Reinkarnasi Dari Abu

Reinkarnasi Dari Abu
KABUR


__ADS_3

"aaaah..." teriak Duan Qing frustasi. Perempuan berambut pendek itu menghentak hentakkan kakinya pertanda ia kesal.


"uuuh.. aku bosan." ujarnya lagi sambil mengacak acak rambut hitamnya. Dokter tidak memperbolehkannya pulang dan sepertinya Su Xi juga melarang dia meninggalkan rumah sakit. Tapi jika seperti ini terus menerus, Duan Qing merasa dia akan mati karena bosan.


"Kurasa punggungku mulai jamuran, karena berbaring ditempat tidur setiap hari." gumamnya kesal.


Duan Qing sudah membujuk Su Xi dengan berbagai macam cara. Mulai dari menangis, berteriak, berpura pura sakit, tapi tidak ada yang mempan. Malahan jika berakting sedih Su Xi sepertinya yang lebih handal. Dia termakan dengan tangisan palsu Su Xi hanya dengan beberapa saat.


Tapi yang membuatnya bingung kenapa Su Xi melarangnya keluar dari rumah sakit. Apakah terjadi sesuatu di rumah? Itu yang membuatnya penasaran dan ingin meninggalkan rumah sakit ini secepat mungkin.


"Aku ingin sekali keluar, tapi bagaimana caranya?" kata Duan Qing sambil mondar mandir di depan jendela. Dia tau ibunya yang meminta dokter untuk tidak memperbolehkannya pulang, karena perawat yang merawatnya sempat keceplosan dan mengatakannya ketika ia berbincang beberapa hari yang lalu.


"Ada apa denganmu, Nak?" ujar Su Xi bingung melihat Jian Qing berjalan mondar mandir.


"Omo. Ibu mengagetkanku." kata Duan Qing berseru kaget. Dia memegangi dadanya karena nafasnya yang mulai tidak beraturan.


Melihat itu, Su Xi dengan cepat menghampiri Dua Qing. "Hembuskan.. buang.. hembuskan.. buang." ujar Su Xi sambil mengusap punggung Duan Qing dengan pelan.


"huuh.. haah."


"Oke, pintar. Lakukan lagi seperti tadi."


"huuh.. haah."


Setelah beberapa saat, nafas Duan Qing mulai kembali normal. Melihat itu, Su Xi menghembuskan nafas lega. Walaupun sudah berkali kali dihadapkan situasi seperti ini, dia tetap saja masih gugup.

__ADS_1


"Ibu, aku baik baik saja." hibur Duan Qing melihat kekhawatiran di mata Su Xi. Walaupun masih terasa sedikit sakit di bagian dadanya, tapi ia merasa masih bisa menahannya setelah melihat tatapan gugup Su Xi.


"Ayo, ibu akan membantumu berbaring." kata Su Xi sambil memapah Duan Qing ke tempat tidur.


"Ibu.."


"Ada apa Qing er?" ujar Su Xi sambil menyerahkan sepotong apel kepada Duan Qing.


"Kapan aku boleh pulang?" tanya Duan Qing di sela sela makannya.


"Kita tunggu instruksi dari dokter ya." jawab Su Xi tanpa menoleh ke arah Duan Qing karena dia sibuk sedang mengupas apel.


"Aish, aku sudah tau jawabannya akan seperti ini." batin Duan Qing.


"Apa Qing er?"


"Tidak ada apa apa kok, Bu." jawab Duan Qing.


"Baiklah." balas Su Xi sambil mengangkat bahu.


"drrrrt.." Bunyi nada dering telpon mulai terdengar dari tas tangan Su Xi. Su Xi langsung menghampiri tasnya dan mengangkat telponnya yang sejak tadi berdering.


"Halo.. Oke... Baiklah.." gumam Su Xi di sela sela telponnya.


"Uhm.. kamu nggak papakan ibu tinggal sebentar, ibu soalnya ada urusan."

__ADS_1


"Nggak papa kok." ujar Duan Qing sambil tersenyum menandakan ia tidak keberatan.


"Nanti ayah jam dua kesini kok." kata Su Xi sambil melihat arloji putih yang melingkari pergelangan tangannya.


"Iya bu. Ya udah ibu pergi sana aja, nanti terlambat lho." saran Duan Qing.


"Okelah. Kalau begitu ibu pergi dulu ya." kata Su Xi sambil mengelus pelan kepala Duan Qing.


"Uhm." ujar Duan Qing sambil menganggukkan kepalanya.


"Sana Bu." kata Duan Qing ketika melihat Su Xi masih memperhatikannya di depan pintu.


"Oke, ibu pergi." jawab Su Xi pasrah.


Lingkungan kembali hening setelah kepergian Su Xi. Yang ada hanya suara kunyahan Duan Qing yang sedang makan apel.


"Apa aku pergi diam diam saja ya? Cuman sebentar aja kok, nanti aku bakalan balik sebelum ayah datang." kata Duan Qing setelah beberapa menit berlalu.


"Oke, fix aku pergi. Aku hanya penasaran seperti apa kota ini." gumamnya lagi ketika ia merasa tekadnya cukup kuat.


Duan Qing lalu meletakkan tumpukan bantal di atas tempat tidurnya dan menutupinya dengan selimut supaya bisa mengelabui Nona Xi, perawat yang merawatnya selama ini.


"Semoga ini berguna. Untung saja tadi aku memberi tahunya untuk tidak mengantar makan siang, jadi dia tidak akan kesini."


Duan Qing mulai mengendap ngendap berjalan keluar dari bangsal setelah mengganti pakaiannya yang berada di dalam lemari. Untung Su Xi juga membawakan pakaian rumahannya dan membantu rencana kaburnya.

__ADS_1


__ADS_2