
"Itu Qing er?" tanya Duan Ye kepada Su Xi dengan penuh harap.
"....." Su Xi menggelengkan kepalanya.
"Halo, Bu." ucap resepsionis lagi ketika tidak juga mendapat respon dari penerima panggilan.
"Iya..." jawab Su Xi.
"Siapa yang ngangkat Kak?" Tanya Duan Qing pelan. Dia tidak berani berbicara lebih dulu, kalau misalnya Duan Ye lah yang mengangkat telponnya.
"Sepertinya ibu anda." jawab Resepsionis sambil menyerahkan telpon genggam berwarna putih itu kepada Duan Qing
"Ha..halo." kata Duan Qing gugup.
"Qing er." kata Su Xi gembira, tanpa sadar dia menaikkan nada suaranya yang salah diartikan oleh Duan Qing sebagai amarah.
"I..iya bu." ujar Duan Qing pelan, takut dimarahi oleh Su Xi.
Duan Ye yang dari tadi menjadi penonton, sepertinya tidak tahan lagi ingin berbicara dengan Duan Qing, dia langsung saja mengambil handpone yang berada di genggaman Su Xi dan berkata "Sekarang kamu dimana?" tanya Duan Ye tegas.
"Hotel Sky In."
"Ayah jemput sekarang. Kamu diam aja disana, nggak usah kemana mana!" kata Duan Ye lalu mematikan telponnya.
"Ayo Bu!" ajak Duan Ye ketika melihat Su Xi masih duduk ditempatnya.
"Hah, iya." jawab Su Xi lalu mengikuti Duan Ye ke parkiran mobil.
__ADS_1
"Qing er sekarang dimana?" tanya Su Xi sambil memasang sabuk pengamannya.
"Hotel Sky In." jawab Duan Ye lalu menghidupkan mesin mobilnya.
Mobil yang dikendarai oleh kepala keluarga Duan itu pun melaju kencang, membelah jalanan di ibukota.
....
"Ayah sama ibu keknya marah banget sama aku." gumam Duan Qing sedih.
Resepsionis yang tanpa sengaja memperhatikan Duan Qing dari tadi, tidak tega melihat raut wajah muram Duan Qing. Dia mengatakan "Orangtua nona bukannya marah terhadap nona, mereka hanya khawatir jika terjadi apa apa dengan nona."
"Tapi tadi ayah bentak aku." bantah Duan Qing.
"Mungkin dia tidak sengaja." hiburnya lagi.
"Qing er." panggil Su Xi dari kejauhan ketika melihat perempuan berbaju merah yang berdiri di dekat meja.
"Ibu." balas Duan Qing gembira. Matanya berbinar ketika melihat orang yang dipanggil ibunya itu selama ini. Dia berlari lalu menghamburkan tubuhnya ke pelukan Su Xi.
"Kamu baik baik saja kan?" tanya Su Xi khawatir sambil memeriksa Duan Qing dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Aku baik baik aja kok." jawab Duan Qing sambil memutar mutar badannya untuk menunjukkan kepada Su Xi.
"Syukurlah, ibu lega mendengarnya." ujar Su Xi lalu memeluk erat Duan Qing sekali lagi.
"Ehm.. Ayah." panggil Duan Qing pelan ketika melihat Duan Ye masih memasang wajah datarnya.
__ADS_1
"..." Su Xi menyikut lengan Duan Ye, supaya menjawab panggilan putrinya itu.
"Hmm.." jawab Duan Ye asal-asalan lalu membuang muka dari Duan Qing.
"Ayah." tegur Su Xi.
"......."
"Terserah ayah saja." ujar Su Xi cuek.
"Jangan dimasukkan ke hati perilaku pak Duan ya, dia hanya marah karena Qing er pergi tanpa sepengetahuan kami." kata Su Xi.
"Maaf ya Bu." ujar Duan Qing menyesal.
"Iya, tapi jangan dilakukan lagi ya Nak." kata Su Xi mengingatkan.
"Iya Bu." kata Duan Qing patuh.
"Pak Duan." sapa resepsionis dengan hormat.
"...." Duan Ye menganggukkan kepalanya.
"Kok dia bisa tau ayah?" gumam Duan Qing pelan, tapi ternyata di dengar oleh Su Xi yang berada di samping Duan Qing dari tadi.
"Kamu lupa siapa ayah mu, Qing er." canda Su Xi.
"Oh iya, bagaimana aku bisa lupa kalau pemilik asli anak dari salah satu keluarga terkaya di kota F. Tidaklah aneh kalau resepsionis itu mengenalnya, karena wajah ayah terus muncul di koran atau televisi.
__ADS_1