
Tiriring tiriring.
Hyunshik mengambil ponselnya yang berbunyi.
Saat ini, ia sedang berada dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Astaga! Siapa sih yang menghubungiku malam-malam?!" Omel Hyunshik.
Hyunshik melihat layar ponselnya.
"Nomor tak dikenal?" Gumamnya.
Bip.
Hyunshik menyentuh layar ponselnya ke atas.
"Halo?" Panggil Hyunshik memulai pembicaraan.
"Halo. Apakah ini nomor Min Hyunshik?"
"Benar," Jawab Hyunshik.
"Saya Nam Joo-Won, Sekretaris Pimpinan Ahn Jung-Su,"
"Tunggu! Ahn Jung-Su?!" Batin Hyunshik terkejut.
"Bukankah itu nama Ayahnya Youra?!" Batin Hyunshik lagi.
"Mengapa kau menghubungiku?" Tanya Hyunshik.
"Tuan Ahn ingin bertemu dengan anda sekarang," Jawabnya.
Deg!
"Dimana?" Tanya Hyunshik lagi.
"Saya akan memberikan alamatnya pada anda," Jawab Pak Nam.
Ckiiit.
Hyunshik langsung memutar balikkan mobilnya.
"Astaga... Sudah 1 jam lebih aku menunggu disini, tapi tak ada yang datang," Gumam Hyunshik kesal.
Tap tap tap.
"Permisi, tuan Hyunshik," Panggil seseorang.
Hyunshik menoleh ke asal suara.
Mata Hyunshik membelalak terkejut.
"Si-silahkan duduk..." Kata Hyunshik mempersilahkan.
Krieeet.
Pak Nam menarik kursi untuk ayah.
Hening.
Meja itu hening sekali.
"Kurasa, kau tau siapa aku," Kata Ayah memulai pembicaraan.
"Benar," Jawab Hyunshik.
"Bukan sebagai Pimpinan ANN Group," Lanjut ayah.
"Saya tahu..." Jawab Hyunshik lagi.
"Aku akan langsung saja ke intinya,"
Hyunshik sedikit mengangkat kepalanya karna penasaran.
"Jangan berhubungan lagi dengan Youra," Suruhnya.
Deg!
Hyunshik membulatkan matanya terkejut.
"*A*pa?!" Batinnya bingung.
"Aku selalu mengatakan pada anak-anakku, bahwa mereka akan menikah dengan pasangan yang aku pilihkan"
"Entah Youra memberitahukannya padamu atau tidak,"
Hyunshik mengerutkan keningnya.
"Tapi pak..." Sahut Hyunshik.
"Aku tidak akan mengirimmu ke tempat yang jauh jika kau benar-benar menjaga jarak dari putri-ku," Potong ayah.
"Apa maksud anda?" Tanya Hyunshik mulai sedikit kurang nyaman.
"Katakan saja padanya bahwa kau akan pergi jauh setelah kontrakmu dengannya habis," Jawab ayah.
"Dan itu akan menjadi lebih baik jika kau melupakannya,"
"Tapi kenapa?" Tanya Hyunshik.
"Aku mempunyai alasan tersendiri yang tidak boleh diketahui oleh orang luar," Jawab Ayah lagi.
"Tentu saja, itu semua tergantung pada dirimu yang berhak memilih menjauhi putriku, atau tetap mendekatinya,"
"Tapi yang kau harus tahu, aku mengawasimu," lanjutnya.
"Jika kau melanggarnya, anakku sendiri yang akan kubuat untuk menjauhimu,"
Deg!
"Jangan..." Jawab Hyunshik.
Ayahku mengangkat salah satu alisnya terkejut saat mendengar jawaban terakhir Hyunshik.
"Biar aku yang melakukannya," lanjut Hyunshik.
"Baiklah..." Jawab Ayahku mengangkat salah satu sudut bibirnya.
"Aku akan pergi sekarang. Aku yakin, kau juga sibuk. Pulanglah,"
Krieeet.
Ayah bangkit dari duduknya.
Kemudian pergi bersama Sekretaris Nam dan meninggalkan Hyunshik sendiri.
__ADS_1
Hyunshik membungkuk untuk memberikan salam.
"Astaga...! Kenapa malah jadi begini..?!" Gumam Hyunshik kesal.
...
"Aku harus siap! Apapun yang terjadi!" Gumamku menyemangati diri sendiri.
Sore ini, aku diajak oleh Hyunshik untuk minum kopi bersama.
Entahlah, aku mempunyai firasat yang tidak mengenakkan.
Klotak klotak klotak.
Aku langsung pergi dari kantor.
Jadi, aku masih menggunakan pakaian kerjaku.
Pada awalnya, Hyunshik menanyakan apakah aku ingin dijemput olehnya atau tidak.
Tapi aku menolak.
Aku merasa tidak enak padanya.
Klotak klotak klotak.
Aku melihat ke sekeliling cafe.
Tapi tak lama, mataku menangkap Hyunshik yang sedang duduk sendirian di pojokan.
Aku menghela nafas berat.
Klotak klotak klotak.
Aku berjalan menghampirinya.
"Hyunshik," Panggilku.
Hyunshik menoleh ke arahku.
Aku menarik ujung bibirku dan membentuk sebuah senyuman.
Setelah Hyunshik mempersilahkan aku untuk duduk, aku mulai berbasa-basi dengannya.
"Youra..." Panggil Hyunshik.
"Hm??" Tanyaku berdeham.
"Begini, ada yang ingin aku katakan padamu," Jawabnya.
"Sudah kuduga!" Batinku cemas.
"Apa itu?" Tanyaku lagi.
"Setelah kontrakku habis, aku akan pergi ke tempat yang jauh dari Seoul," Jawabnya.
Aku membulatkan mataku terkejut.
"Jangan!"
Tapi aku tak cukup berani untuk mengatakannya secara langsung.
"Ayolah Youra. Kau seharusnya mencegahku..!" Batin Hyunshik.
Aku terdiam sebentar dengan kepala yang tertunduk.
Aku benar-benar tidak ingin ia pergi.
Tapi aku juga terlalu takut untuk menentang ayah.
Bip bip. Bip bip.
Ponselku berbunyi.
Tadi siang, aku memasang pengingat bahwa malam ini, aku akan ada rapat dengan timku.
Hyunshik sedikit melirik ke arah ponselku.
Ia penasaran dengan pengingat yang berbunyi berusan.
"Maaf, aku... Aku harus pergi,"
Hyunshik menghela nafas berat setelah mendengarku berkata seperti itu.
"Aku... Diminta untuk menyiapkan bahan rapat," Jelasku.
"Ah, baiklah..." Jawab Hyunshik.
"Terimakasih untuk kopinya," Pamitku.
Klotak klotak klotak.
Aku pergi keluar cafe dengan sedikit terburu-buru.
Hyunshik menghela nafas lagi.
Gedebug!
Kemudian ia menempelkan kepalanya ke atas meja.
"Dia bohong bukan?" Gumam Hyunshik.
"Dia tidak benar-benar membiarkan aku pergi bukan?" Gumamnya lagi.
...
Kalian tau?
Setelah saat itu, jika kami berpapasan, aku dan Hyunshik lagi-lagi tak saling menyapa.
Seperti beberapa pekan yang lalu, kami bersikap seolah-olah tak saling mengenal.
Aku benar-benar tak menyukai ideku ini.
Rasanya aku hatiku menolak untuk menjauhinya.
"Ketua, kami akan makan siang bersama. Apa kau ingin ikut?" Tanya Soo-Min.
"Maaf. Hari ini aku membawa bekal," Tolakku.
Aku menunjukkan kotak bekalku pada Soo-Min.
"Oh, begitu... Biklah, kalau kau ingin bergabung, datang saja ya..!" Jawab Soo-Min.
Aku tersenyum sambil mengangguk.
__ADS_1
"Sampai nanti, ketua..!" Pamit Soo-Min.
Sambil berjalan keluar, ia melambaikan tangannya padaku.
Cklek.
Aku menghela nafas setelah melihat pintu ruanganku tertutup.
Kini, aku selalu makan siang di dalam ruangan.
Aku membawa kotak bekal dari rumah.
Hitung-hitung, aku juga sekalian belajar memasak.
Jikapun aku tak membawanya, biasanya aku memesan makanan dari luar.
Biasanya yang menerimanya adalah staff lain.
Aku jadi merasa tidak enak.
Alhasil, aku selalu memesan lebih untuk mereka yang menerima makan siangku.
"Bosan..." Gumamku.
"Aku ingin makan siang bersama yang lain juga..."
Terkadang, aku merasa sangat menyesal karna memilih untuk menjauhi Hyunshik.
Tapi, sisi positifnya, keluargaku tetap tenang.
Tak ada masalah.
Kupikir, aku bisa bertahan sampai kontrak Hyunshik habis.
"Aku harus bisa bertahan sebentar lagi..." Gumamku menyemangati diri.
...
Siang ini, Soo-Min, Min-Jung, dan Dae-Oh memutuskan untuk makan siang bersama di sebuah restoran cepat saji.
Dae-Oh datang membawa makan siang mereka.
"Hei, apa kalian penasaran dengan apa yang terjadi pada ketua?" Tanya Soo-Min sambil membuka bungkusan burger miliknya.
"Kau benar. Akhir-akhir ini, ketua selalu makan di dalam ruangan..." Jawab Soo-Min.
"Entahlah," Sahut Dae-Oh.
"Aku merindukannya makan bersama dengan kita..." Lanjut Soo-Min.
"Biasanya, ketua mentraktir kita makan..."
Dug!
Min-Jung memukul pelan bahu Soo-Min.
"Aduh..!" Gumamnya kesakitan.
"Sebenarnya, kau tak sepenuhnya salah," Jawab Min-Jung.
Soo-Min mengangkat salah satu alisnya bingung.
"Aku juga merindukannya," Lanjut Min-Jung.
"Aku punya ide!" Seru Soo-Min.
Min-Jung dan Dae-Oh saling bertatapan.
Mereka penasaran.
"Bagaimana jika kita membuat pesta kecil untuk menyemangatinya?" Ajak Soo-Min.
"Tapi ketua bukan anak kecil," Tolak Min-Jung.
"Astaga kau ini...!" Omel Soo-Min.
"Bahkan pesta kecil dapat membuat seseorang kembali bersemangat!!" Lanjutnya.
"Soo-Min ada benarnya," Sahut Dae-Oh.
Min-Jung terkejut dengan jawaban Dae-Oh.
Ia tak menyangka bahwa Dae-Oh menyetujui ide Soo-Min.
"Baiklah, baiklah... Kita akan buat pesta...!" Jawab Min-Jung.
Soo-Min dan Dae-Oh tersenyum senang mendengar keputusan akhir Min-Jung.
"Tapi, pesta seperti apa?" Tanya Min-Jung.
Mereka bertiga kembali terdiam.
Mereka memikirkan ide yang bagus untuk membuat pesta kecil Youra.
"Bagaimana jika kita melakukannya di rumah ketua?" Ajak Soo-Min.
"???"
Min-Jung mengerutkan keningnya.
"Aku tak yakin..." Jawabnya.
"Benar," Sahut Dae-Oh.
"Oh. Ayolah..." Gumam Soo-Min kecewa.
"Lagipula, bagaimana cara kita memasuki rumah ketua??" Tanya Min-Jung lagi.
Soo-Min menghela nafas berat.
"Hei hei Min-Jung, hubungi Hyunshik..! Cepat...!" Suruh Soo-Min tiba-tiba.
"Astaga! Kau membuatku terkejut!" Omel Min-Jung.
"Sudah, hubungi Hyunshik saja. Cepat!" Suruhnya.
"Untuk apa..?" Tanya Min-Jung.
Soo-Min tersenyum senang.
"Mungkin... Ia dapat membantu kita," Jawabnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.