
"Terus siapa?" gumam Qian Rou.
"Jangan-jangan itu ayah, Bu?" tebak Jian Yu ketakutan.
"Sembarangan kamu. Mana mungkin ayahmu mengetahuinya karena kita sudah membuatnya koma selama satu minggu." ujar Qian Rou yakin.
"Benar juga, Bu."
"Jika kita melihat sikap ayahmu belakangan ini, dia tidak berubah banyak. Selain murung karena kematian wanita itu, tidak ada hal yang aneh terjadi."
"Hmm.. aku lega mendengarnya."
"Sudahlah, yang penting kamu harus mencari Jian Qing sekarang baik hidup atau mati." kata Qian Rou.
"Baik Bu." balas Jian Yu.
***
"Qing'er, bangun!" ujar Su Xi sambil menggoyang-goyangkan badan Duan Qing, tapi orang yang di bangunkan tidak kunjung membuka matanya sama sekali. Dia hanya menggeliat badannya lalu tidur kembali.
"Ibu.." rengek Duan Qing, karena kesal tidurnya di ganggu oleh Su Xi.
"Qing'er kamu sudah seharian tidur. Ini sudah jam 2 siang, masa' kamu masih mau tidur." kata Su Xi keras.
"Apa?" ujar Duan Qing berseru kaget hingga langsung membuat ia terduduk di tempat tidurnya.
"Yang benar aja, Bu." kata Duan Qing tidak percaya.
"Nih liat!" kata Su Xi sambil menyodorkan tangannya yang di lingkari jam tangan berwarna putih.
"Ibu, kenapa aku nggak dibangunin?" protes Duan Qing kesal.
"Ayah yang nyuruh ibu nggak bangunin kamu."
"......."
Duan Qing tidak bisa berkutik jika nama Duan Ye disebut didalamnya. Dia hanya terdiam dan tidak berani membantah perkataan Su Xi lagi.
__ADS_1
"Dah, kamu mandi sana! Malah bengong disini." kata Su Xi.
"Iya Bu." jawab Duan Qing lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi.
"Ibu tunggu kamu di bawah ya!"
"Ya." balas Duan Qing.
Lima belas menit kemudian, Duan Qing melangkah keluar dari kamar mandi. Wangi aroma lavender menyeruak dari tubuhnya karena sabun mandi yang dia pakai. Satu hal lagi yang dia tau, ternyata aroma kesukaannya sama dengan pemilik asli yaitu sama-sama menyukai aroma lavender.
Dengan bingung, Duan Qing melangkahkan kakinya menuju ruang ganti pemilik asli. Di sana dia melihat berbagai macam koleksi pemilik asli, mulai dari tas, baju, sepatu, jam tangan, bahkan kosmetik merupakan barang-barang dari brand terkenal. Jika dibandingkan dengan barang-barangnya yang dulu dia miliki, memang masih kalah jauh.
"Kenapa baju pemilik asli rata-rata sangat terbuka?" kata Duan Qing sambil memegang dress mini hitam yang hanya bisa menutupi bokongnya itu.
"Apa-apaan ini? Tidak ada yang bisa layak untuk dipakai." ujar Duan Qing jengkel.
"Cara berpakaiannya saja seperti ini, wajar saja banyak yang tidak menyukai pemilik asli. Umurnya padahal masih muda, tapi dia sudah berdandan layaknya wanita dewasa. Aku mengerti sekarang kenapa banyak yang tidak menyukai pemilik asli."
"Lagipula tubuh pemilik asli sangat rentan, apa dia tidak takut penyakitnya kambuh? Siapapun yang melihatnya tidak akan mengira dia orang yang sakit-sakitan?" ujar Duan Qing bingung, karena tidak mengerti dengan jalan pikiran pemilik asli.
"Aku harus membuang pakaian ini." kata Duan Qing lalu menurunkan baju yang menurutnya tidak layak di pakai itu.
"Nah, ketemu." kata Duan Qing berseru senang ketika melihat setelan olahraga yang terdiri dari jaket dan celana panjang berwarna hitam putih itu. Dia langsung bergegas mengganti pakaiannya.
"Kurasa ini cukup bagus." ujarnya sambil membolak balikkan badannya di depan cermin.
"Udara di kota F tergolong cukup dingin, aku mungkin tidak bisa memakai pakaian yang di gunakan oleh pemilik asli. Lagipula memakai pakaian terbuka bukanlah hal yang ku sukai."
Setelah berganti pakaian yang pantas, Duan Qing bergegas turun ke lantai bawah karena perutnya juga sudah mulai keroncongan minta di isi.
Tapi di tengah jalan suara Su Xi membuat ia menghentikan langkahnya.
"Stop, Qing er. Jangan turun ke lantai bawah dulu." ujar Su Xi di tengah-tengah tangga.
"Lah emang kenapa Bu?" ujar Duan Qing bingung ketika melihat raut wajah panik Su Xi.
"Itu..itu.. pokoknya kamu nggak boleh ke lantai bawah." tegas Su Xi.
__ADS_1
"Baiklah." kata Duan Qing patuh.
"Qing er, pokoknya kamu nggak boleh ketemu sama Fu Yansheng. Bagaimana kalau kamu jatuh cinta lagi sama tu orang? Berarti usaha ibu selama ini sia-sia terus menahanmu di rumah sakit. Bukannya ibu tidak percaya denganmu, tapi ibu hanya takut kamu juga tidak bisa mengendalikan perasaanmu karena kamu menggunakan tubuh Qing er yang jatuh cinta dengan Fu Yunsheng." batin Su Xi.
"Siapa yang di lantai bawah, emangnya Bu? Sampai-sampai ibu jadi panik begitu, tidak mungkin selingkuhan nya ayah kan?" canda Duan Qing lalu menaiki tangga kembali.
"......"
"Qing'er..."
Tiba tiba saja suara laki-laki terdengar dari bawah tangga. Duan Qing sontak membalikkan badannya ke arah suara itu.
Di sana dia melihat laki-laki mengenakan kemeja berwarna putih yang di pasangkan dengan celananya yang berwarna coklat tua. Rambutnya dibelah menjadi dua, khasnya Oppa-oppa Korea. Matanya sipit dan ada tahi lalat di bawah matanya. Hidungnya mancung, kulitnya berwarna kuning langsat dan tingginya sekitar 170 cm. Penampilannya bahkan sangat layak dibandingkan dengan idola.
"Itu kamu kan? Kata bibi, kamu masih di rumah sakit." kata Fu Yunsheng berseru senang lalu melangkah mendekati Duan Qing.
"....." Duan Qing termangu di tempatnya ketika melihat Fu Yunsheng mulai menghampirinya.
"Pantas saja pemilik asli sampai jungkir balik mencintai ni orang, aku yang bahkan bertemu dengannya sekali sampai tak berkutik di bawah tatapannya." batin Duan Qing.
"Aku sudah berhari hari mencarimu, tapj kamu tidak juga ada di rumah."
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Qing er? Apakah sudah membaik? Aku ingin sekali mengunjungimu, tapi bibi tidak memperbolehkanku menjengukmu sama sekali. Aku sangat minta maaf!" kata Fu Yunsheng lembut sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Tidak apa apa. Ada apa kamu mencariku?" ujar Duan Qing tegas.
"Huh, hampir saja aku percaya dengan perkataannya. Untung saja kalau aku sudah mengetahui sifat aslinya selama ini, kalau tidak mungkin aku sudah mempercayai semua ucapannya." batin Duan Qing jengkel.
Pemilik asli juga sudah mengetahui kalau Fu Yunsheng selingkuh dan tidak membuatnya tersiksa dengan perasaan mencintai. Yang ada mungkin hanya rasa sedih karena di khianati. Itu hal yang bisa ditanggungnya. Jika itu cinta, itu merupakan hal yang sangat merepotkan karena dia sendiri belum pernah mengalaminya.
"Qing'er, tolong jangan batalkan pertunangan kita, oke! Aku masih mencintaimu." mohon Fu Yunsheng.
"Aku tidak bisa."
"Kenapa Qing'er? Apa salahku? Selama ini hubungan kita baik-baik saja, kenapa kamu tiba-tiba membatalkannya seperti ini?"
"Tidak ada alasan. Aku tidak mencintaimu lagi." jawab Duan Qing.
__ADS_1
"Tidak mungkin kamu tidak menyukaiku lagi. Aku tidak percaya." balas Fu Yunsheng sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Ooh, aku tau. Apa kamu marah karena aku tidak menjenguk mu di rumah sakit? Bukankah aku sudah mengatakan alasannya tadi? Bibi selalu menghadangku untuk menjengukmu di rumah sakit, telponmu juga tidak aktif, bagaimana aku bisa menghubungimu?"