
"Aku pilih mana ya, kesana atau kesana?" ujar seorang wanita yang sedang berdiri di area pejalan kaki sambil menunjuk persimpangan yang ada di depannya.
Jika saja wanita itu melihat sekeliling, mungkin dia akan melihat banyak pasang mata yang memperhatikannya. Penampilannya terlalu mencolok sehingga tidak dapat diabaikan. Memakai gaun berwarna merah terang dilengkapi kacamata hitam dan topi yang selalu bertengger diatas kepalanya. Ditengah padatnya pejalan kaki yang memakai setelan formal, dia sedikit terlalu mencolok.
"Aku kesana sajalah." putusnya pada akhirnya.
Duan Qing akhirnya memutuskan mengunjungi area pusat perbelanjaan di kota F yang terletak tidak jauh dari sana.
...
"Bagaimana bisa kalian tidak becus hanya menjaga seorang wanita?" teriak seorang laki laki dengan suara lantang. Samar samar urat nadinya terlihat ketika berbicara menandakan laki laki itu sangat marah.
"Maaf pak." sahut mereka serempak.
"Maaf, kalian bilang?" ujar lelaki itu sinis.
"Dapatkan dia sekarang juga, kalau tidak kepalamu yang akan ku gantung didalam sini!" ancam lelaki itu.
"Baik pak." sahut mereka ketakutan, karena mereka tau atasannya tidak akan mengingkari kata katanya jika ia sudah mengatakannya.
Sekelompok orang yang mengenakan setelan hitam itu pun mulai berlari keluar dari gudang kosong bagaikan sekawanan tikus yang ketahuan setelah menghabiskan makanan majikannya. Mereka berlari mengejar sandera yang sedang melarikan diri itu.
"Sial. Aku akan dimarahi habis habisan kalau ketahuan perempuan itu kabur." ucap Chen Nirou kepada dirinya sendiri. Ya, lelaki yang baru saja meluapkan amarahnya tadi adalah Chen Nirou.
Dia menjadi sekretaris sekaligus tangan kanan Lu Yunhan yang membuat ia harus mengurus hal hal seperti ini juga. Untung saja Lu Yunhan cukup pengertian memperkerjakan satu orang lagi di kantornya. Kalau tidak dia mungkin bisa mati mendadak karena kelelahan.
"Aku harus menemukannya sebelum ketahuan oleh Lu Yunhan."
"drrrrt..drrrrt.."
"Apa ini? Jangan bilang manusia batu itu sudah tahu." ujar Chen Nirou ketakutan ketika melihat nama Lu Yunhan yang tertera di layar ponselnya.
"Ha..halo." ucap Chen Nirou tergagap.
"Tangkap dia sekarang juga!" kata suara dingin di seberang telpon.
"Baik bos." kata Chen Nirou ketakutan.
"Bagaimana dia cepat sekali mengetahuinya? Apa dia cenayang?" ujar Chen Nirou bingung.
Tiba tiba saja Chen Nirou merasakan ada hawa dingin di belakangnya "Kenapa aku merasa seperti sedang diawasi." ujar Chen Nirou bergidik.
Sementara itu, di perusahaan Lu Corporation tengah duduk seorang pemuda berusia kurang lebih tiga puluhan. Dia sepertinya sedang mengamati sesuatu terbukti dari matanya yang tidak pernah lepas dari benda elektronik berbentuk persegi empat itu.
"Memang benar pepatah itu. Buah tidak akan jauh jatuh dari pohonnya. Tidak ayah tidak anak, keduanya sama saja. Sama sama licik." gumamnya.
"Apa aku harus melihatnya juga. Aku pikir ini akan menjadi tontonan yang begitu menarik." kata Lu Yunhan tersenyum dingin.
Tok..tok..tok.
"Masuk."
__ADS_1
"Ini dokumen yang harus bapak tanda tangani." ujar seorang wanita yang tengah menyerahkan tumpukan dokumen kepada Lu Yunhan.
Lu Yunhan mengambilnya lalu menganggukkan kepalanya menandakan ia mengerti.
"Baik, kalau begitu saya pergi dulu." ujar wanita itu melangkah meninggalkan ruangan.
Tepat ketika ia berada di ambang pintu, suara Lu Yunhan membuat ia menghentikan langkahnya kembali. "Wei Lan, tunda rapatnya menjadi besok."
"Baik pak." jawabnya hormat. Setelah itu, wanita yang mengenakan kacamata berbingkai hitam itu, melangkah meninggalkan ruangan.
Tak lama setelah Wei Lan pergi, Lu Yunhan juga mengambil jasnya yang tergantung di sandaran kursi, lalu melangkah meninggalkan ruangan.
"CEO mau kemana ya?" ujar salah satu staf ketika melihat Lu Yunhan berjalan ke arah lift.
"Mungkin dia pergi berkencan."
"Tidak mungkin."
"Apanya yang tidak mungkin."
"Hei. Hal yang mustahil dilakukan oleh CEO adalah berkencan. Dia membenci wanita, bagaimana mungkin dia bisa berkencan?" jawab salah satu staf disana.
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Bagaimana kamu tidak tau padahal seluruh isi kantor ini sudah mengetahuinya?"
"Kan aku anak baru disini." jawab Xi Wei, si anak baru.
"Tapi ada satu orang perempuan yang bisa berada di dekat CEO." bisik Hang Jin, staf administrasi.
"Siapa?"
"Nona Wei Lan."
"Kamu ini. Aku juga tahu soal itu."
"Bukankah itu aneh kalau nona Wei Lan satu satunya wanita yang bisa di dekat CEO." ucap Hang Jin penasaran.
"Benar juga." ujar mereka sambil mengangguk anggukkan kepalanya bak ayam mematuk nasi.
"Apa mungkin Bu Wei Lan kekasih rahasia CEO Lu karena itu tidak ada wanita di sekitarnya."
"Tapi tetap saja tidak mungkin. Aku melihat tidak ada yang aneh dengan mereka."
"Bisa saja mereka berakting kan."
"Apakah benar?" tanya mereka bingung.
"Sudah sudah."
__ADS_1
"Mari lanjutkan pekerjaan kita sebelum Bu Wei Lan datang memeriksa nanti."
"Baiklah."
Tanpa mereka sadari percakapan mereka didengar oleh seseorang dari balik pintu. Seseorang itu tersenyum tipis lalu melanjutkan kembali langkahnya.
...
"Kok ramai sekali?" kata Duan Qing heran ketika melihat padat nya orang di depan Grand Mall, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota F.
"Ini acara apa ya?" tanya Jian Qing penasaran kepada salah satu pengunjung disana.
"Ini acara Fans meetingnya Huang Yu." jawabnya sambil kembali berteriak meneriakkan nama Huang Yu.
"Siapa Huang Yu?" ujar Jian Qing bingung.
"Apa?" teriak Jin Ah kaget.
"Kamu nggak tau Huang Yu itu siapa?" ujar Yu Ningxi, salah satu teman Jin Ah yang berdiri di dekatnya.
Jian Qing langsung menggelengkan kepalanya menandakan ia tidak tau.
"Aku heran, bagaimana bisa kamu tidak tau? Mulai dari adik, orang tua, bahkan nenekku saja mengetahuinya. Bagaimana mungkin kamu tidak tahu? Hei, kamu tinggal di belahan bumi mana?" ujar Yu Ningxi heran.
"Tentu saja aku tinggal di bumi yang sama seperti kalian." ujar Jian Qing tidak terima.
"Huang Yu sangat terkenal, bahkan poster posternya saja bertaburan di jalanan. Bagaimana bisa kamu tidak melihatnya?" tanya Jin Ah.
"Mana aku tau." jawab Jian Qing acuh tak acuh. Dia juga baru mulai beradaptasi dengan kota ini, tentu saja dia tidak mengetahuinya.
"Kasih paham Besti! Siapa Huang Yu sebenarnya." kata Yu Ningxi dengan sombong.
"Tentu saja." jawab Jin Ah sambil menepuk dadanya dengan gembira.
"Lihat itu!" kata Jin Ah sambil menunjuk ke sebuah papan iklan yang tidak jauh dari sana. Jian Qing lalu memusatkan pandangannya ke arah papan iklan besar yang berdiri di tepi jalan itu.
"Dia adalah Huang Yu." kata Jin Ah berbinar binar.
"Wajahnya sangat tampan. Dia berbakat hampir dalam semua bidang. Kamu tau, dia juga mendirikan perusahan hiburannya sendiri. Dia sudah begitu hebat di usia yang sangat muda. Dia juga seperti keturunan bangsawan di lihat dari tingkah lakunya yang anggun dan sangat sopan." kata Jin Ah.
"Omo, Lihatlah tubuhnya! Dia sangat sempurna. Jantungku berdegup kencang walaupun hanya menatapnya dari jauh seperti ini. Bagaimana jika melihatnya dari dekat, aku mungkin akan mati karena serangan jantung." Sambung Yu Ningxi berseru gembira.
Sambil menganggukkan kepalanya berulang kali, Jin Ah juga menyetujui perkataan Yu Ningxi dan berkata "Iya, aku juga begitu."
Kedua gadis muda itu terus memandangi papan iklan itu tanpa menyadari Duan Qing sudah pergi.
"Mereka agak berlebihan. Apanya yang hebat tentang Huang Yu itu. Aku lihat dia tidak begitu tampan, wajahnya lebih mendekati cantik sih menurutku. Bukan tipeku sama sekali." gumam Duan Qing.
"Aku mau kemana ya, lagian aku tidak tau kota ini sama sekali. Apa aku pulang saja ya?"
"Sudahlah, aku pulang saja." putus Duan Qing akhirnya. Dia pun berbalik arah dan kembali melangkahkan kakinya ke arah tempat ia diturunkan oleh taksi tadi.
__ADS_1
Di tengah perjalanan tiba tiba saja ada yang membekap Duan Qing dari belakang. Sudah terlambat bagi Jian Qing untuk berteriak karena obat biusnya sudah bekerja lebih dulu.
Kedua orang yang memakai setelan hitam itu pun mulai bergerak dengan pelan lalu mulai menjauh dari kerumunan. Tanpa mereka sadari ada orang yang memperhatikan sejak tadi.