
Di rumah sakit
"Cepetan Ayah." teriak Su Xi ketika melihat Duan Ye masih belum turun dari mobil.
Teriakan Su Xi membuat Duan Ye tersentak dari lamunannya. Ia pun bergegas turun dari mobil lalu menyusul Su Xi yang dari tadi sudah masuk.
Sesampainya Su Xi di bangsal, ia kaget ketika melihat sejumlah dokter dan perawat mengelilingi bangsal putrinya. Ia ingin menerobos masuk tapi di halangi oleh perawat yang berjaga di depan pintu.
"Apa yang terjadi dengan putriku?" teriaknya panik. Ia menggenggam erat lengan perawat itu tanpa sadar sampai perawat itu meringis kesakitan.
Sambil berusaha melepaskan tangan Su Xi yang mencengkram lengannya, perawat itu berkata "Sabar ya Bu, Dokter sedang berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan putri Anda."
Lemas sudah lutut Su Xi ketika mendengarnya. Ini salahnya mengabaikan peringatan Duan Qing dalam mimpinya. Seharusnya ia langsung bergegas ke rumah sakit setelah bangun, supaya suasana hati Duan Qing lebih baik.
Bagaimanapun jiwa orang yang didalam tubuh putrinya belum mengenal lingkungan disekitarnya, mungkin ia berpikir mereka meninggalkannya. Makanya ia jadi sangat sedih. Pasien yang mengidap penyakit jantung tidak boleh terlalu sedih atau terlalu marah, itu akan memengaruhi hatinya. Ia benar benar lupa.
"Ini salahku." kata Su Xi menyalahkan dirinya sendiri. Air matanya menetes melihat dokter tengah meletakkan Defibrillator pada dada putrinya untuk menghentikan detak jantungnya berhenti.
"Kenapa jalannya cepat sekali" batin Duan Ye ketika melihat Su Xi sudah menghilang di koridor rumah sakit.
Kalau begini ia jadi tidak ingin masuk. Jujur saja ia tidak ingin melihat Jian Qing sekarang kalau bukan karena Su Xi memaksanya pergi. Ia masih belum menerima kejadian ini. Sebagai orang yang percaya pada sains ia masih sulit percaya adanya reinkarnasi di dunia ini. Walaupun fakta sudah terpampang nyata di depannya.
Sesampainya Duan Ye disana, ia melihat Su Xi berjongkok di koridor rumah sakit sambil menangis.
__ADS_1
"Apa yang terjadi denganmu?" ujar Duan Ye panik ketika melihat Su Xi menangis seakan kehilangan jiwanya.
"..."
Tapi Su Xi tidak menjawab pertanyaan Duan Ye. Ia hanya menengadahkan kepalanya melihat Duan Ye lalu menunjuk ke arah bangsal Duan Qing.
Duan Ye pun menegakkan tubuhnya lalu mengintip dari kaca jendela dimana bangsal putrinya dikelilingi oleh dokter dan perawat sedang melakukan penyelamatan padanya.
"Ada apa dengannya?" kata Duan Ye cemas. Walaupun ia hanya orang asing sekarang yang menempati tubuh putrinya, tapi tetap saja itu tubuh putri kesayangannya. Darahnya masih mengalir di tubuhnya. Ia juga tidak ingin tubuh putrinya benar benar menghilang di dunia ini.
"Dokter sedang berusaha menyelamatkannya." jawab Su Xi.
Setelah jeda beberapa menit, Su Xi berkata lagi. Ia mengatakan "Duan Ye, jika dia benar benar selamat dari cobaan ini, mari kita menganggapnya sebagai putri kita, oke?"
Dengan nada memohon Su Xi berharap Duan Ye menyetujuinya. Hatinya sangat perih melihatnya seperti ini. Walaupun ia hanya orang asing, tak disangkal ia sudah memiliki kasih sayang padanya. Ia jadi teringat pertama kali melihatnya.
Matanya penuh kesedihan seolah telah melewati banyak cobaan hidup. Walaupun itu matanya putrinya, tapi cara dia memandang membuat ia sakit hati. Entah apa yang dia alami sebelum bereinkarnasi di tubuh putrinya, tapi ia bertekad akan membuat ia bahagia. Ia sudah membuat keputusan ini setelah memimpikan putrinya.
Dengan nada ingin menangis, Su Xi memohon lagi "Duan Ye, Aku mohon!"
Melihat permohonan Su Xi membuat Duan Ye mempertimbangkan kembali rencananya. Ia berencana mengirimnya ke luar negeri setelah kondisinya sudah stabil dengan dalih untuk pengobatan. Bagaimanapun jiwa ditubuh putrinya adalah orang asing, ia tidak cukup mengenalnya.
Bagaimana nanti ia mencelakakan keluarganya, ia tidak akan punya waktu untuk menyesal. Sebagai pengusaha kaya, ia punya banyak musuh. Maka dari itu ia sebisa mungkin menghilangkan potensi bahaya yang akan terjadi ke depannya.
__ADS_1
Melihat Duan Ye masih diam, Su Xi sangat cemas bila Duan Ye menolak permintaannya.
"Duan Ye, aku yakin dia tidak akan mencelakai kita." ujar Su Xi tegas.
"Jika kamu tidak percaya padaku, tolong percayalah dengan putri kita."
"Apa maksudmu?" tanya Duan Ye bingung.
Dengan tenang Su Xi mengatakan "Bukan hanya aku saja yang menginginkan ini, tapi juga Qing er.."
Melihat Duan Ye menunggu penjelasannya, jadi ia melanjutkan "Tadi malam aku memimpikan Qing er. Dia memintaku untuk tidak sedih atas kematiannya. Qing er sudah memprediksi hal ini akan terjadi jadi ia sangat tenang. Dia bilang untuk menyuruh kita untuk menganggapnya sebagai putri kita karena Qing er percaya ia tidak akan mencelakai kita. Mungkin ia akan membawa keberuntungan bagi kita."
"Kalau begitu baiklah. Aku akan mempercayai kalian." kata Duan Ye pasrah.
Sepasang suami istri itu pun menunggu dengan cemas di kursi koridor rumah sakit. Tak lama pintu terbuka, keluarlah dokter di susul perawat mendorong sejumlah alat dibelakangnya.
Melihat dokter sudah keluar, Su Xi dengan gugup berkata "Bagaimana kondisi putri saya dok?"
"Kondisi pasien sudah stabil. Tapi karena tadi pasien masih kesulitan bernapas jadi kami memasang alat bantu pernafasan padanya. Tolong kedepannya kondisi pasien terus dipantau untuk menghindari hal hal seperti ini. Jika bukan karena kebetulan perawat sedang berjaga di sekitar bangsal putri anda, putri anda mungkin akan mati tanpa ada yang menyadarinya."
"Iya Dok. Maafkan kecerobohan saya." kata Su Xi dengan menyesal.
"Oke. Saya tinggal dulu."
__ADS_1
"Baik dok."