
Gelap. Sunyi. Itu untuk menggambarkan tempat ia berdiri. Lorong yang tidak ada ujungnya menyambut pemandangan ia berada. Membuat ia merasakan kembali perasaan ditinggalkan.
Tidak ada yang menginginkannya. Perasaan putus asa itu masih bisa ia rasakan sebelum kegelapan menelannya. Ia pikir di kehidupan ini, ia akan sangat beruntung. Tapi kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ia ditinggalkan oleh mereka setelah mengetahui kebenaran.
Mengingat kembali ia cukup percaya diri bahwa mereka tidak akan meninggalkannya, membuat ia sangat ingin tertawa. Sudah cukup mereka tidak membawanya ke laboratorium untuk di teliti, malah ia mengharapkan hal yang berlebihan.
Ia teringat, baru kemaren ia merasakan kematian, sekarang ia merasakannya lagi. Dadanya sangat sakit sampai ia tidak bernapas tapi ia hanya bisa menahannya. Ia ingin memanggil dokter tapi tidak ada orang di sampingnya untuk meminta bantuan. Ketika ia berusaha menekan tombol di atas kepalanya, tapi naas kegelapan lebih dulu menelannya.
Tiba tiba ia merasakan ada yang memanggilnya. Ia mendongakkan kepalanya ke atas. Suara ini sangat tidak asing. Oh iya, dia ingat, suara inilah yang di tunggu tunggunya selama ini. Ia pikir mereka meninggalkannya, tapi kenapa mereka memanggilnya berulang ulang kali. Karena penasaran ia mengikuti sumber suara itu sampai ia merasakan sejumlah cahaya menyelimutinya.
"Qing er, kamu bangun Nak." kata Su Xi terharu.
"Air." ujar Duan Qing dengan suara serak. Akibat baru bangun dari koma tenggorokannya sangat sakit membuat suaranya serak.
Su Xi lalu membantu Duan Qing melepaskan masker oksigen yang sedang terpasang di wajahnya. Ia menyodorkan gelas untuk diminum oleh Duan Qing.
__ADS_1
Setelah minum, Duan Qing merasakan sakit di tenggorokannya berkurang.
"Apa yang terjadi?" tanya nya pada Su Xi dengan bingung.
"Kamu koma lagi Nak."
Sambil menahan tangis, Su Xi mengatakan "Jangan menakuti Ibu lagi, oke! Ibu benar benar takut kamu akan meninggalkan Ibu."
"Apa yang terjadi dengan ibu pemilik asli? Kenapa ia bersikap seolah tidak ada yang terjadi padahal aku sudah menjelaskan semuanya padanya? Adakah yang bisa menjelaskan semua ini?"
"Namanya siapa?" tanya Su Xi lembut. Ia membelai kepala Duan Qing bagaikan ia permata berharga.
Terkejut dengan sikap Su Xi, Duan Qing dengan linglung berkata "Jian Qing."
"Nama yang bagus." puji Su Xi dengan tulus.
__ADS_1
Duan Qing pun tersipu oleh pujian Su Xi. Wajahnya memerah malu malu. Walaupun dulu banyak yang melontarkan pujian padanya, tapi tidak ada yang tulus seperti Su Xi memberinya pujian.
Melihat sikap malu Duan Qing, ia menjadi sangat bahagia. Sepertinya jiwa yang di tubuh putrinya, masih sangat polos membuat ia sangat gemas dengan kelakuannya. Ia menjadi tidak sabar untuk membuatnya sebagai putrinya.
"Jian Qing, kamu mau nggak jadi Putri saya?" tanya Su Xi dengan penuh harap.
"Batuk..batuk.." Duan Qing sangat terkejut sampai ia tersedak ludahnya sendiri. Suara batuk terus terdengar di bangsal itu.
Melihat itu, Su Xi lalu menepuk nepuk punggung Duan Qing supaya batuknya mereda. Dengan prihatin ia berkata "Ada apa denganmu Nak?"
Setelah Duan Qing merasakan batuknya mereda, ia dengan gagap bertanya lagi "Sa..saya?" sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu saja."
Duan Ye yang dari tadi memperhatikan gerak gerik Duan Qing menghela nafas lega. Anak itu ternyata masih polos. Tapi sebenarnya Duan Ye salah besar, bagaimana mungkin orang yang telah mengalami kekejaman dunia, masih dianggap polos. Dia hanya bersikap seperti itu didepan orang yang terdekatnya. Ya, Duan Qing sudah menganggap orang tua pemilik asli sebagai keluarganya. Karena itulah, dia sangat terluka ketika orang tua pemilik asli tidak mengunjunginya.
__ADS_1
Duan Qing tidak tau berapa umur jiwa di tubuh putrinya, tapi yang pasti sikapnya yang konyol membuat ia mengurangi kewaspadaannya. Dengan santai Duan Ye menghampiri Duan Qing sambil berkata "Maukah kamu menjadi putri kami?"