Reinkarnasi Dari Abu

Reinkarnasi Dari Abu
Hubungan Yang Canggung


__ADS_3

"Ayo pulang." ajak Duan Ye.


"Sebentar, ibu mau ngucapin terima kasih dulu sekalian ada juga yang mau ibu tanyain." ujar Su Xi lalu melepaskan tangan Duan Qing yang sejak tadi menggenggamnya.


"Gawat, Ibu nggak boleh tau kalau aku barusan diculik. Bisa-bisa mereka bakalan ngurung aku di rumah sakit selamanya." batin Duan Qing panik.


"Bu, ayo kita pulang sekarang aja. Aku udah lapar banget karena belum makan dari tadi." kata Duan Qing sambil memohon.


"Sebentar ya. Ibu ngucapin terima kasih dulu sama resepsionisnya karena udah jagain kamu tadi." bujuk Su Xi.


"Biar aku aja Bu." kata Duan Qing. Tanpa menunggu jawaban Su Xi, Duan Qing berlari menghampiri wanita yang bekerja sebagai resepsionis itu.


"Makasih ya kak, udah nolongin aku." kata Duan Qing tulus sambil membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.


"Tidak usah berterima kasih nona. Saya juga nggak banyak membantu kok." ujar resepsionis canggung karena kaget dengan perilaku Duan Qing. Biasanya setiap anak konglomerat yang dijumpainya sangat sombong dan tidak akan pernah membungkuk pada orang biasa seperti dia. Apalagi berkomunikasi tentu saja sangatlah minim.


Tapi melihat sikap Duan Qing yang rendah hati tadi, mematahkan pemikiran buruk resepsionis tentang Duan Qing, si anak kaya raya.


Menurut rumor nona muda dari keluarga Duan ini terkenal dengan sikap manja dan kesombongannya. Walaupun dia dikabarkan sering sakit-sakitan yang membuat pihak lain bersimpati dengannya, tapi setelah melihat perilakunya yang kurang ajar, sebagian orang beranggapan bahwa dia pantas mendapatkan penyakit itu.

__ADS_1


"Memang rumor kadang tidak bisa dipercaya." pikir resepsionis.


"Kak, boleh minta nomor Whatsapp nya nggak?" pinta Duan Qing.


"Boleh." balas Resepsionis sambil tersenyum.


"Bentar kak." ujar Duan Qing lalu berlari menghampiri Su Xi yang berdiri tidak jauh dari sana.


"Handphone aku mana, Bu?" tanya Duan Qing.


"Ini." jawab Su Xi sambil mengeluarkan benda berwarna biru dari tasnya.


Duan Qing lalu mengambilnya dan kembali menghampiri resepsionis tadi.


"Ini." balas resepsionis sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Duan Qing untuk dipindai.


"Selesai. Oke, makasih. Nanti aku chat kak, jangan lupa dibalas ya." kata Duan Qing tersenyum lebar sampai matanya menyipit seperti bulan sabit.


"......" Resepsionis menganggukkan kepalanya, menandakan dia menyetujui kata kata Duan Qing.

__ADS_1


"Aku pulang dulu, Kak." kata Duan Qing sambil melambaikan tangannya kepada resepsionis.


"Iya." balas resepsionis juga ikut melambaikan tangannya.


"Ayo kita pulang!" ujar Duan Qing gembira lalu menggandeng lengan Su Xi dan Duan Ye bersamaan.


"Apa ini?" kata Duan Ye ingin melepaskan tangan Duan Qing. Seakan tau maksud Duan Ye ingin melepaskan tangan Duan Qing, Su Xi langsung memelototinya. Tatapannya seakan mengatakan kalau kamu lepaskan tangan ini, kamu akan mati, membuat Duan Ye terpaksa mengurungkan kembali niatnya.


Tidak dipungkiri Duan Ye juga merasa senang karena Duan Qing menggandeng tangannya, berarti putrinya sudah mulai terbuka dengannya. Selama ini hubungannya dengan Duan Qing sangatlah canggung membuat dia tidak harus berbuat apa untuk memperbaikinya.


Su Xi seringkali menyuruhnya bergaul dengan Duan Qing, tapi karena dia kurang pandai bersosialisasi dengan wanita malah membuat hubungannya dengan Duan Qing semakin dingin.


Cara mereka berkomunikasi tidak seperti layaknya ayah dan anak malahan seperti atasan dan bawahan yang membuat Su Xi khawatir. Tapi syukurlah sikap Duan Qing tadi sudah mulai menunjukkan hubungan ayah dan anak itu tidak kaku lagi.


Sesampainya di parkiran, Duan Qing langsung melepaskan lengan Duan Ye, yang membuat Duan Ye berkecil hati. Sepertinya Duan Qing juga tidak menyadari kalau dari tadi ia sudah menggandeng lengan Duan Ye. Su Xi yang melihat interaksi mereka hanya bisa menghela nafas pasrah. Ingin membantu pun ia tidak bisa, nanti malah membuat hubungan mereka semakin parah.


"Ehm.. aku masuk duluan." ujar Duan Qing canggung lalu pergi membuka pintu mobil.


"Sebentar." kata Duan Ye menghentikan tangan Duan Qing yang ingin menggapai pintu mobil.

__ADS_1


"Iya." ucap Duan Qing lalu membalikkan badannya.


"Ayah...i..itu."


__ADS_2