Reinkarnasi Dari Abu

Reinkarnasi Dari Abu
Menghilang


__ADS_3

"Ooh jadi seperti ini kota F." kata perempuan yang memakai gaun merah itu dengan takjub.


"Memang pantas disebut kota paling maju."


"Omo, lihatlah gedung gedung pencakar langit itu. Sangat tinggi. Aku bahkan tidak bisa melihat ujungnya sama sekali." gumamnya seraya melepas kacamata hitamnya.


"Aku haus. Kenapa hari ini sangat panas?" keluh Jian Qing sambil mengipasi dirinya sendiri dengan tangan walaupun itu tidak ampuh sama sekali.


Jian Qing lalu melihat lingkungan di sekitarnya apakah ada toko yang menjual minuman dingin yang bisa memuaskan rasa hausnya.


"Bukankah itu toko es krim?" seru Jian Qing gembira sambil menunjuk bangunan berwarna pink di seberang jalan.


Jian Qing pun berbalik arah dan pergi melangkah kakinya menuju area penyebarangan jalan untuk sampai di toko bernama "Yun's Ice Cream" itu. Karena tokonya berada di seberang jalan tempat Jian Qing berdiri.


"Yaa, bukankah itu Ibu?" kata Jian Qing kaget ketika melihat papan iklan dimana Su Xi yang mengenakan setelan elit serba putih sedang diwawancarai oleh seorang pembawa acara.


Yang membuat Jian Qing kaget bukanlah Su Xi yang ada di papan iklan tapi sikap berwibawa ibunya. Dia tidak percaya bahwa wanita paruh baya yang menangis begitu menyedihkan kemaren adalah wanita yang sama yang ada dipapan iklan itu.


"Lihatlah, seperti bukan ibu sama sekali. Ibu benar benar berbakat dalam bidang akting, aku bahkan tidak bisa tidak percaya dengan apa yang dikatakannya pada pembawa acara itu. Dia menjadi orang yang berbeda dalam wawancara itu." kata Jian Qing dengan heran.


"Huh, sudahlah untuk apa aku pikirkan. Yang penting dia ibuku dan baik padaku." gumam Jian Qing seraya mengenyahkan pikiran tentang Su Xi.


Lampu merah pun menyala bersamaan dengan lampu hijau untuk menyeberang jalan. Jian Qing melangkahkan kakinya dengan senang hati menuju toko es krim di seberang jalan.


"Yes, akhirnya." teriaknya dengan senang setelah berada didepan pintu toko eskrim itu.


"Untung saja ada uang dalam tas pemilik asli." kata Jian Qing sambil menepuk nepuk tas berwarna hitam yang berada dipergelangan tangannya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan diriku lagi dalam situasi menyedihkan. Dimana aku hanya memakai gaun rumah sakit, tanpa alas kaki, dengan wajah yang sangat pucat dan kuyu. Lalu aku tersesat dan ingin kembali ke ke rumah sakit tapi ternyata tidak punya uang untuk membayar ongkos taxi."


"Ah, aku tidak bisa membayangkannya. Situasi macam apa itu. Itu hanya akan ada di drama drama, aku tidak mau mengalami hal seperti itu sendiri." seru Jian Qing.


"Baiklah. Mari ke rencana awal untuk makan es krim." gumamnya lagi.


Bel diatas pintu berbunyi menandakan ada yang datang, seperti robot pegawai itu berbalik secara otomatis dan memandang ke arah pintu seraya mengucapkan "Selamat datang."


"Ya."


"Saya pesen es krim rasa Vanilla dan Coklat ya!" kata Jian Qing kepada perempuan yang mengenakan seragam di depannya.


"Oke, mohon tunggu sebentar."


"Apakah anda ingin makanan penutupnya juga?" kata pegawai toko itu menawarkan.

__ADS_1


"Ya. Aku mau waffle dan kue pie itu juga." kata Jian Qing seraya menunjuk etalase kaca yang ada di samping pegawai toko itu.


"Baiklah."


"Ini."


"Terimakasih." ujar Jian Qing sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada pegawai toko itu.


"Sama sama."


Sementara itu, di rumah sakit dua orang wanita berpakaian perawat sedang menyusuri lorong rumah sakit menuju salah satu kamar pasien berada.


"Oh iya." seru salah satu perawat itu dengan nyaring.


"Ada apa? kamu membuatku kaget saja." sahut salah satu perawat disampingnya.


"Aku lupa menanyakan apakah nona Jian ingin makanan ringan."


"Oalah. Aku pikir ada apa apa." pikirnya lega.


"Oh iya, bagaimana keadaan nona Jian? Aku dengar dia berada di ambang kematian waktu itu."


"Sekarang dia baik baik saja."


"Aku dengar nona Jian adalah anak perempuan satu satunya dari keluarga Jian, karena itu dia sangat dimanjakan dan pasti mengembangkan kepribadian seperti sindrom putri. Orang seperti itu biasanya sangat susah untuk dirawat. Mereka banyak maunya dan cukup pemilih dalam hal makanan. Aigo, kamu pasti sangat kesulitan."


"Tidak. Aku tidak terlalu kesulitan. Memang benar sih dia sedikit manja. Tapi tentang sindrom putri, dia sepertinya juga tidak memilikinya. Aku pikir nona Jian orang yang cukup ramah dan dia juga tidak pilih pilih soal makanan. Dia memakan semua makanan yang aku bawa tanpa pernah memprotes, jadi aku tidak terlalu kesulitan."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Pada awalnya aku juga berpikiran seperti itu. Aku pikir nantinya bakalan kesulitan ketika merawat nona Jian, tapi nyatanya tidak.


"Oh iya, aku pernah melihatnya sekali bersikap manja tapi itu didepan ibunya. Aku pikir itu wajar. Apa salahnya bersikap manja di depan orangtua sendiri ketika sedang sakit. Aku merasa, aku juga pernah melakukan hal seperti itu."


"Memang rumor kadang tidak bisa dipercaya." ucapnya manggut manggut.


"Kamu duluan saja, aku ke kamar nona Jian dulu."


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu."


"Oke."


"Tok tok tok." Wanita berpakaian serba putih itu mengetuk pintu kamar Jian Qing berada, tapi tidak kunjung ada jawaban dari dalam. Dia memberanikan diri masuk untuk memeriksa keadaan Jian Qing.

__ADS_1


"Yah, nona sedang tidur. Apa nanti saja aku menanyakannya?" pikirnya hati hati ketika melihat Jian Qing ditutupi dengan selimut.


"Baiklah. Aku pikir nanti saja, lagipula ini tidak terlalu penting." Perawat itu dengan pelan pergi meninggalkan ruangan lalu menutup pintu kamar Jian Qing.


"Tunggu, kapan nona menjadi gemuk? Aku rasa itu cukup aneh." katanya di tengah jalan.


"Aku harus melihatnya sekali lagi untuk membuktikan apa aku salah lihat." gumam perawat itu sambil bergegas kembali menuju kamar Jian Qing.


"Ternyata benar aku tidak salah lihat, nona menjadi gemuk." katanya sambil memperhatikan bongkahan yang ditutupi selimut itu.


"Itu tidak mungkin. Ada yang mencurigakan disini."


"Nona.. nona.. Aku membawakan kue coklat untukmu."


".."


"Aneh, biasanya dia langsung bangun ketika aku mengatakannya." gumam perawat itu heran.


"Nona Jian.." ujar perawat itu sekali lagi tapi tetap tidak ada jawaban. Dia pun memberanikan diri membuka selimut dan.... ternyata hanya ada bantal guling di dalamnya.


"Kurasa dia mungkin pergi ke taman. Aku akan mengeceknya." hibur perawat itu kepada dirinya sendiri, walaupun dia sudah mulai panik.


Dia harus tetap tenang supaya bisa menemukan Jian Qing, lagipula kejadian ini pasti tidak akan lepas dari tanggung jawabnya.


"Nona Jian.. nona Jian."


"Kenapa tidak ada di taman? Aku sudah mencari di sekeliling rumah sakit tapi tidak juga menemukannya. Kemana dia pergi?" gumamnya frustasi.


"Aku harus melaporkannya ke dokter Chan." kata perawat itu sambil berlari menuju ke ruangan dokter yang bertanggung jawab atas Jian Qing saat ini.


"huh..hah.."


"Apa yang terjadi?" kata dokter Chan ketika melihat perawat Xi masih mengatur nafasnya karena berlari kencang.


"I..itu nona Jian menghilang."


"Apa?"


"Kapan dia menghilang?" ujar Dokter Chan cemas. Dokter paruh baya itu bahkan lupa memakai jas dokternya karena tergesa gesa.


"Ayo ke kamarnya dulu." katanya kepada perawat disampingnya.


"Baik dokter."

__ADS_1


__ADS_2