
"Ada apa Yah?" tanya Duan Qing.
"Itu..itu.." kata Duan Ye tergagap. Tidak disangka kepala keluarga Duan yang terkenal dengan kecerdasan dan kepandaiannya itu mendadak menjadi bodoh di depan putrinya sendiri.
Su Xi melihat tingkah canggung Duan Qing menjadi gemas sendiri, dia langsung saja mendorong badan Duan Ye yang membuat jarak Duan Ye dan Duan Qing menjadi dekat.
Setelah itu Su Xi bergegas masuk ke mobil karena tidak ingin melihat kecanggungan ayah dan anak itu. Dia bisa emosi terus-terusan jika melihat sikap suami dan putrinya itu. Lagipula dia sudah membantu sebisa mungkin, terserah bagaimana Duan Ye melanjutkannya.
"Aaah." kaget Duan Ye akibat di dorong oleh Su Xi.
"...." Duan Qing dengan bingung melihat laki-laki berusia hampir setengah abad yang berada dihadapannya ini.
Duan Ye menarik nafas dalam-dalam lalu mengatakan dengan pelan "Bolehkah ayah memelukmu?"
"Hmm.. b..boleh." ujar Duan Qing gugup.
Sudah lama dia tidak merasakan pelukan sang ayah. Dulu dia berpikir ayah yang selama ini selalu memanjakannya adalah ayah kandungnya tapi ternyata bukan. Memikirkannya saja membuat ia merasa pahit.
Pantas saja ketika ia ingin berinteraksi dengan ayahnya lebih lama, ayah selalu saja membuat alasan bahwa dia punya kerjaan yang harus diselesaikan. Mungkin saja ayah sudah merasa muak ditempeli terus olehnya setiap hari.
__ADS_1
"Ayah." lirih Duan Qing sambil balas memeluk Duan Ye. Ternyata begini dipeluk oleh ayah yang mencintaimu. Terasa hangat. Bukan pelukan dingin yang selama ini ia rasakan.
Duan Qing sebenarnya menyadari bagaimana Duan Ye ingin lebih dekat dengannya selama ini, tapi trauma karena pengkhianatan ayah di masa lalunya membuat ia tidak berani mengambil langkah lebih jauh. Alhasil hubungannya dengan Duan Ye malah menjadi dingin.
"Hmm.." balas Duan Ye sambil mengecup puncak kepala Duan Qing.
"Putri ayah. Ayah doain kamu sehat terus ya. Jangan sakit lagi supaya ayah tidak khawatir terus sama kamu." bisik Duan Ye lembut.
Tangisan Duan Qing langsung pecah mendengar kata-kata tulus Duan Ye. Bèntèng kokoh yang dia bangun selama yang ini luluh lantak akibat ketulusan Duan Ye.
"Hiks..hiks.." tangis Duan Qing sambil memeluk Duan Ye dengan erat. Rasa sesak, penderitaan, dan keluhan yang selama ini dia rasakan meluap bagai bendungan yang tidka bisa menampung bebannya lagi.
"Kamu kenapa Qing er?" ujar Duan Ye panik sambil berusaha melepaskan tangan Duan Qing yang memeluknya.
"A..aku nggak papa." balas Duan Qing tersendat-sendat lalu memeluk Duan Ye lebih erat.
"Baiklah. Tidak apa apa Qing er, menangis saja. Ayah selalu ada disini untukmu." hibur Duan Ye.
Duan Ye membiarkannya saja, karena dia tau Duan Qing tidak akan mengatakan yang sebenarnya padanya. Disamping itu dia juga ingin memeluk Duan Qing lebih lama.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu, tapi tangisan Duan Qing tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti yang membuat Duan Ye makin panik.
Duan Ye mengangkat tangan lalu mengisyaratkan tangannya menyuruh Su Xi keluar dari mobil.
"Ada apa Yah." tanya Su Xi bingung lalu bergegas menghampiri Duan Ye.
"Lah Qing er kenapa?" kata Su Xi khawatir melihat putri semata wayangnya itu menangis begitu keras.
Duan Ye mengangkat bahu, menandakan ia juga tidak tau atas pertanyaan Su Xi.
"Ayah marahin Qing er ya?" tuduh Su Xi sambil memelototi Duan Ye.
"Tidak mungkinlah." bantah Duan Ye.
"Kamu kenapa Qing er? Cerita sama ibu." kata Su Xi lembut lalu mengelus punggung Duan Qing.
"......." Duan Qing tidak menjawab, dia masih betah dengan kesedihannya.
"Ayah, gimana kalau kita pulang aja dulu." saran Su Xi.
__ADS_1
"Oke."