Reinkarnasi Dari Abu

Reinkarnasi Dari Abu
Menangis


__ADS_3

"Ayo Qing er!" kata Su Xi sambil menarik tangan Duan Qing yang menggenggam baju Duan Ye dengan erat. Tapi ternyata genggaman Duan Qing tidak juga terlepas, tangannya seperti direkatkan oleh lem yang membuat Su Xi tidak bisa memaksa melepaskannya lagi.


"Dia nggak mau." bisik Su Xi sambil menggelengkan kepalanya kepada Duan Ye.


"Ya sudah, biar ayah gendong aja." kata Duan Ye menghela nafas pasrah.


"Emang ayah kuat." sindir Su Xi.


"Kita liat nanti." jawab Duan Ye sambil mulai meletakkan tangannya dibawah lutut Duan Qing lalu menggendongnya. Duan Qing otomatis langsung mengalungkan tangannya ke leher Duan Ye dan menyembunyikan wajahnya di leher Duan Ye.


"Lihat!" kata Duan Ye sombong.


"Iya." jawab Su Xi sambil memutar matanya lalu berjalan di samping Duan Ye.


"Bu, Kenapa badan Qing er kurus sekali? Ayah sampai tak merasa lelah sama sekali menggendongnya." ujar Duan Ye khawatir.


"Ibu juga tau Yah." balas Su Xi tak kalah khawatir.


Sesampainya di mobil, Duan Ye lalu meletakkan Duan Qing di kursi belakang. Su Xi mengikutinya dari samping dan memilih duduk di samping putrinya, supaya kepala Duan Qing bersandar di pundaknya.


Sebenarnya tangisan Duan Qing sudah berhenti sejak tadi, tapi ia terlalu malu mengangkat kepalanya dan memilih berpura-pura tidur sampai ia benar benar ketiduran di pelukan Duan Ye.


"Kemana?" tanya Duan Ye sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Ke rumah aja." jawab Su Xi.


"Emang udah dibolehin keluar rumah sakit?" kata Duan Ye.


"Tentu saja sudah. Kan ibu yang nyuruh dokter Chan belum bolehin Qing er pulang." ujar Su Xi merasa bersalah.

__ADS_1


"Kita pulang aja Yah. Ibu khawatir kalau Qing er bakalan kabur lagi, jika kita membawanya ke rumah sakit. Lagipula kesehatan Qing er sekarang sudah membaik."


"Baiklah." kata Duan Ye.


Mobil Bentley hitam itu melaju meninggalkan kawasan salah satu hotel terbesar di kota F itu.


"Yah, apa yang terjadi sebenarnya hingga membuat Qing er menangis seperti tadi?" tanya Su Xi.


"Itu yang ingin ayah cari tau juga." balas Duan Ye.


"Maksudnya."


"Tadi waktu ayah peluk Qing er, dia langsung nangis. Nggak mungkin dia nangis gara gara ayah kan?" ujar Duan Ye bingung.


"Mungkin saja." balas Su Xi cepat.


"Ya nggak mungkinlah. Ayah nggak mungkin bikin putri ayah sedih sampe nangisnya kayak gitu." kata Duan Ye tidak terima.


"Deg." Duan Ye tidak bisa membantah perkataan Su Xi. Memang benar dulu dia selalu menaruh curiga pada Qing er sampai dia selalu mengawasinya di rumah sakit hampir setiap hari. Siapapun itu pasti tidak akan nyaman dengan tatapan menyelidiknya setiap hari. Su Xi yang melihatnya saja sudah risih apalagi Qing er yang selama ini menjadi sasarannya.


Beruntunglah ia, bahwa Duan Qing tidak mengambil hati atas perilakunya. Bagi Duan Qing itu bisa dianggap wajar, bagaimanapun dia bisa dianggap orang asing dalam keluarga mereka.


"Qing er, kamu pasti sangat menderita di kehidupanmu dulu kan? Ibu tau, walaupun kamu tidak mengatakannya pada kami, tapi dari sorot mata kamu saat memandang kami, ibu sudah mengetahuinya.." ujar Su Xi sedih sambil mengelus kepala Duan Qing.


Jika mengingat sikap Duan Qing selama ini, sikapnya tidak seperti anak yang berusia 19 tahun.


Su Xi ingat kala itu, dia membawa Duan Qing berjalan jalan di sekitar taman rumah sakit. Mereka lalu duduk di salah satu bangku disana. Tiba tiba saja ada seseorang yang seumuran dengan putrinya mengatakan kalau dia yang menemukan bangku ini terlebih dahulu, tapi karena dia ada urusan sepuluh menit yang lalu dia meninggalkannya sebentar.


Putrinya dengan berlapang dada pergi begitu saja, padahal dia sudah tau kalau orang didepannya ini berbohong, mengatakan kursi ini dia menemukannya 10 menit yang lalu, padahal sudah satu jam mereka duduk disini tapi orang ini baru muncul. Su Xi ingin memprotes tapi Duan Qing lebih dahulu menghentikannya dan berkata "Tidak apa apa Bu. Lagipula aku sudah capek, mau balik ke kamar aja."

__ADS_1


Padahal Su Xi tau, kalau putrinya ingin tinggal lebih lama di luar karena ini pertama kalinya dia mengajaknya berjalan jalan di taman rumah sakit.


Ada satu lagi, Qing er tidak pernah mengeluh pasca menjalani terapi setelah mengalami koma. Dia juga tidak pernah mengeluh sedikitpun ketika sakit jantungnya kambuh. Sebisa mungkin dia tahan, semua yang dia rasakan. Pernah waktu itu juga, Su Xi lupa malah membawakan bubur kedelai yang tidak disukai oleh Duan Qing, tapi tetap saja Duan Qing memakannya. Setelah menyelesaikannya dia baru mengatakan kepada Su Xi bahwa Su Xi membawa bubur kedelai.


"Kenapa tidak mengatakannya lebih awal?" ujar Su Xi marah. Duan Qing malah menjawab Su Xi dengan mengatakan "Aku tidak ingin merepotkan semuanya, lagipula ini juga bisa dimakan kok. Makanan ini tidak akan membuatku mati." canda Duan Qing.


Su Xi langsung terdiam mendengarnya. Entah putrinya ini bodoh atau apa. Masa' dia tidak mau mengeluh sedikitpun. Tak bisakah putrinya mengatakan "Ibu aku benci makanan ini, kenapa Ibu membawanya?" dan "Ibu, dadaku sakit." tak pernah dia mendengarnya dari bibirnya itu.


"Qing er, menangislah sepuasnya hari ini saja oke? Besok ibu tidak mengijinkannya lagi." bisik Su Xi di telinga Duan Qing berharap putrinya itu mendemgarkannya walaupun itu hal yang mustahil.


Tak lama, mobil Bentley berwarna hitam itu tiba di pekarangan rumah keluarga Duan. Satpam membuka pagar otomatisnya lalu mempersilahka mobil Duan Ye masuk. Lalu mobil itu melaju ke garasi tempat biasanya mobil-mobil Duan Ye berada.


Duan Ye mematikan mesin mobil lalu bergegas menghampiri Duan Qing yang berada di kursi belakang. Duan Ye menggendongnya, di ikuti Su Xi yang mengekorinya dari belakang.


"Pelayan, tolong antarkan air hangat ke kamar Qing er ya!" kata Su Xi kepada pelayan yang berbaris di depan pintu.


"Baik nyonya." jawabnya serempak.


"Apakah kondisi nona muda sudah membaik, Nyonya?" ujar kepala pelayan Mo khawatir ketika melihat Duan Ye membopong Duan Qing


Langkah Su Xi terhenti, dia membalikkan badannha lalu berkata "Kondisi Qing er sudah membaik. Tuan Mo tidak perlu khawatir." hibur Su Xi.


"Tapi kenapa nona muda digendong oleh tuan?" tanya kepala pelayan bingung.


"Dia hanya ketiduran saja." jawab Su Xi.


"Ouh gitu."


"Kalau begitu saya ke atas dulu ya. Jangan lupa tolong anterin air hangat ke kamar Qing er." kata Su Xi mengingatkan.

__ADS_1


"Baik nyonya." jawab kepala pelayan Mo.


"


__ADS_2