
"Tidak perlu terburu buru, aku masih berusaha meyakinkannya." ujar Lu Yunhan.
"Hah, gadis itu belum mau menikah denganmu." kata Dongfang Yu berseru kaget.
"Ehm.." gumam Lu Yunhan sambil menganggukkan kepalanya bak ayam mematuk nasi.
"Wahhh, gadis itu benar benar hebat. Dia bahkan tidak tertarik menikah dengan cucuku sama sekali." ucap Dongfang Yu berseru kagum.
"Han'er, apakah dia dari keluarga kaya raya hingga tidak tertarik menikah denganmu?"
"Atau mungkin dia tidak mau menikahimu karena sudah tau sifat aslimu?"
"Han'er, katakan yang sebenarnya?" ujar Dongfang Yu geregetan ingin tahu.
"......"
"Katakan padaku, siapa nama gadis itu." kata Dongfang Yu sambil memegang lengan Lu Yunhan dengan penuh harap.
"Tidak akan kuberi tahu." ujarnya lalu melepaskan tangan Dongfang Yu yang melilit lengannya. Risih, itu yang Lu Yunhan rasakan ketika orang lain menyentuh anggota tubuhnya walaupun itu kakeknya sendiri.
__ADS_1
Tidak peduli dengan sikap cucunya yang selalu menghindar dari sentuhannya, Dongfang Yu dengan bingung bertanya lagi "Kenapa?"
Lu Yunhan langsung gelagapan, susah payah dia mencari alasan, lalu dia menemukan kosakata yang sering disebut sepupunya itu ketika berbicara di kantor, tapi dia lupa. "Biar.. apa namanya?" kata Lu Yunhan sambil merentangkan tangannya seperti yang di lakukan Chen Nirou ketika menyebut kata itu.
"Hah, apa?" ujar Dongfang Yu bingung dengan kelakuan cucunya. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena berusaha memahami maksud cucunya itu.
"Aaa.. kakek tau. Surprise kan?" tebak Dongfang Yu gembira.
"....." Lu Yunhan menganggukkan kepalanya menandakan dia menyetujui apa yang di katakan Dongfang Yu.
"Baiklah.. baiklah, kakek tidak akan bertanya lagi. Biarlah menjadi rahasia." kata Dongfang Yu berseru senang.
Pak tua itu terlalu senang bahwa cucunya mempunyai calon istri sampai mempercayai semua perkataan cucunya. Hah, malang sekali.
Merasa bersalah karena membohongi kakeknya, Lu Yunhan merasa tidak bisa berlama lama lagi. Dia cepat-cepat beranjak dari tempat duduknya, sebelum kakeknya bertanya yang lebih aneh lagi.
"Kakek, aku pergi dulu ya. Aku lupa, masih ada urusan kantor yang harus ku selesaikan." kata Lu Yunhan berdiri sambil mengambil jasnya yang tergantung di senderan sofa.
"Baiklah, pergi sana." ujar Dongfang Yu bersemangat sambil mendorong Lu Yunhan pergi ke depan pintu.
__ADS_1
Lu Yunhan dengan bingung melihat ke tangan kakeknya yang mendorongnya pergi. Aneh sekali pak tua ini menyuruhnya cepat-cepat pergi, biasanya pak tua ini akan menahannya dengan berbagai macam cara. Mulai dari menyuruhnya menemaninya minum, membetulkan atap genteng, bahkan pak tua ini sampai berpura-pura sakit supaya bisa menahannya lebih lama di rumahnya.
"Memang tidak sia-sia aku menciptakan calon istri ilusi ini, kakek bahkan mempercayai semua perkataanku. Sekarang tinggal mewujudkan apa yang menjadi ilusi ini menjadi nyata." batin Lu Yunhan tersenyum senang.
"Dah." kata Dongfang Yu sambil melambaikan tangannya kepada Lu Yunhan yang berada di dalam mobil.
"Jangan lupa cepat kabari kakek kalau dia sudah setuju." teriak Dongfang Yu lagi.
"......"Lu Yunhan menganggukkan kepalanya, lalu menaikkan kaca mobilnya ke atas supaya kakeknya berhenti mengoceh lagi.
"Tiit..tit.." bunyi klakson mobil Lu Yunhan. Lalu Rolls-Royce berwarna hitam itu melaju keluar dari gerbang kediaman Dongfang.
"Qupei, ayo kita pergi memancing nanti sore. Langit hari ini sangat cerah, sangat cocok untuk memancing." ujar Dongfang Yu sambil memandangi langit.
Qupei dengan bingung memandang langit yang mulai berwarna kelabu itu, lalu bolak balik dari wajah Dongfang Yu lalu ke arah langit.. Batinnya seakan memprotes ingin mengatakan "Tuan tua, Langit yang mana kamu bilang hari ini sangat cerah, ini mungkin sudah mau turun hujan."
Tapi Qupei tidak mengutarakannya, dia dengan patuh menjawab "Baik, tuan tua."
"Mungkin saja langit di hatinya hari ini sangat cerah, karena tuan muda sudah mempunyai calon istri." batin Qupei.
__ADS_1