
Pukul 17.45, langit mulai menunjukkan tanda tanda matahari pulang ke peraduannya. Teriknya matahari bak bisa membakar kulit itu sekarang mulai tergantikan dengan dinginnya hawa malam. Warna biru yang senantiasa menghiasi angkasa sepanjang hari sekarang tergantikan dengan indahnya warna orange senja.
Manusia mulai berpadatan di jalanan untuk kembali ke rumahnya masing masing setelah sibuk mencari pundi pundi rupiah sepanjang hari. Kerlap kerlip lampu kendaraan mulai mewarnai salah satu jalan raya di kota F itu.
Sementara itu, di salah satu kamar hotel terdekat di seberang grand mall, ada seorang gadis yang masih saja memejamkan matanya. Langit sudah mulai menjadi kelabu membuat kota itu menjadi gelap gulita. Untuk mengatasinya lampu lampu mulai dihidupkan untuk menerangi kota yang dipadati penduduk itu.
Tiba tiba saja ketokan pintu terdengar dari luar membuat gadis cantik yang masih memejamkan mata itu terpaksa membuka matanya.
"Siapa?" kata Duan Qing dengan nada setengah bangun. Sekuat tenaga dia merangkak dari tempat tidur untuk melihat siapa yang mengetok pintunya.
"Ceklek." bunyi suara pintu terbuka.
"Siapa?" tanya Duan Qing dengan mata setengah tertutup.
"Nona, apakah anda sudah bangun?" tanya wanita berseragam resepsionis itu dengan ramah.
"Hmm." jawab Duan Qing lemah.
"Sebentar, ini bukan suara ibu." batin Duan Qing.
"Tunggu, kamu siapa?" tanya Duan Qing heran ketika melihat orang didepannya sangat asing. Memakai pakaian formal berwarna hitam dengan garis merah, tidak lupa dilengkapi dengan senyum profesionalnya.
Sebelum perempuan berbaju hitam itu menjawab pertanyaan Duan Qing, Duan Qing terlebih dahulu memotongnya "Tunggu, ini dimana?" tanya Duan Qing bingung melihat lingkungan di sekitarnya.
"Nona, anda sekarang berada di salah satu kamar hotel kami." jawab resepsionis wanita itu.
"Ho..hotel?" ujar Duan Qing syok.
"Ya."
"Hotel mana?"
"Hotel Sky in. Hotel kami terletak di seberang jalan Grand Mall kota F."
"Syukurlah." balas Duan Qing lega.
Tak pikir, aku mati dan bereinkarnasi lagi karena mereka menyuntikkan aku semacam sesuatu. Hah, membuatku takut saja. Untung saja mereka hanya membuatku pingsan.
"Terus siapa yang membawaku kesini?" tanya Duan Qing.
__ADS_1
"Teman nona. Dia juga berpesan kepada saya untuk membangunkan nona jam delapan malam." jawab resepsionis itu ramah.
"Tunggu, tadi kak bilang jam berapa?"
"Jam delapan malam."
"Apaa.." teriak Duan Qing nyaring.
"Gimana ini? Ibu pasti udah panik nyariin aku?" gumam Duan Qing mondar mandir.
Duan Qing mulai mencari tas tangan yang dibawanya tadi untuk pulang, tapi tidak kunjung menemukannya, "Tas saya dimana ya kak?" tanya Duan Qing.
"Di meja saya. Teman anda menitipkannya kepada kami tadi sampai anda mengambilnya kembali. Sebentar ya, saya ambilkan." ujar resepsionis itu melangkah meninggalkan Duan Qing.
"Saya ikut." kata Duan Qing menyusul resepsionis itu dari belakang.
"Ini." kata resepsionis sambil menyerahkan tas tangan berlogo Channel itu kepada Duan Qing.
Duan Qing lalu menerimanya dan mengambil sejumlah uang tunai yang berada di dalam tasnya.
"Berapa kak?" kata Duan Qing sambil meletakkan beberapa lembar uang kertas di meja resepsionis itu.
"Ouh gitu." balas Duan Qing.
"Maksudnya ini apa? Habis nyulik, mereka lalu lepasin aku. Biasanya kan aku bisa dipake buat meras keluargaku, lagipula penampilanku juga terlihat seperti orang kaya. Ini malah ninggalin aku di hotel." batin Duan Qing bingung
"Permisi kak, boleh pinjam telponnya? Saya nggak bawa hp soalnya." kata Duan Qing malu.
"Silahkan nona." balas resepsionis sambil menyerahkan telepon berwarna putih kepada Duan Qing.
"Untung aja aku udah hafalin nomor hpku. Semoga aja ibu lagi megang HPku sekarang."
"tut..tut.." bunyi suara panggilan diseberang sana.
**
Di rumah sakit, ada sepasang suami istri yang sedang duduk di salah satu bangsal pasien. Raut wajah keduanya tampak sangat cemas seperti menunggu kepulangan seseorang terbukti dari pandangan mereka yang tidak lepas dari pintu.
"Ini udah malam Yah, tapi Qing er belum pulang juga." ujar Su Xi khawatir.
__ADS_1
"Sabar Bu, mungkin aja Qing er dalam perjalanan pulang." hibur Duan Ye kepada Su Xi, walaupun sebenarnya di dalam ia juga cemas seperti Su Xi.
"Ayah, jangan jangan terjadi apa apa sama Qing er di jalan." kata Su Xi ketakutan.
"Hush.. nggak boleh ngomong gitu!" tegur Duan Ye.
"Iya yah. Aku takut aja terjadi apa apa sama Qing er." balas Su Xi khawatir.
"Coba ditelpon aja Bu!" saran Duan Ye.
"Kan hp Qing er sama Ibu." balas Su Xi.
"Iya ya. Sekarang Hp Qing er mana?"
"Ini." jawab Su Xi sambil mengeluarkan Handphone berwarna biru muda dari tasnya.
"Kita tunggu aja dulu Bu. Barangkali Qing er nanti nelpon ke hp ini. Kalau misalnya Qing er nggak balik juga sampe jam 8, ayah bakal laporin ke kantor polisi."
"Baik yah."
Enam puluh menit sudah berlalu, jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan. Duan Ye sepertinya tidak bisa bersabar lagi, dia langsung saja beranjak dari kursinya dan berkata "Ayah, ke kantor polisi dulu ya."
"Ya."
Hati Duan Ye sudah tak tenang lagi karena dihantui pikiran buruk jika terjadi sesuatu dengan Duan Qing. Dia tidak sanggup harus menerima berita buruk tentang putrinya lagi untuk yang kedua kalinya.
Tiba tiba saja suara telpon berdering terdengar dari atas kasur, tempat handphone Duan Qing berada. Suara itu terdengar oleh Duan Ye membuat ia sontak menghentikan langkahnya dan kembali berbalik arah menuju Su Xi.
"drrrrtttttt.." bunyi nada dering handphone Duan Qing, disana juga tertera nomor asing di layar handphonenya.
"Angkat aja!" kata Duan Ye setelah melihat nomor yang ada di layar utama handphone Duan Qing.
"Hmm.." jawab Su Xi sambil menganggukkan kepalanya.
Dengan gugup, Su Xi berkata "Halo.."
"Halo."
"Ini bukan Qing er, yah." kata Su Xi lemah.
__ADS_1