
"Ibu, kapan aku boleh pulang?" ujar Duan Qing terus merengek.
Duan Qing mulai merasa jenuh berada di tempat tidur setiap hari. Walaupun Su Xi sesekali mengajaknya berjalan jalan di taman rumah sakit, tapi bau disenfektan yang terus menyerang Indra penciumannya setiap hari mulai membuatnya muak.
"Ibuuu..." kata Duan Qing sekali lagi.
Setelah bergaul kurang lebih dari sebulan dengan Su Xi, Duan Qing mulai menunjukkan sifatnya yang sebenarnya. Dia sebenarnya anak yang manja dan lemah, tapi karena lingkungan di sekitarnya memaksanya harus memiliki kepribadian yang kuat.
Duan Qing selalu memasang muka datar setiap hari supaya ibu tirinya tidak dapat menemukan celah dari ekspresinya dan mengetahui kelemahannya.
Dia tetap harus waspada bahkan ketika berada dirumahnya sendiri. Banyak pasang mata yang melihatnya jika ia lengah sedikitpun. Semua pelayan, sopir, bahkan tukang kebun sekalipun merupakan orang orang ibu tirinya membuat dia tidak bisa bebas.
"Tidak tau, nanti tanyakan saja pada dokter." kata Su Xi acuh tak acuh.
Duan Qing kesal dengan jawaban ibunya, pasti itu terus jawaban yang didapatnya saat ia menanyakan kapan boleh pulang.
"Ibu, aku tau. Ibu bersekongkol dengan dokter Chan kan, supaya aku tetap dirawat dirumah sakit." kata Duan Qing setelah beberapa detik.
__ADS_1
"Mana mungkin." bantah Su Xi dengan keras. Su Xi mulai salah tingkah karena tertangkap basah oleh putrinya.
"Jangan menyangkalnya, Bu. Aku mengetahuinya."
"Apa yang kamu katakan, ibu tidak mengerti." kata Su Xi berlagak bodoh.
"Dokter Chan sendiri yang bilang padaku, kalau ibu dan ayah tidak memperbolehkan aku pulang." kata Duan Qing dengan santai.
Sebenarnya tidak bisa mengatakan dokter Chan sendiri yang mengatakannya, Duan Qinglah yang memaksa dokter Chan untuk mengatakannya.
"Maafkan aku dokter Chan, setelah ini aku berjanji akan membantumu kapan saja walaupun aku harus mengarungi lautan." gumam Duan Qing dalam hati.
Si mulut ember itu. Beraninya dia!
Melihat Wajah putrinya yang tampak tenang di luar tapi sebenarnya mengandung kemarahan, Su Xi tidak berani tidak mengakuinya lagi. Dia mulai memasang tampang sedih, layaknya pameran utama wanita yang di selingkuhi suaminya. Air mata buaya mulai keluar dari matanya.
Dengan suara yang menyayat hati, Su Xi mengatakan "Maafkan ibu, Qing er. Ibu hanya ingin memastikan kamu benar benar sembuh, karena itu ibu ingin kamu tinggal dirumah sakit lebih lama. Ibu memang salah memaksakan kehendak ibu padamu."
__ADS_1
"Ibu tidak salah kok." bantah Duan Qing.
"Tapi kan aku juga bisa dirawat di rumah Bu." kata Duan Qing lagi.
"Walaupun kita juga punya alat medis sendiri, tapi itu tidak bisa dibandingkan di rumah sakit. Ibu khawatir jika terjadi hal seperti kemarin." jawab Su Xi.
"Aigo, bagaimana ibu bisa hidup tanpamu." Su Xi mulai menangis dengan keras memikirkan keadaan putrinya beberapa waktu yang lalu. Kali ini, bukan akting lagi. Dia memang menangis memikirkan kondisi Duan Qing yang berada di ambang kematian.
Melihat Su Xi menangis dengan keras, Duan Qing tidak berani membantah perkataan ibunya lagi. Duan Qing mulai sibuk menenangkan Su Xi yang masih menangis.
"Ibu, jangan menangis. Aku akan tetap tinggal dirumah sakit sesuai perkataan ibu." bujuk Duan Qing sambil memeluk Su Xi.
"h..h..hh.." Nafas Su Xi mulai tersendat sendat karena menangis. Melihatnya Duan Qing merasa bersalah memikirkan dia yang membuat Duan Qing seperti ini. Dia pikir Su Xi tadi hanya berakting, karena itulah dia membantah dan bersikeras ingin pulang.
"Maafkan aku, Bu." katanya sambil tertunduk.
Mendengar permintaan maaf putrinya, Duan Qing merasa dia menjadi orang yang sangat berdosa. Bagaimana dia bisa memaksakan kehendaknya pada Duan Qing, padahal ini bukan salah putrinya. Sebenarnya Su Xi bersikeras menahan Duan Qing di rumah sakit supaya Duan Qing tidak bertemu dengan pemuda bermarga Lu itu. Pemuda itu sering kali berkunjung s
__ADS_1
"ti..tidak usah meminta maaf. Ibu yang salah karena tidak mengerti kamu." kata Su Xi di sela sela tangisannya.