
Senang, Sedih, cemas, itu yang dapat menggambarkan perasaan Duan Qing. Senang karena akan menjadi putri mereka. Sedih karena mereka mungkin menganggapnya hanya sebagai pengganti.
Tapi mau bagaimana lagi, inilah jalan satu satunya untuk mencapai tujuannya. Ia membutuhkan identitas pemilik asli untuk menekan keluarga Jian. Tidak peduli orang tua pemilik asli akan menyayanginya atau bukan, Duan Qing harus memegang teguh identitas sebagai putri satu satunya keluarga Duan.
Keluarga Jian memang termasuk yang paling berkuasa di kota D. Tapi jika dimasukkan ke dalam lingkaran sosial, kota D tidak apa apanya dibandingkan dengan kota F. Lagipula pemilik asli satu satunya anak perempuan yang sah dari keluarga Duan dan Su. Karena faktor itulah pemilik asli mengembangkan kepribadian sindrom putri.
Di kelilingi oleh banyak orang memanjakannya membuat ia menjadi manja, apalagi pemilik asli menderita penyakit jantung membuat keluarganya tertekan sekaligus makin menyayanginya. Jian Qing tidak akan rugi jika menjadi pengganti pemilik asli.
"Aku mau." kata Duan Qing sambil menganggukkan kepalanya dengan ringan.
Su Xi sangat bahagia membuat ia refleks memeluk Duan Qing dengan erat. Sambil memeluknya Su Xi mengucapkan terima kasih.
Mendengar ucapan terima kasih Su Xi membuat Duan Qing merasa bersalah. Seharusnya ia yang mengucapkan terima kasih karena bersedia menerimanya sebagai putri mereka.
Beberapa menit berlalu, Su Xi masih belum melepaskannya membuat ia tidak bisa bernafas. Jadi Duan Qing dengan canggung berkata "Ibu, bisakah kamu melepaskan pelukannya dulu!"
"Oh iya, maafkan Ibu." ujar Su Xi dengan malu.
"Tidak apa apa, aku mengerti."
Suasana hening kembali membuat Duan Qing merasa canggung. Ia ingin memulai percakapan dengan Duan Ye tapi tidak tau harus memulainya dari mana. Su Xi juga sudah keluar sepuluh menit yang lalu untuk menelpon supir karena makanannya belum juga sampai. Meninggalkan ia dengan Duan Ye sendirian di ruangan yang sepi ini.
Akhirnya, Duan Ye yang dulu memecah keheningan. "Berapa umurmu sekarang?"
__ADS_1
"Sembilan belas tahun."
Duan Ye menghela nafas lega. Syukurlah dia seumuran dengan putri mereka walaupun ia masih lebih muda satu tahun. Jika umurnya seumuran dengannya, tidak mungkin ia bisa bersikap sebagai seorang ayah. Ini salahnya tidak menanyakan identitas nya lebih lengkap sebelum mengangkatnya sebagai putri mereka.
Duan Ye mulai mengajukan pertanyaan satu persatu dan dijawab oleh Duan Qing dengan senang hati. Seperti menginterogasi tahanan bedanya sang tahanan menjawab dengan bahagia. Begitulah situasi antara Duan Ye dan Duan Qing sekarang.
Sampai pertanyaan Duan Ye mengenai orang tuanya. Itu membuat Duan Qing sangat sedih. Duan Ye menanyakan apakah ia tidak ingin kembali ke keluarganya. Hah, Hal itu membuatnya ingin tertawa. Mungkin mereka sedang bersenang senang setelah mendengar kabar kematiannya.
Pada saat yang sama di salah satu klub terbesar di kota D, ada seorang ibu dan anak tengah berpesta. Mereka sedang duduk di salah satu sofa kulit yang tersedia disana. Makanan dan minuman mewah tergeletak di depannya, sesekali mereka mengobrol dengan riang lalu tiba tiba tertawa terbahak bahak. Sepertinya mereka dalam suasana hati yang baik, entah apa yang mereka bicarakan tapi yang pasti diselingi dengan tawa.
"Ibu, akhirnya kau mengajakku bersenang senang. Aku lelah terus berlutut di depan peti mati perempuan itu sambil berakting sebagai saudari yang baik." ujar salah satu perempuan yang duduk di sofa.
"Maafkan ibu membuatmu menderita." katanya dengan menyesal, lalu sedetik kemudian dia gembira lagi dan mengatakan "Tapi sekarang kamu tenang saja perempuan itu sudah mati. Kita tidak usah berakting lagi memerankan ibu dan saudari yang baik hati."
"Warisan itu apakah sudah menjadi milik kita?" tanya Jian Yu kepada Qian Rou, ibunya.
"Sudah. Yang memegang saham terbanyak di perusahan Gu sekarang adalah ayahmu. " balasnya dengan tenang.
"Berarti tidak lama perusahaan Gu akan bergabung dengan perusahaan ayah."
Sambil meneguk minumannya, Qian Rou mengatakan "Ayahmu sedang berusaha melakukan itu. Lagipula paman perempuan itu masih ada dan dia memegang saham terbanyak kedua setelah ayahmu. Ini akan sedikit sulit. Dia juga sudah mulai curiga dengan kematian keponakannya. Kita harus waspada, jangan sampai laki laki itu menemukan saudara perempuan dan keponakannya terbunuh oleh kita." ujar Qian Rou mengingatkan.
"Bagaimana kalau kita membunuhnya juga seperti perempuan itu?"
__ADS_1
"Tidak bisa. Para pemegang saham akan curiga dengan kematiannya, juga lelaki itu mendapat dukungan penuh dari Grup Zou, yaitu istrinya. Kita tidak bisa gegabah langsung melenyapkannya. Kematiannya hanya menambahkan masalah bagi kita."
Setelah mendengar perkataan ibunya, Jian Yu mengangguk seolah ia mengerti, padahal tidak. Yang ada di pikirannya hanyalah ia akan menjadi pewaris kaya. Semua laki laki akan bertekuk lutut padanya. Dia akan dipuja oleh banyak orang dan teman temannya akan sangat iri padanya. Membayangkannya saja membuat ia pusing karena kebahagiaan.
Melihat putrinya tersenyum senyum sendiri, Qian Rou sudah tau penyebabnya. Pasti ia sedang membayangkan menjadi ahli waris kaya raya. Tapi biarkan saja, putrinya sudah lama menderita, terus berakting sebagai saudari perempuan yang baik terhadap perempuan menjijikkan itu membuatnya mual.
Oh iya, perempuan itu sudah mati sekarang, bahkan mayatnya tidak lengkap membuat ia sangat bahagia.
Perempuan itu sekarang sudah lenyap jadi putrinya yang akan mewarisi kekayaan perempuan itu. Sebentar lagi yang dibayangkan Jian Yu, juga tak lama lagi akan terwujud, tinggal menunggu waktunya saja. Ia yakin semuanya, tak lama lagi akan berada di dalam genggamannya.
"Bu." kata Jian Yu dengan keras. Membuat Qian Rou tersadar dari lamunannya.
Ia menoleh ke arah Jian Yu sambil berkata "Apa?"
"Ayo kita ke panggung!" ujar Jian Yu dengan suara nyaring. Musik berbunyi sangat memekakkan telinga membuat Jian Yu harus berbicara dengan keras.
"Oke." jawab Qian Rou dengan gembira.
Qian Rou juga sudah lama tidak bersenang senang semenjak ia menyusun rencana untuk melenyapkan anak haram itu. Ia pikir rencananya tidak akan berjalan dengan mulus karena anak itu sudah mulai curiga dengannya belakangan ini. Hah, tapi anak itu masih saja sangat naif berpikir semua orang akan baik padanya.
Seperti ibunya dia juga sangat bodoh. Dia dengan mudahnya percaya apa yang dikatakannya. Tidak mungkin seorang mantan kekasih suami akan bersahabat baik dengan istri sahnya. Mungkin saja ia tidak sabar menunggunya untuk mati dan mengambil tempatnya, contohnya saja dirinya sendiri.
Pasangan ibu dan anak itu pergi ke atas panggung untuk bergabung menari dengan yang lainnya. Mereka menari dengan lincah seolah olah mereka sudah melakukannya berkali kali. Tentu saja mereka menari dengan sangat baik, duo ibu dan anak itu seringkali pergi ke klub sampai baristanya sudah kenal akrab dengan mereka.
__ADS_1