sedikit berlari meninggalkan Hyunshik sendirian.


Blush.


"Astaga..." Gumam Hyunshik malu.


...


"Siapa yang mau roti isi? Angkat tangan!" Tanya Soo-Min.


Beberapa orang mengangkat tangan menyetujui ide Soo-Min.


"1, 2, 3, ..." Gumam Soo-Min menghitung.


"7 orang ingin makan roti isi...!" Seru Soo-Min bangga.


Ah, benar.


Aku belum menjelaskan apa yang sedang terjadi saat ini.


Hari ini adalah tahun ke-5 setelah aku diterima bekerja di ANN Group.


Memang itu adalah perusahaan milik keluargaku sendiri.

__ADS_1


Tapi ayahku tetap menyuruh kami masuk ke dalam seleksi.


Jadi aku, Kyung Mi, dan Tae-Hyun melakukan proses pelamaran kerja seperti pegawai lainnya.


Hari ini, aku mentraktir semua rekan kerjaku untuk makan siang.


Soo-Min lebih memilih makan roti isi.


Tapi Min-Jung mengajak kami makan ayam.


Sebenarnya, Soo-Min juga sangat suka dan sangat ingin makan ayam saat itu.


Tapi karna ia sedang dalam masa diet-nya, ia menyerah pada ayam dan memilih roti isi.


"7 orang juga..." Gumam Min-Jung sedih.


"Ada apa ini?" Tanya Hyunshik yang tiba-tiba muncul di sampingku.


"Kami sedang voting..." Jawabku.


"Astaga! Kau mengejutkanku!" Omelku.


Bug.


Aku memukul bahu Hyunshik pelan.


Hyunshik malah tersenyum senang.


"Ah! Hyunshik! Kau belum memilih! Kau pilih ayam atau roti isi?" Tanya Soo-Min.


Soo-Min dan Min-Jung mendekati Hyunshik.


"Apa yang akan kau pilih? Roti isi? Atau ayam?" Tanya Min-Jung.


Hyunshik melihat ke arahku sambil mengangkat kedua alisnya.


"Apa yang harus kupilih?" Tanya Hyunshik berbisik padaku.


"Terserah padamu," Jawabku juga berbisik.


"Kalau kamu? Apa yang kau pilih?" Tanya Hyunshik lagi.


"Ehmm, aku pilih... Roti isi?" Jawabku.


"Baiklah,"


Ia akhirnya selesai memutuskan setelah berbisik-bisik denganku.


"Aku pilih roti isi!" Jawab Hyunshik pada Soo-Min dan Min-Jung.


"Astaga! Kau ini! Kenapa tidak peka sekali?! Aku kan juga mau ayam! Harusnya kau memilih ayam agar aku jadi terpaksa ikut makan...!" Omel Soo-Min.


"Astaga! Bukankah tadi aku disuruh memilih?" Tanya Hyunshik padaku.


Aku tertawa kecil.


"Baiklah baiklah. Pesan saja keduanya..!" Seruku.


"Benarkah?" Tanya Soo-Min dan Min-Jung bersamaan.


Aku mengangguk.


"Cepat-cepat! Pesan sekarang!" Suruh Soo-Min pada yang lainnya.


...


"Kau benar-benar memilih roti isi?" Tanya Hyunshik.


"Yah, memangnya kenapa?" Tanyaku balik.


"Tidak, kupikir kau bersekongkol dengan mereka berdua," Jawab Hyunshik sambil menunjuk ke arah Soo-Min dan Min-Jung.


Aku tersenyum kecil.


"Kalian tau? Beberapa hari yang lalu, aku mendengar ada salah satu pegawai di tim Marketing pergi ke kantor polisi," Kata Soo-Min.


Seperti biasa, ia selalu memulai pergosipan.


"Lalu? Memangnya kenapa kalau ia pergi ke sana?" Tanya Dae-Oh.


"Dia habis melapor kalau ia merasa bahwa akhir-akhir ini ia diuntit," Jawab Soo-Min.


Aku terkejut sehingga berhenti mengunyah roti isi-ku.


Aku mengerutkan keningku karna teringat kejadian di parkiran beberapa hari yang lalu.


"Sepertinya aku juga merasakan hal yang sama..." Batinku.


Itu benar.


Akhir-akhir ini, aku juga merasa bahwa aku diuntit oleh seseorang.


Itu bermula saat di parkiran kantor.


Setelah-setelahnya, aku selalu melihat orang yang sama yang sepertinya selalu mengikutiku.


"Astaga...! Diuntit itu lebih menakutkan daripada dicuri!" Seru Min-Jung.


"Benar, batin kita dapat terganggu," Sahut Dae-Oh.


"Apa aku juga sebaiknya melapor??" Batinku.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2