
Dengan cepat Duan Ye bergegas ke kamar, lalu meletakkan Su Xi yang pingsan di tempat tidur. Ia lalu mengoleskan minyak angin ke hidung Su Xi supaya ia sadar.
Sambil menepuk nepuk pipi Su Xi, Duan Ye berkata "Xi er.. bangun!"
Tak lama kemudian, mata Su Xi yang semulanya terpejam mulai terbuka. Ia mengamati sekeliling ruangan sampai pandangannya jatuh ke arah Duan Ye. Seolah sadar, ia langsung mengingat putrinya yang sudah meninggal.
Sontak Su Xi mulai menangis histeris. Ia meneriakkan nama Duan Qing sambil bergumam putrinya tidak mungkin mati. Putrinya baru kemaren menelponnya, menyuruh ia cepat pulang. Tidak mungkin ia meninggal.
"Ini pasti mimpi kan?" Teriak nya kepada Duan Ye.
Duan Ye yang melihat Su Xi masih tidak mau menerima kenyataan langsung memeluk Su Xi. Ia mengelus punggung Su Xi yang masih gemetaran karena menangis. Sebenarnya ia juga tidak percaya kalau putrinya sudah meninggal, tapi fakta berbicara sendiri di depannya.
Tingkah laku Duan Qing yang sekarang sangat kontras dengan putrinya. Begitu pula, ia juga merasa ada yang aneh dengan putrinya membuat ia tidak ingin melakukan kontak dengan putrinya. Semua fakta itu, sudah cukup membuat ia percaya kalau di tubuh putrinya memang jiwa orang lain. Kalau dia memang putrinya, tubuhnya tidak akan menolak akan kedekatan putrinya.
Setelah beberapa saat tangisan Su Xi mulai berhenti, walaupun ia masih cegukan karena menangis.
"Kamu istirahat aja dulu ya!" ujar Duan Ye sambil membaringkan kembali Su Xi ke tempat tidur. Seolah olah ia robot, Su Xi dengan patuh memejamkan matanya.
Duan Ye lalu mengecup kening Su Xi sambil menarik selimut ke badannya. Setelah beberapa menit, ia perhatikan nafas Su Xi sudah stabil, ia lalu meninggalkan ruangan sambil menutup pintu pelan pelan supaya tidak membangunkan Su Xi.
Tak lama setelah Duan Ye meninggalkan ruangan, Su Xi mulai bermimpi. Ia melihat putrinya berjalan ke arahnya sambil mengenakan gaun rumah sakit yang sekarang dikenakan Jian Qing.
Sambil berlari ke arah putrinya, Su Xi berkata "Qing er, ini beneran kamu sayang?"
"Iya bu, ini aku."
Lalu isak tangis Su Xi mulai terdengar, ia lalu mengelus pipi Duan Qing dengan sayang. Seolah tidak percaya ia lalu mencubit pipi Duan Qing dengan kuat yang langsung dibalas erangan kesakitan oleh Duan Qing.
"Ini beneran kamu, Nak!" teriaknya sambil memeluk erat Duan Qing.
"Ibu percaya kalau kamu tidak mati."
"Ayo kita melihat ayahmu. Lelaki tua itu masih aja percaya kalau kamu sudah mati." ujar Su Xi sambil menarik tangan Duan Qing dengan senang.
__ADS_1
Tapi yang ditarik masih tidak beranjak dari tempatnya. Dengan heran Su Xi bertanya "Kenapa Qing er?"
"Ibu, aku sudah mati. Lihatlah tanganku Ibu!" katanya sambil menunjukkan tangannya yang mulai transparan.
Su Xi lalu melepas tangan putrinya. Dilihatnya tangan putrinya memang mulai transparan. Seolah tidak percaya ia lalu menggenggam tangan Duan Qing, tapi yang digenggamnya hanya udara.
"Ti.. tidak mungkin." teriaknya sambil berusaha menggapai gapai tangan Duan Qing.
"Ibu.. sudah." ujar Duan Qing. Tidak sanggup melihat tingkah ibunya seperti ini, ia mulai menangis. Su Xi yang melihat Duan Qing menangis, langsung tersadar.
Dengan sedih ia berkata "Qing er, jangan menangis sayang!"
"Apa yang harus Ibu lakukan? Ibu tidak bisa menyentuhmu, Nak." kata Su Xi dengan panik.
"Ibu, kamu harus kuat! Hadapi kenyataan kalau aku sudah mati. Lagipula yang mati hanya jiwaku, tubuhku masih ada di dunia ini, Ibu."
"Aku tau hidupku tidak akan lama, jadi aku tidak terlalu sedih. Aku juga bahagia disini, Ibu" kata Duan Qing setelah tangisannya mulai berhenti. Tapi yang menjawab hanya gelengan kepala Su Xi.
"Qing er.. Qing er..." teriak Su Xi dengan keras. Ia jatuh berlutut di tanah sambil meratapi kepergian Duan Qing. Tak lama ia merasakan ada yang mengguncang tubuhnya dengan keras. Dengan kaget matanya mulai terbuka, pertanda ia bangun dari mimpinya.
Duan Ye yang melihat Su Xi sudah terbangun langsung menghela nafas lega. Ia tadi sedang bekerja di ruangan sebelah. Tangisan Su Xi langsung mengagetkannya, membuat ia sontak berlari kesini.
"Tidak apa apa.." bisik Duan Ye sambil mengelus kepala Su Xi. Ia lalu menyerahkan segelas air putih kepada Su Xi yang tersedia di atas meja. Su Xi langsung meminumnya dengan pelan.
"Apakah kamu bermimpi buruk?" tanya Duan Ye setelah melihat Su Xi mulai tenang.
"...."
Duan Ye yang melihat Su Xi bungkam, langsung mengerti. Ia tau dia tidak ingin menceritakan tentang mimpinya maka ia tidak akan menanyainya lagi. Lagi pula cepat atau lambat ia akan mengetahuinya. Istrinya mungkin nanti akan menumpahkan kacang dengan sendirinya.
"Qing er mana?" tanya Su Xi setelah mulutnya bungkam sekian lama.
Tertegun. Itu respon Duan Ye atas pertanyaan Su Xi. Ia tidak menyangka setelah bangun yang ditanyai malah Duan Qing. Apakah ia lupa kalau yang dirumah sakit bukan putrinya.
__ADS_1
"Dia di rumah sakit." ujar Duan Ye dengan pelan.
"Terus siapa yang menjaganya?
"Tidak ada."
"Ada apa denganmu? Putri kita sedang sakit, bagaimana mungkin tidak ada yang menjaganya. Ia pasti sedang menangis sendirian sekarang." ujar Su Xi dengan panik.
Tapi memang yang dikatakan Su Xi adalah benar. Duan Qing sekarang sedang menangis. Ia pikir orang tua pemilik asli sudah meninggalkannya di rumah sakit sendirian karena tidak ada juga kabar dari orang tua pemilik asli. Walaupun ia sudah memprediksi orang tua pemilik asli akan meninggalkannya, tapi dihadapkan dengan kenyataan tetap saja membuat ia sangat sedih.
"Ayo kita ke rumah sakit!" ujar Su Xi sambil menarik Duan Ye yang masih termangu di atas tempat tidur.
Duan Ye masih bingung tingkah Su Xi. Istrinya bersikap seolah olah tidak ada yang terjadi pada Duan Qing setelah ia bangun. Padahal ia tadi masih menangis sedih dalam tidurnya.
Apakah istrinya terlalu syok dengan kematian putri mereka membuat ia melupakannya. Entahlah ia bingung, untuk sementara ia akan mengikuti kehendak istrinya bersikap seolah olah tidak ada yang terjadi.
"Ayah!" kata Su Xi sambil mencoba menarik lagi tangan Duan Ye.
Setelah beberapa saat Duan Ye tersadar dari lamunannya. Ia membiarkan Su Xi menarik tangannya, mengikuti ia dengan tergesa gesa ke lantai bawah.
"Oh iya, baju ganti Qing er." teriak Su Xi lupa. Ia langsung melepaskan tangan Duan Ye dan bergegas kembali ke kamar Duan Qing.
Tak lama Su Xi keluar dari kamar Duan Qing sambil membawa tas berukuran sedang.
"Ayo!" katanya sambil menggenggam kembali tangan Duan Ye ke lantai bawah. Dengan patuh Duan Ye mengikutinya.
Sampai di lantai bawah, Su Xi berteriak lagi. "Chef Bo, buatkan sup ayam. Nanti suruh sopir antar ke rumah sakit."
"Baik Nyonya."
"Ayah ngapain bengong disini, bukannya cepat ngambil mobil." bentak Su Xi ketika melihat Duan Ye berdiri diam seperti patung di belakangnya.
"Oh iy..iya." Duan Ye pun bergegas mengambil mobil di garasi. Di susul Su Xi yang mengikutinya dari belakang. Setelah Su Xi duduk di kursi penumpang, Duan Ye langsung menancapkan gas bergegas ke rumah sakit. Mobilnya melaju meninggalkan kediaman Duan.
__ADS_1