
"Lu..Lu Yunhan?" ujar Chen Nirou berseru kaget ketika melihat Lu Yunhan berdiri di ambang pintu.
"Kenapa kamu sangat terkejut?" balas Lu Yunhan sinis.
"Ti..tidak. Aku tidak terkejut." jawab Chen Nirou tergagap. Tapi kenyataannya Chen Nirou cukup terkejut melihat keberadaan Lu Yunhan disini.
"Kenapa kamu kesini?"
"Tentu saja untuk melihat kekacauan yang kau buat." sindir Lu Yunhan dingin sambil memperhatikan sekeliling.
Chen Nirou langsung pucat mendengar sindiran Lu Yunhan.
Dengan bersusah payah, dia kembali ke sikapnya yang biasa. "Aku akan mengambil kursi untukmu." ujar Chen Nirou tersenyum canggung.
Pemuda yang berusia hampir menginjak tiga puluh tahunan itu lari terbirit birit meninggalkan Lu Yunhan sendirian.
"Ini." ujar Chen Nirou sambil menyerahkan sebuah kursi kayu ke arah Lu Yunhan.
"..."
"Ada apa dengan tatapan itu?" kata Chen Nirou takut ketika melihat tatapan Lu Yunhan yang tidak lepas dari kursi. Jika kursi itu benda hidup, mungkin ia sudah mati ratusan kali karena tatapan maut Lu Yunhan.
"Oh iya."
"Aku akan mengelapnya dulu dengan tisu basah." ujar Chen Nirou sambil menyeka permukaan kursi itu.
"Manusia batu. Manusia terkutuk. Aku doakan supaya kamu dapat karma karena tingkah lakumu seperti ini." umpat Chen Nirou dalam hati.
"Sudah." kata Chen Nirou tersenyum palsu, lalu mempersilahkan Lu Yunhan untuk duduk.
Tanpa banyak kata, Lu Yunhan langsung menghempaskan tubuhnya diatas kursi yang diserahkan Chen Nirou.
"Huft.." ujar Chen Nirou menghela nafas lega.
"Benar benar menyebalkan."
"Aku tau kamu mengumpatiku lagi." ujar Lu Yunhan.
Tertangkap basah oleh Lu Yunhan, Chen Nirou dengan cepat menyangkalnya "Tidak." sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Terserah." ujar Lu Yunhan cuek.
"Apakah sudah tertangkap?" tanya Lu Yunhan.
"Sudah. Mereka sedang dalam perjalanan kesini." jawab Chen Nirou.
"Masukkan dia ke ruang bawang tanah hari ini. Aku sudah cukup berbaik hati belakangan ini membiarkan dia tinggal di gudang. Wanita itu benar benar tidak tahu diri."
"Baik."
Habislah riwayat wanita itu. Jika sudah di masukkan ke ruang bawah tanah, mustahil dia bisa keluar hidup hidup, sekurang kurangnya mungkin dia bisa gila.
__ADS_1
Lu Yunhan memang sangat kejam pada musuh musuhnya, tidak peduli dia wanita atau bukan, anak anak ataupun lansia, dimatanya semuanya sama saja. Bila ada yang mengusiknya dia akan membalas nya dua kali lipat.
"Sebaiknya kamu jangan biarkan dia kabur lagi atau tidak kamu yang aku suruh untuk menggantikannya." kata Lu Yunhan dingin.
"Ba..baik." jawab Chen Nirou ketakutan.
"Pak, kami berhasil menangkapnya." ujar salah satu anak buah Chen Nirou.
Mereka lalu mendorong wanita yang sedang ditutupi kain hitam itu ke depan Chen Nirou yang membuat wanita itu jatuh tersungkur.
"Bagus. Bangunkan dia." perintah Chen Nirou.
"Baik pak."
Hening. Suasana yang melingkupi ruangan itu ketika Zhou Lun, salah satu anak buah Chen Nirou membuka kain yang terbungkus di kepala wanita itu.
"S..siapa kamu?"
"......."
Setelah beberapa detik yang menegangkan, suara Lu Yunhan kembali terdengar di gudang kecil itu. "Siapa dia?" tanya Lu Yunhan dengan dingin.
"I..itu." ujar Zhou Lun ketakutan.
Semuanya menundukkan kepala atas pertanyaan Lu Yunhan termasuk Chen Nirou, atasan langsung yang juga ikut bertanggung jawab atas kesalahan anak buahnya.
"B..bos besar, sepertinya kita salah menculik orang." kata Zhou Lun sangat pelan. Bahkan suara nyamuk pun hampir mengalahkan suara Zhou Lun. Untung saja ruangan itu sedang sepi, kalau tidak mungkin suara Zhou Lun hampir tidak terdengar sama sekali.
"B..Bos, tolong maafkan kami."
"...."
"Pak, tolong bantu kami." ujar sekelompok pengawal itu kepada Chen Nirou karena tidak ditanggapi oleh Lu Yunhan.
"Hei, bagaimana aku bisa menyelamatkan kalian, sedangkan nasibku tergantung di atas tali." bisik Chen Nirou kepada bawahannya.
"Kalian serahkan saja pada yang diatas." ratap Chen Nirou sekali lagi.
"Lu Yunhan, pasti marah besar kali ini." batin Chen Nirou.
Tiba tiba saja suara perempuan terdengar di ruangan yang sedang mencekam itu.
"Dimana ini?" kata wanita itu bingung sambil memperhatikan lingkungan disekitarnya.
"S..siapa yang bersuara?"
"Aku rasa dia." jawab Zhou Lun sambil menunjuk Duan Qing yang sedang duduk kebingungan.
"Lu Yunhan, aku pikir dia lebih baik kita buat pingsan saja." saran Chen Nirou ketika melihat Duan Qing sudah bangun.
Lu Yunhan menganggukkan kepalanya atas perkataan Chen Nirou.
__ADS_1
Tepat sebelum anak buah Chen Nirou sempat memukul leher belakang Duan Qing, Duan Qing lebih dulu menyadari situasinya. Dia berbalik lalu memukul kembali anak buah Chen Nirou, lalu bergegas melarikan diri. Tapi sayangnya alam semesta tidak berpihak padanya, pintunya terkunci dan tidak ada satupun cara untuk kabur. Sepertinya anak buah Chen Nirou sudah mempersiapkan semuanya, bila kejadian ini terjadi.
"Yaa.. kalian mau apa?" kata Duan Qing panik.
"Tenang oke!"
"Kami tidak ingin mencelakaimu, kami hanya ingin membuatmu pingsan sebentar saja."
"Bodoh. Kenapa kamu mengatakan yang sebenarnya." kata Zhou Lun sambil memukul kepala temannya itu.
"Iya..ya." ujarnya sambil nyengir.
"Kau memang bodoh."
"Biar aku saja. Cepat bawakan obat bius yang ada di tasku." suruh Zhou Lun kepada temannya.
"Baik."
"Ka..kamu jangan mendekat!" ujar Duan Qing ketakutan. Duan Qing terus melangkah mundur karena menghindar dari Zhou Lun, tanpa ia sadari kalau ia sudah mendekat ke arah iblis.
"Aaah." rintih Duan Qing ketika merasakan punggungnya kesakitan karena terbentur sesuatu.
"Apa itu? Aku seperti menabrak tembok, tapi sepertinya juga bukan." ujar Duan Qing kebingungan.
Tentu saja itu bukan tembok, tetapi itu adalah manusia.
Duan Qing lalu membalikkan badannya ke belakang. Didepannya dia melihat tubuh laki laki yang terbalut kemeja putih.
"Ooh, jadi ini yang menabrak ku." kata Duan Qing sambil meraba raba dada Lu Yunhan. "Pantas saja sakit, ternyata sekeras ini." ujarnya lagi sambil menekannya dengan jari telunjuk.
"Kamu cari mati."
Suara dingin tiba tiba terdengar dari atas kepalanya. Duan Qing memberanikan diri mendongakkan kepalanya ke atas.
"......"
Tercengang satu kata yang dapat menggambarkan eksperesi Duan Qing saat ini. Mulutnya membentuk huruf o dikuti dengan kedua matanya yang terbuka lebar.
"Tunggu apa lagi? Kenapa kalian tidak membiusnya?" kata Lu Yunhan.
"B..baik."
Ternyata bukan hanya Duan Qing yang bersikap seperti itu, melainkan semua yang ada di ruangan. Mereka kaget karena Duan Qing, wanita pertama yang berani melecehkan Lu Yunhan seperti itu tapi Lu Yunhan tidak mengambil tindakan sama sekali. Biasanya jika ada yang memperlakukannya seperti itu, Lu Yunhan tidak akan menunjukkan belas kasihan sama sekali. Dia langsung saja menendangnya tanpa pandang bulu.
"Cepat!"
"Y..ya"
Zhou Lun segera menyuntikkan obat bius ke Duan Qing dari belakang.
Di tengah ambang kesadarannya, samar samar Duan Qing mengatakan "Apakah kamu manusia?"
__ADS_1