
"CEO Lu."
Seorang laki laki memakai setelan hitam lengkap membungkuk hormat ke arah pemuda yang yang berdiri menghadap jendela kaca yang sangat besar. Disana pemandangan ibukota kekaisaran Dunhai terpampang jelas dari tempat ia berdiri.
Gedung gedung yang menjulang tinggi, lalu lintas yang padat, orang yang berlalu lalang, hal itu kerap sering dia jumpai tatkala berdiri menghadap jendela kaca itu.
"Wang Louhe melarikan diri." ujar Chen Nirou, sekretarisnya.
Tidak ada tanggapan dari atasan sekaligus sepupunya itu. Chen Nirou memberanikan diri mengangkat kepalanya. Disana dia melihat punggung seorang pemuda yang tampan. Tingginya sekitar 187 dan tubuhnya tegap bak model pria yang berjalan di lintasan pacu. Tapi sayangnya dia memancarkan aura dingin dan menyendiri, membuat orang hanya ingin mengaguminya dari kejauhan.
Setelah beberapa menit, suara dingin dan jernih terdengar di ruangan persegi empat itu. Dia berkata "Aku sudah mengiranya."
Suara itu sangat dingin membuat orang merasakan merinding ketika mendengarnya.
Chen Nirou bergidik mendengar suara Lu Yunhan. Dia mengasihani kepala keluarga Wang yang tidak akan memiliki akhir yang baik. Tapi Chen Nirou hanya sekedar mengasihaninya saja, dia juga tidak ingin menolongnya.
Salah siapa yang memprovokasi sepupunya terlebih dahulu, Lu Yunhan bukan orang yang bisa diprovokasi. Barangsiapa saja yang menyinggungnya, nasibnya bahkan lebih buruk dari kematian. Terlebih lagi Lu Yunhan seperti monster. Dia tidak punya belas kasihan kepada musuh musuhnya. Keluarga Wang pasti akan tamat kali ini.
"Jalankan rencananya!" perintah Lu Yunhan.
__ADS_1
"Baik."
"Aku akan melihat bagaimana keluarga Wang akan bertahan setelah ini." kata Lu Yunhan sambil tersenyum dingin.
Melihat senyum Lu Yunhan, Chen Nirou bisa merasakan keringat dingin menetes dari pelipisnya. Walaupun bukan dia yang Lu Yunhan bicarakan, tapi jantungnya berdetak kencang setelah melihat senyum iblis sepupunya itu.
Chen Nirou menghela nafas dalam dalam lalu melangkah meninggalkan ruangan dengan pelan. Dia butuh udara segar untuk menenangkan diri.
Ruangan sepupunya itu termasuk dibilang cukup luas tapi kenapa ia selalu merasakan sesak saat berada di ruangannya. Mungkin aura dingin sepupunya yang cukup kuat membuat ruangan itu terasa sesak, pikir Chen Nirou.
Bekerja dengan Lu Yunhan bagaikan naik Roller Coaster. Suasana hatinya yang tidak menentu membuat Chen Nirou harus waspada setiap saat, membuat jantungnya terus berolahraga setiap hari.
Di rumah sakit, Zhou Lian sangat cemas karena Lu Yunhan tidak kunjung mengangkat telponnya. Dokter muda itu terus mondar mandir sambil memegangi telponnya membuat perawat yang berada disampingnya pusing, tapi dia tidak menyadarinya.
"Lu Yunhan angkat telponnya!" katanya dengan cemas.
"Ada apa dengan manusia batu ini? Kenapa dia tidak mengangkat telponnya? Apakah dia masih marah karena kejadian kemaren? Sungguh sangat picik." gumamnya lagi.
Setelah menelpon berulang kali, tidak kunjung ada jawaban, hanya suara perempuan yang berbicara di telpon Zhou Lian.
__ADS_1
Zhou Lian segera menyerah untuk menelponnya lagi, karena dia tau manusia batu ini sangat pendendam. Lu Yunhan tidak akan mengangkat telpon darinya sampai ia dalam mood yang baik, walaupun dia sudah memberikan kompensasi padanya.
"Oh Rookie ku yang malang, kamu harus jatuh ke tangan penjahat keji itu." batin Zhou Lian berteriak sedih.
Zhou Lian kadang kadang heran bagaimana dia masih berteman dengan manusia batu itu sampai sekarang. Mungkin kalau itu orang lain, dia pasti tidak tahan dengan sikap manusia batu itu dan akan memutuskan pertemanannya sejak lama. Beruntunglah Lu Yunhan, mempunyai teman yang penyabar dan setia seperti dia. Kalau tidak, dia tidak akan mempunyai teman di muka bumi ini.
Sebenarnya kejadian kemaren memang kesalahan yang fatal. Zhou Lian beruntung hanya disuruh memberikan salah satu mobil favoritnya. Kalau itu orang lain, Lu Yunhan pasti menyiksanya habis habisan.
Saat mengingat kejadian kemaren, Lu Yunhan merasa dirinya akan meledak. Beraninya wanita itu memanjat tempat tidurnya. Aroma parfum wanita itu tertinggal di setiap sudut apartemennya membuat ia merasa ingin muntah.
Walaupun sudah di disenfektan, membayangkan ada wanita yang meraba raba tempat tidurnya lalu menciumi setiap pakaiannya membuat Lu Yunhan ingin menyiksa Zhou Lian dengan kejam. Kalau bukan Zhou Lian yang memberi tau kata sandi apartemennya, perempuan itu tidak akan bisa masuk dan memanjat tempat tidurnya.
Lu Yunhan terpaksa harus tinggal di Villa nya yang berada di pinggiran barat ibukota, karena apartemennya sedang di renovasi. Lu Yunhan harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, karena Villanya tidak dekat dengan gedung Lu Corporation.
Saat Lu Yunhan masih tinggal di apartemennya, dia hanya membutuhkan sepuluh menit untuk sampai, sekarang ia harus memakan waktu empat puluh lima menit untuk sampai di kantornya. Inilah hal yang termasuk dibencinya yaitu membuang buang waktunya.
"Huft." Lu Yunhan menghela nafas memikirkan kejadian belakangan ini. Dia tau Zhou Lian juga tidak bisa disalahkan dalam kejadian kemaren. Zhou Lian dalam keadaan mabuk dan perempuan itu dengan mudah memanfaatkannya untuk memberi tahunya kata sandi apartemennya.
Untung itu hanya kata sandi apartemen yang dia tumpahkan, kalau itu ternyata rahasianya yang lain, Lu Yunhan tidak akan memaafkan Zhou Lian dengan mudah.
__ADS_1
Perilaku Zhou Lian yang ceroboh dan selalu terpesona dengan wanita cantik membuat Lu Yunhan harus memberinya pelajaran, supaya kejadian ini tidak terulang kembali.