
Duan Ye segera membaringkan Duan Qing di atas kasur lalu menyelimutinya, namun ternyata Duan Qing tidak bangun sama sekali setelah Duan Ye melakukan gerakan sebesar itu. Dia hanya menggeliatkan badannya lalu tidur kembali.
Melihat tingkah putrinya, Duan Ye tersenyum kecil. Aneh sekali hari ini, biasanya keributan sekecil apapun akan membuat Duan Qing terbangun, tapi hari ini tidak sama sekali.
"Sepertinya Qing er benar benar lelah." gumam Duan Ye.
"Ayah, Qing er bangun nggak?" ujar Su Xi dari belakang badan Duan Ye.
"......" Duan Ye membalikkan badannya lalu meletakkan jari telunjuknya di mulutnya menyuruh Su Xi untuk berbicara pelan.
"Oke." bisik Su Xi lalu memajukan kepalanya melihat Duan Qing.
"Yaaaah, Qing er masih tidur. Padahal ibu mau suruh dia bersih bersih dulu." kata Su Xi.
"Nggak usahlah Bu. Sepertinya Qing er kecapekan, kasihan kalau dibangunin." ucap Duan Ye.
"Baiklah."
Duan Ye dan Su Xi lalu meninggalkan Duan Qing dan pergi ke lantai bawah.
***
"Skak." kata seorang lelaki yang tengah duduk di kursi tamu. Dia mengenakan setelan jas di balut rapi, yang membuat penampilannya sangat kontras dengan pria tua yang memakai kaos oblong dan celana pendek dihadapannya.
"Hah.." ujar lelaki tua di depannya sambil menghela nafas. Sepertinya dia baru saja mengalami kekalahan, terbukti dari nada suaranya yang kurang bersemangat.
"Han'er. Kemampuanmu masih saja sangat hebat. Dulu pria tua ini sering mengalahkan mu tapi sekarang malahan sebaliknya." ujarnya sedih.
__ADS_1
"......."
Lu Yunhan tidak menanggapi sama sekali, dia masih saja membisu tanpa ekspresi. Tidak ada raut wajah bahagia dari wajahnya itu setelah mengalahkan kakeknya bermain catur untuk puluhan kalinya. Entah dia memang sudah terbiasa atau mati rasa.
Muak dengan wajah cucunya yang selalu membatu itu, Dongfang Yu melangkahkan kakinya menuju dapur, meninggalkan Lu Yunhan yang masih duduk di ruang tamu.
Terdengar sesekali dentingan gelas dari arah dapur. Rupanya lelaki yang berusia hampir delapan puluh tahunan itu sedang membuat teh.
Tak lama berselang beberapa menit kemudian, Dongfang Yu keluar dari dapur sambil membawa nampan berwarna biru.
"Diminum! Teh ini baik untuk mengobati insomniamu." ujar Dongfang Yu sambil meletakkan nampan berwarna biru itu di atas meja.
"Hmm." Jawab Lu Yunhan lalu mengambil gelas teh dan menyeruputnya.
"Bagaimana kencan butanya kemaren, apakah sukses?" tanya Dongfang Yu penasaran. Bahkan dia beringsut duduk di samping Lu Yunhan karena saking penasarannya.
"Tidak." jawab Lu Tuhan datar.
"Apa kamu bilang? Ini gadis ketiga puluh yang kakek jodohkan dengan kamu. Masa' tidak ada satupun yang cocok. " kata Dongfang Yu emosi.
"...." Lu Yunhan mengangkat bahunya acuh tak acuh lalu memainkan handphonenya kembali.
"Umurmu sudah hampir menginjak tiga puluh tahun, apakah kamu benar benar tidak ingin menikah." tanya Dongfang Yu frustasi.
"Tidak." jawab Lu Yunhan asal.
"Aigoo... Lu Yunhan. Kamu benar benar membuatku sangat sedih." kata Dongfang Yu sambil memegangi dadanya.
__ADS_1
"Apakah kamu tega membuat kakek mati karena kesedihan melihat cucunya sendirian sampai hari tua." ujar Dongfang Yu sambil sesekali mengusap matanya walaupun tidak ada air mata sama sekali.
"......."
"Han'er... Apa yang harus kulakukan jika aku bertemu orangtuamu di akhirat nanti. Mereka akan sangat sedih melihat keadaanmu seperti ini." ratap Dongfang Yu sambil menengadahkan kepalanya ke langit.
"Tidak mau menikah, tidak punya teman, selalu berwajah dingin, tidak peduli urusan orang-orang sekitarmu. Kamu benar benar hampir seperti Biksu."
"Lihat saja sebentar lagi, apakah kamu akan meminta izin kepada kakek untuk menggunduli kepalamu." ujar Dongfang Yu frustasi. Bayangan tentang cucunya yang selama ini ia bangga-banggakan menjadi biksu membuat ia hampir menjerit.
"......"
"Han'er, kamu akan sendirian di dunia ini jika kakek juga meninggalkanmu. Umur Kakek sudah tua, tak lama lagi Kakek juga akan mati. Kakek hanya ingin ada orang yang menemanimu, merawatmu, mencintaimu sampai hari tuamu nanti." kata Dongfang Yu lembut.
"Hmm. Kakek tidak perlu khawatir, aku sudah mempunyainya." kata Lu Yunhan santai.
"Apa kamu bilang? Sudah punya." kaget Dongfang Yu.
"Siapa yang kamu punya?" tanya Dongfang Yu menggebu-gebu.
"Calon istri." balas Lu Yunhan singkat.
"What???"
"Siapa dia? Berapa umurnya?" kata Dongfang Yu berapi rapi.
"....."
__ADS_1
"Han'er, calon istrimu tinggal dimana? Ayo kita ke rumahnya sekarang!" kata Dongfang Yu sambil memperbaiki pakaiannya berharap dia bisa terbang ke rumah calon menantunya itu sekarang juga