Reinkarnasi Dari Abu

Reinkarnasi Dari Abu
BELUM BOLEH PULANG


__ADS_3

"Kenapa lama sekali?" keluh Su Xi ketika melihat Xi Bo, sopir pribadinya berlari sambil membawa paper bag berwarna hitam padanya.


Sambil menyerahkan sup kepada Su Xi, Xi bo dengan nada menyesal mengatakan "Maaf nyonya. Tadi ada kecelakaan kecil di dapur, jadi kepala chef terpaksa membuat sup untuk nona muda lagi."


"Tidak apa apa." sahut Su Xi dengan murah hati. Su Xi tidak akan marah hanya karena hal sepele seperti itu. Lagipula ia percaya kepala chef tidak sengaja melakukannya.


Setelah melaksanakan tugasnya Xi Bo pamit pergi ke kediaman keluarga Duan sedangkan Su Xi kembali ke bangsal Duan Qing.


"Ceklek." Suara pintu terbuka sontak membuat Duan Qing dan Duan Ye menghentikan percakapannya. Mereka secara bersamaan menoleh ke arah pintu yang terbuka.


Disana Su Xi berjalan dengan senyuman di wajahnya sambil menenteng paperbag berwarna hitam.


"Apa itu?" tanya Duan Ye penasaran.


"Sup ayam buat Qing er." jawab Su Xi. Dia lalu membuka tutup wadahnya dan menyerahkan sendok kepada Duan Qing. Setelah itu, dia menghampiri Duan Ye yang sedang duduk di sofa.


"Hah.. panas." kata Duan Qing ketika ia merasakan lidahnya melepuh.


Su Xi yang melihatnya berlari menyodorkan air putih kepada Duan Qing. "Ada apa denganmu? Kenapa tidak diperiksa dulu kalau supnya masih panas?" kata Su Xi dengan marah. Tapi jika diperhatikan dibalik nadanya yang marah ada rasa khawatir yang terpancar dari matanya.


"Ma..maaf." jawab Duan Qing dengan kikuk.


Melihat kepala Duan Qing yang menunduk, membuat Su Xi merasakan sakit hati. Jadi ia melembutkan suaranya. "Tidak usah meminta maaf kepada ibu. Ibu hanya khawatir kamu kenapa napa, jadinya ibu marah."


"Iya bu." jawab Duan Qing sambil menganggukkan kepalanya. Dia juga melihat kekhawatiran di mata Su Xi ketika menyodorkan segelas air putih padanya. Kelembutan ini membuat ia merasa hangat. Sudah lama tidak ada yang merawatnya seperti ini, membuat ia sementara merasa bingung.


"Ayo diminum lagi supnya. Ini udah nggak panas." kata Su Xi sambil menyerahkan semangkok sup kepada Duan Qing.


"Iya bu." jawab Duan Qing sambil menerimanya.


Duan Qing lalu meminum supnya secara perlahan. Ruangan itu hening tapi memancarkan suasana yang hangat. Su Xi memandangi Duan Qing dengan penuh cinta keibuan. Walaupun mereka hanya bertemu secara singkat, rasanya tidak sulit bagi Su Xi untuk menyayanginya.


Duan Qing sangat imut bahkan sedang makan. Ketika Duan Qing makan, ia sesekali akan melihat ke arah Su Xi sambil tersenyum. Matanya melengkung seperti bulan sabit membuat Su Xi ikutan tersenyum. Hanya dengan melihatnya makan membuat Su Xi dalam suasana hati yang baik.


Tidak seperti Duan Qing, Qing er susah sekali kalau disuruh minum sup ayam. Dia harus dipaksa dulu baru mau makan, padahal sup ayam baik buat kesehatannya tapi tetap saja dia menolak. Sedangkan Duan Qing dia tidak menolak, dia makan dengan patuh membuat Su Xi merasa senang. Memang betul kata orang, anak yang patuh inilah yang diinginkan orang tua.

__ADS_1


"Ini Bu." kata Duan Qing menyerahkan mangkuk kosong kepada Su Xi, yang diterima Su Xi dengan senang hati.


"Anak baik." kata Su Xi sambil mengelus rambut Duan Qing dengan pelan. Su Xi dalam suasana hati yang baik ketika melihat mangkuk kosong putrinya. Tidak ada orang tua yang tidak bahagia ketika melihat anaknya makan dengan lahap. Itulah yang dirasakan Duan Qing sekarang.


"Ibu, kapan aku pulang?" kata Duan Qing. Dia tidak ingin terus tinggal di rumah sakit lagi. Bau disinfektan membuatnya muak. Duan Qing juga ingin sekali pulang melihat rumah pemilik asli.


"Sebentar ya, ibu tanyain ke dokter." jawab Su Xi. Dia pun berjalan ke arah pintu untuk memanggil dokter ke bangsal. Kebetulan dokter juga belum memeriksa kondisi Duan Qing semenjak ia bangun, jadi sekalian saja Su Xi menanyakan kapan Duan Qing diberhentikan.


"Biar ayah saja." ujar Duan Ye menghalangi Su Xi yang sedang menuju pintu keluar.


"Baiklah." balas Su Xi. Dia senang Duan Ye mengajukan diri, karena Su Xi juga masih tidak ingin berjauhan dengan putrinya walaupun hanya sebentar. Rasanya sangat bahagia hanya dengan melihat wajah Duan Qing, seperti dia baru lahir ke dunia ini. Masih polos dan tidak ternoda, membuat Su Xi tidak bosan dan ingin terus menempel padanya. Mata Duan Qing yang seperti bintang bila menatapnya, membuat hati Su Xi meleleh menjadi genangan air.


"Makanan apa yang kamu suka?" tanya Su Xi dengan lembut.


"Aku baik baik saja dengan apa pun, Bu." balasnya.


Mendengar jawabannya, mata Su Xi semakin hangat. Dia senang dengan anak yang tidak pilih pilih dengan makanan, tapi sayangnya Qing er malah kebalikannya.


"Qing er, apakah kamu sudah tau Fu Yunsheng." ujar Su Xi dengan hati hati. Hal pertama yang harus dilakukan Su Xi adalah menjauhkan Duan Qing dari Fu Yunsheng. Jangan sampai untuk kedua kalinya, putrinya jatuh cinta dengan Fu Yunsheng, serigala itu.


"Tidak lagi sekarang. Apakah kamu lupa tadi kamu yang meminta memutuskan pertunangan?"


"Oh iya Bu." balas Duan Qing sambil nyengir.


"Itu keputusan yang bagus untuk memutuskan pertunangan dengan serigala itu." puji Su Xi.


"Siapa yang serigala, Bu?" jawab Su Xi bingung.


"Ups." Su Xi keceplosan mengatakan julukan si brengsek yang menculik putrinya. Hancur sudah citra Su Xi sebagai ibu yang baik hati di depan Duan Qing.


Dengan gagap Su Xi mengatakan "I..itu Fu Yunsheng. Ibu tadi salah ngomong menyebutnya serigala."


"Ibu memang betul kok, menyebutnya serigala." jawab Su Xi sambil tertawa. Ibunya sangat imut ketika menyebut Fu Yunsheng Serigala. Memang ada benarnya Fu Yunsheng di sebut serigala, Serigala bermata putih. Orang yang tidak tau malu.


"Ha..ha..ha.. benarkah?" balas Su Xi cengengesan.

__ADS_1


Duan Qing menjawab dengan anggukan. Su Xi pun tertawa melihat persetujuan putrinya. Rasanya sangat senang ketika Duan Qing memihaknya. Dulu Qing er selalu menentang perkataannya bila ia memperingatkan tentang Fu Yunsheng, membuatnya merasa sedih. Jauh di lubuk hatinya, Su Xi masih berharap putrinya lebih memihaknya ketimbang orang luar.


Tiba tiba dokter datang disusul Duan Ye yang mengikutinya dari belakang.


"Permisi."


"Oh iya, silahkan dokter." Su Xi beranjak dari tempat duduknya, membiarkan dokter memeriksa Duan Qing.


"Kondisi pasien sekarang sudah membaik. Hindari makanan yang pedas dan berlemak. Suasana hati pasien juga terus dijaga, itu dapat mempengaruhi kondisi pasien. Obatnya sudah saya resepkan, jangan lupa diminum." kata dokter sambil memasukkan kembali stetoskopnya ke saku jasnya.


Su Xi mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan dokter. Kalau misalnya ada buku dan pena dihadapannya saat ini, mungkin dia akan segera mencatatnya. Lain dengan Duan Ye, wajahnya acuh tak acuh ketika mendengar penjelasan dokter, tapi tidak dengan tubuhnya. Duan Ye berangsur angsur mendekat ke tempat tidur Duan Qing supaya suara dokter terdengar lebih jelas olehnya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu."


Saat dokter hendak melangkah meninggalkan ruangan, tapi dihentikan oleh suara Duan Qing yang memanggilnya dari belakang.


"Dokter, kapan saya boleh pulang." kata Duan Qing dengan keras. Sontak Su Xi dan Duan Ye memelototinya bersamaan. Matanya seolah mengungkapkan "Apa yang kamu lakukan?"


Duan Qing hanya mengacuhkannya, dia memandang dokter dengan penuh harap. Matanya seolah mengatakan "Jika kamu tidak memberikan jawaban yang ku inginkan, air mata ini langsung terjun ke bawah."


Dokter dengan bingung melihat keluarga yang beranggotakan tiga orang itu. Semua memandangnya secara bersamaan dengan berbagai macam ekspresi. Akhirnya dokter mengatakan yang sebenarnya "Kamu belum boleh pulang. Kondisi kamu masih dipantau lebih lanjut, jadi tinggallah dirumah sakit beberapa hari lagi."


Duan Qing menghela napas pasrah mendengarkan perkataan dokter. Hilang sudah semangatnya karena harus tinggal dirumah sakit beberapa hari lagi.


Melihat putrinya bersedih, Su Xi tidak tega untuk bersorak setelah mendengar ucapan dokter. Dia dengan cepat bergegas ke sisi Duan Qing untuk menghiburnya "Tidak apa apa Qing er, nanti ibu akan disini setiap hari untuk menemani kamu."


"Apa mau ibu bawain kaset film kamu." tawar Su Xi ketika melihat Duan Qing masih merajuk.


"Bukan itu Bu, aku bosan tinggal di tempat tidur setiap hari."


"Ooh karena itu." ujar Su Xi lega. Lalu dia teringat ada taman di samping rumah sakit. "Bagaimana kalau ibu mengajakmu berjalan jalan ke luar?"


"Benarkah?" mata Duan Qing berbinar mendengar perkataan Su Xi.


Melihat mata putrinya yang seperti bintang, Su Xi mengatakan "Tentu saja. Ada taman di samping rumah sakit ini, jadi Ibu akan mengajakmu kesana. Tapi tidak sekarang, kondisimu masih lemah saat ini."

__ADS_1


"Baiklah." kata Duan Qing. Dia membenarkan perkataan Su Xi karena dia juga merasa tubuhnya sangat lemah saat ini.


__ADS_2